Tag Archives: opini

Kartini Bukan Pejuang Emansipasi

Andi Perdana G

Jakarta – Tangal 21 April bagi wanita Indonesia adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi, sayangnya peringatan tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang diperjuangkan Kartini (misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau bersanggul, lomba masak, dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi perempuan).

Suara emansipasi pun terasa lebih kuat pada bulan April karena Kartini dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita. Terlepas dari keterlibatan RA Kartini sebagai pejuang dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia emansipasi sebenarnya diilhami dari gerakan feminisme di Barat. Pada abad ke-19 muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women’s Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita). Gerakan yang berpusat di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak serta menghendaki adanya kemandirian dan kebebasan bagi perempuan.

Pada tahun 1960 isu feminisme berkembang di AS. Tujuannya adalah menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik (rumah tangga) merupakan hal yang tidak produktif. Kemunculan isu ini karena diilhami oleh buku karya Betty Freidan berjudul The Feminine Mystique (1963). Freidan mengatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya. Ide virus peradaban ini kemudian terus menginfeksi tubuh masyarakat dan ‘getol’ diperjuangkan oleh orang-orang feminis.

Dalam perjuangannya orang-orang feminis seringkali menuduh Islam sebagai penghambat tercapainya kesetaraan dan kemajuan kaum perempuan. Hal ini dilakukan baik secara terang-terangan maupun ‘malu-malu’. Tuduhan-tuduhan ‘miring’ yang sering dilontarkan antara lain peran domestik perempuan yang menempatkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dianggap sebagai peran rendahan. Busana muslimah yang seharusnya digunakan untuk menutup aurat dengan memakai jilbab (QS Al-Ahzab: 59) dan kerudung (QS An-Nur: 31) dianggap mengungkung kebebasan berekspresi kaum perempuan.

Lalu benarkah RA Kartini dalam sejarahnya merupakan pahlawan emansipasi sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis?

Andai Kartini Masih Hidup

Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, RA Kartini saat itu menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki. Tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur pada saat itu yaitu mengubah masyarakat. Khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan. Juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902 yang isinya,

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Menurut Kartini ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Dalam buku tersebut Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah sedikit mengenal Islam. Pemikiran Kartini pun berubah, yakni ingin menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Kita dapat menyimak pada komentar kartini ketika bertanya pada gurunya, Kyai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut:

“Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran dalam Bahasa Jawa? Bukankah Al Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”.

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya memuat, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Selain itu Kartini mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban. Bahkan ia sangat membenci Barat. Hal ini diindikasikan dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

Selanjutnya di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pada saat Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al Quran melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), ” … mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS Al Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya. Di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam. Bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis.

Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis jender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini. Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan, dan kesetaraan jender.

Refleksi perjuangan Kartini saat ini sangat disayangkan karena banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita. Agar mereka beranggapan bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri yaitu perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita.

Selengkapnya.. http://suarapembaca.detik.com/read/2010/04/21/080801/1342265/471/kartini-bukan-pejuang-emansipasi?882205470

Advertisements
Tagged

Siapa Salafi?

Siapa Salafi?
Katagori : Untold Story / the X files
Oleh : Redaksi 09 Jul 2007 – 11:20 pm
Kolom bertitel “Salafi Mesti Berani” tulisan Ja’far Umar Thalib (JUT), yang dimuat majalah Gatra edisi 20 Juni lalu, menarik dicermati. Jika logika JUT ini dilanjutkan, maka yang tergolong teroris daftarnya akan cukup panjang dan mengejutkan. Hal ini sudah dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Dalam pandangan Luqman, yang tergolong teroris adalah mereka yang dikenal umat Islam pada umumnya sebagai mujahid, seperti Syekh Ahmad Yasin, Rantisi, Hassan al-Banna, Sayyid Qutb, Khattab, Abdullah Azzam, Zarqawi, serta para syuhada lainnya. Apakah Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, Omar Abdurrahman, Al-Muhajeer, Kholid Misy’al adalah teroris? Apa pula argumen yang dibangun dalam memvonis mereka sebagai teroris? Karena itu, apa yang ditulis JUT di Gatra dengan titel “Salafi Mesti Berani” itu betul. Jangan cuma berani bicara di majelisnya sendiri. Dialog terbuka untuk mengkaji definisi, metode, dan amaliah salafi perlu digelar.
Kolom bertitel “Salafi Mesti Berani” tulisan Ja’far Umar Thalib (JUT), yang dimuat majalah Gatra edisi 20 Juni lalu, menarik dicermati. Poinnya, JUT merasa jengah ketika laskar Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melabrak tempat pengajian kelompok salafi di Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pengajian yang mestinya membawa kesejukan itu berubah mencaci maki MMI dan mengkhawarijkan amirnya, Ustad Abu Bakar Ba’asyir.
Kelompok salafi di Grogol itu memprotes berita yang dimuat majalah Risalah Mujahidin (RM) edisi 7 (April 2007) halaman 42, berjudul “Mengenal Agen Mossad dalam Gerakan Islam”. Berita itu dianggap melecehkan kelompok salafi. Itulah klaim Ayip Syaifuddin, pengajar Pesantren Daarus Salafi dan Abu Karimah Asykary yang bertindak sebagai penceramah acara “Membongkar Kedustaan Risalah Mujahidin”.
Sebenarnya ada dua hal yang secara substansi perlu mendapat tanggapan. Pertama, dalam memahami makna salafi. Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Wajib atasmu mengikuti sunahku dan sunah khulafaur-rasyidin al-mahdiyin….” Imam Muslim dan Bukhari juga meriwayatkan hadis yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, “Sebaik-baiknya zaman bagi kalian adalah zamanku ini, kemudian selanjutnya zaman yang mengikuti mereka, kemudian selanjutnya lagi zaman yang mengikuti mereka.” Salafiyah terkait dengan kualitas ahl salaf atau salafush-shalih (generasi terdahulu yang salih) melekat dengan kehidupan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in.
Jadi, salafush-shalih adalah para sahabat RA dan siapa saja yang mengikuti cara dan jalan mereka di antara para tabi’in yang mengikuti mereka pada tiga abad masa Islam yang pertama, yang telah disaksikan kebaikan mereka. Namun tidak ada satu pun nash yang membolehkan kita memutlakkan diri sendiri sebagai yang paling salafi, karena sifat-sifat kita belum teruji. Misalnya dengan membuat Yayasan Ihya as-Sunnah, Ihya at-Turats, Ihya as-Salafi, dan Daarus-Salafi belum tentu salafi. Adalah Abdullah bin Mas’ud pernah berujar, “Jamaah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, walau engkau seorang diri.”
Kedua, definisi khawarij. Dalam sejarahnya, kaum khawarij adalah mereka yang tidak terima dengan keputusan Khalifah Ali RA berdamai (tahkim) dengan Muawiyah. Kemudian khawarij membunuh Ali RA. Sekarang istilah khawarij itu oleh JUT ditujukan kepada siapa pun yang dianggap tidak loyal kepada pemerintah yang sah. Dalam konteks Indonesia, siapa pun yang tidak patuh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) masuk dalam kategori khawarij. Alasannya, karena SBY-JK adalah ulil amri, pemerintah Islam. Walau tidak menerapkan hukum Islam, mereka masih salat, maka harus ditaati.
Lalu, bagaimana dengan ulah JUT sendiri yang pada tahun 2000 meminta izin pada Presiden Abdurrahman Wahid untuk berjihad ke Ambon dan tidak diperbolehkan, tetapi JUT dan Laskar Jihad-nya nekat berangkat ke Ambon? Bukankah itu tindakan khawarij?
Kalau mengikuti logika tersebut, maka Ibnu Taimiyah adalah khawarij. Ini karena Ibnu Taimiyah menentang pemerintah penjajah Holako yang berhasil menguasai Irak pada masa khilafah Abbasiyah. Holako itu muslim, bahkan memberi kebebasan pada rakyat Irak untuk bersyariat Islam, tetapi justru diperangi oleh Imam Ibnu Taimiyah, sehingga beliau dipenjara di Damaskus sampai menjemput syahidnya.
Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang membangkang (bughat) dari kekhilafahan Turki Utsmani, lalu mendirikan Kerajaan Arab Saudi sekarang, bersama keluarga Ibnu Saud. Mengapa JUT dan kelompok salafinya tidak berani mengkhawarijkan kedua imam salafush-shalih tersebut? JUT hanya berani menempatkan Ustad Abu Bakar Ba’asyir sebagai khawarij, bahkan menyebutnya sebagai teroris bersama para tersangka teroris yang ditangkap Densus 88.
Jika logika JUT ini dilanjutkan, maka yang tergolong teroris daftarnya akan cukup panjang dan mengejutkan. Hal ini sudah dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Dalam pandangan Luqman, yang tergolong teroris adalah mereka yang dikenal umat Islam pada umumnya sebagai mujahid, seperti Syekh Ahmad Yasin, Rantisi, Hassan al-Banna, Sayyid Qutb, Khattab, Abdullah Azzam, Zarqawi, serta para syuhada lainnya.
Pertanyaan berikutnya, apakah Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, Omar Abdurrahman, Al-Muhajeer, Kholid Misy’al adalah teroris? Apa pula argumen yang dibangun dalam memvonis mereka sebagai teroris?
Karena itu, apa yang ditulis JUT di Gatra dengan titel “Salafi Mesti Berani” itu betul. Jangan cuma berani bicara di majelisnya sendiri. Dialog terbuka untuk mengkaji definisi, metode, dan amaliah salafi perlu digelar. Mengklaim sebagai salafi, sementara metode dakwahnya jauh dari kesejukan, hanya akan membuat umat menjadi bingung.
Dengan adanya dialog itu, selain mengurangi fitnah antarkomunitas, umat akan mendapatkan pencerahan. Siapa salafi yang sebenarnya, umatlah yang akan menilainya.
Fauzan Al-Anshari
Mantan Pemred Risalah Mujahidin
[Kolom, Gatra Nomor 34 Beredar Kamis, 5 Juli 2007]

Malam kemarin saya melihat dialog tentang Terorisme di TV dengan narasumber Ust Ja’far Umar Thalib. Saya agak terkejut dengan pernyataannya yang dengan amat meyakinkan memvonis ideologi para teroris yang melakukan pengeboman di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, berakar dari pemahaman Sayyid Qutb.

Benarkah demikian?

Berikut ini artikel Ust Fauzan yang saya kutip dari Swaramuslim kiranya dapat memberikan pencerahan.

Oleh : Redaksi 09 Jul 2007 – 11:20 pm

Kolom bertitel “Salafi Mesti Berani” tulisan Ja’far Umar Thalib (JUT), yang dimuat majalah Gatra edisi 20 Juni lalu, menarik dicermati. Jika logika JUT ini dilanjutkan, maka yang tergolong teroris daftarnya akan cukup panjang dan mengejutkan. Hal ini sudah dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Dalam pandangan Luqman, yang tergolong teroris adalah mereka yang dikenal umat Islam pada umumnya sebagai mujahid, seperti Syekh Ahmad Yasin, Rantisi, Hassan al-Banna, Sayyid Qutb, Khattab, Abdullah Azzam, Zarqawi, serta para syuhada lainnya. Apakah Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, Omar Abdurrahman, Al-Muhajeer, Kholid Misy’al adalah teroris? Apa pula argumen yang dibangun dalam memvonis mereka sebagai teroris? Karena itu, apa yang ditulis JUT di Gatra dengan titel “Salafi Mesti Berani” itu betul. Jangan cuma berani bicara di majelisnya sendiri. Dialog terbuka untuk mengkaji definisi, metode, dan amaliah salafi perlu digelar.

Kolom bertitel “Salafi Mesti Berani” tulisan Ja’far Umar Thalib (JUT), yang dimuat majalah Gatra edisi 20 Juni lalu, menarik dicermati. Poinnya, JUT merasa jengah ketika laskar Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melabrak tempat pengajian kelompok salafi di Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pengajian yang mestinya membawa kesejukan itu berubah mencaci maki MMI dan mengkhawarijkan amirnya, Ustad Abu Bakar Ba’asyir.

Kelompok salafi di Grogol itu memprotes berita yang dimuat majalah Risalah Mujahidin (RM) edisi 7 (April 2007) halaman 42, berjudul “Mengenal Agen Mossad dalam Gerakan Islam”. Berita itu dianggap melecehkan kelompok salafi. Itulah klaim Ayip Syaifuddin, pengajar Pesantren Daarus Salafi dan Abu Karimah Asykary yang bertindak sebagai penceramah acara “Membongkar Kedustaan Risalah Mujahidin”.

Sebenarnya ada dua hal yang secara substansi perlu mendapat tanggapan. Pertama, dalam memahami makna salafi. Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Wajib atasmu mengikuti sunahku dan sunah khulafaur-rasyidin al-mahdiyin….” Imam Muslim dan Bukhari juga meriwayatkan hadis yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, “Sebaik-baiknya zaman bagi kalian adalah zamanku ini, kemudian selanjutnya zaman yang mengikuti mereka, kemudian selanjutnya lagi zaman yang mengikuti mereka.” Salafiyah terkait dengan kualitas ahl salaf atau salafush-shalih (generasi terdahulu yang salih) melekat dengan kehidupan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in.

Jadi, salafush-shalih adalah para sahabat RA dan siapa saja yang mengikuti cara dan jalan mereka di antara para tabi’in yang mengikuti mereka pada tiga abad masa Islam yang pertama, yang telah disaksikan kebaikan mereka. Namun tidak ada satu pun nash yang membolehkan kita memutlakkan diri sendiri sebagai yang paling salafi, karena sifat-sifat kita belum teruji. Misalnya dengan membuat Yayasan Ihya as-Sunnah, Ihya at-Turats, Ihya as-Salafi, dan Daarus-Salafi belum tentu salafi. Adalah Abdullah bin Mas’ud pernah berujar, “Jamaah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, walau engkau seorang diri.”

Kedua, definisi khawarij. Dalam sejarahnya, kaum khawarij adalah mereka yang tidak terima dengan keputusan Khalifah Ali RA berdamai (tahkim) dengan Muawiyah. Kemudian khawarij membunuh Ali RA. Sekarang istilah khawarij itu oleh JUT ditujukan kepada siapa pun yang dianggap tidak loyal kepada pemerintah yang sah. Dalam konteks Indonesia, siapa pun yang tidak patuh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) masuk dalam kategori khawarij. Alasannya, karena SBY-JK adalah ulil amri, pemerintah Islam. Walau tidak menerapkan hukum Islam, mereka masih salat, maka harus ditaati.

Lalu, bagaimana dengan ulah JUT sendiri yang pada tahun 2000 meminta izin pada Presiden Abdurrahman Wahid untuk berjihad ke Ambon dan tidak diperbolehkan, tetapi JUT dan Laskar Jihad-nya nekat berangkat ke Ambon? Bukankah itu tindakan khawarij?

Kalau mengikuti logika tersebut, maka Ibnu Taimiyah adalah khawarij. Ini karena Ibnu Taimiyah menentang pemerintah penjajah Holako yang berhasil menguasai Irak pada masa khilafah Abbasiyah. Holako itu muslim, bahkan memberi kebebasan pada rakyat Irak untuk bersyariat Islam, tetapi justru diperangi oleh Imam Ibnu Taimiyah, sehingga beliau dipenjara di Damaskus sampai menjemput syahidnya.

Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang membangkang (bughat) dari kekhilafahan Turki Utsmani, lalu mendirikan Kerajaan Arab Saudi sekarang, bersama keluarga Ibnu Saud. Mengapa JUT dan kelompok salafinya tidak berani mengkhawarijkan kedua imam salafush-shalih tersebut? JUT hanya berani menempatkan Ustad Abu Bakar Ba’asyir sebagai khawarij, bahkan menyebutnya sebagai teroris bersama para tersangka teroris yang ditangkap Densus 88.

Jika logika JUT ini dilanjutkan, maka yang tergolong teroris daftarnya akan cukup panjang dan mengejutkan. Hal ini sudah dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Dalam pandangan Luqman, yang tergolong teroris adalah mereka yang dikenal umat Islam pada umumnya sebagai mujahid, seperti Syekh Ahmad Yasin, Rantisi, Hassan al-Banna, Sayyid Qutb, Khattab, Abdullah Azzam, Zarqawi, serta para syuhada lainnya.

Pertanyaan berikutnya, apakah Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, Omar Abdurrahman, Al-Muhajeer, Kholid Misy’al adalah teroris? Apa pula argumen yang dibangun dalam memvonis mereka sebagai teroris?

Karena itu, apa yang ditulis JUT di Gatra dengan titel “Salafi Mesti Berani” itu betul. Jangan cuma berani bicara di majelisnya sendiri. Dialog terbuka untuk mengkaji definisi, metode, dan amaliah salafi perlu digelar. Mengklaim sebagai salafi, sementara metode dakwahnya jauh dari kesejukan, hanya akan membuat umat menjadi bingung.

Dengan adanya dialog itu, selain mengurangi fitnah antarkomunitas, umat akan mendapatkan pencerahan. Siapa salafi yang sebenarnya, umatlah yang akan menilainya.

Fauzan Al-Anshari

Mantan Pemred Risalah Mujahidin

[Kolom, Gatra Nomor 34 Beredar Kamis, 5 Juli 2007]

Tagged

Jurnalisme Teror II: Agar Aktivis menjadi Hedonis

Sebuah tayangan televisi pada 14 Februari lalu membuat saya tercengang. Komedian yang sedang terbaring sakit, Pepeng–pembawa acara Kuis JariJari— diberi hadiah Valentine oleh pembawa acara Espresso di ANTV. Keterkejutan saya karena hadiah tersebut adalah Al Qur’an.

Ini merupakan bentuk “kecanggihan” orang/kelompok/organisasi yang berusaha menghancurkan Islam secara halus. Betapa tidak, Al Qur’an, sebuah Kitab Suci yang berisikan wahyu Allah, “dinistakan” dengan cara dijadikan sebagai hadiah pada acara Valentine yang bermuasal dari agama paganisme. Hak dan batil dicampuradukkan. Cara itu menggiring opini pemirsa yang mayoritas umat Islam, bahwa Valentine itu kompatibel dengan Islam. Toh, Al Qur;’an dijadikan sebagai gift. Luar biasa halusnya.

Cara halus mereka–yang tentu saja telah dilakukkan lebih dari seratus tahun– telah berhasil. Contoh kecil tapi menyedihkan: Di hari yang sama, vokalis band terkemuka (antara Radja dan Pasha Ungu) yang istrinya melahirkan tepat pada Hari Valentine, menamakan anaknya: Muhammad Valentino. “Muhammad itu nama Nabi, dan Valentino sebagai bentuk untuk mengingat hari kasih sayang,” kata mereka.

Kisah enam bulan lalu itu saya angkat kembali untuk mengingatkan, betapa media–cetak apalagi elektronik– memiliki kekuatan dahsyat untuk membentuk opini, mengubah mind-set, dan membentuk budaya. Ingat kata futurolog Alvin Toffler. “Abad 21 adalah era informasi. Siapa yang menguasai informasi, maka akan menguasai dunia.”

Satu bulan terakhir ini—setelah Marriot dan Ritz Carlton meledak—sesungguhnya kita tengah digiring oleh hampir seluruh media untuk sependapat bahwa: teroris itu Islam; teroris itu berjanggut, bercadar dan dari pesantren; teroris itu ahli bekam dan herbal; teroris itu aktifis masjid; teroris itu orang yang pernah ke Poso, Ambon dan Afghanistan. Tak percaya?

Lihat saja bagaimana para jurnalis itu beraksi. Koran Tempo kerap kali menampilkan foto para tersangka teroris dengan wajah khas para aktivis Islam: berjanggut, bersorban dan lainnya. Pernah, dalam headlinenya—salah satu koran yang juga bersemangat menentang UU Pornoaksi– itu menulis pemikat beritanya dengan sangat tendensius dan stigmatif. “Ia ahli bekam dan pengobatan herbal,” tulisnya menunjuk pada sosok Syaifudin Zuhri, ustadz yang menurut mereka merupakan teroris.

Setali tiga uang dengan media elektronik. Mereka– TV One, Metro TV, SCTV, ANTV, RCTI—tak bosan-bosannya menampilkan wawancara dengan para keluarga yang diduga teroris. Perhatikan apa yang terlihat dalam gambar! Para anggota keluarga itu, memakai simbol-simbol kekaffahan seorang muslim saat diwawancarai: berjilbab, bersarung, bercadar dan berbaju gamis. Visual itu seolah ingin mengatakan: Ini loh, orang-orang yang berjilbab itu sesungguhnya sumber lahirnya teroris.

Konspirasi

Anda pernah menyaksikan film “Conspiracy Theory”, yang dibintangi Mel Gibson dan Julia Roberts. Film yang dirilis tahun 1997 itu menceritakan tentang seorang maniak teori konspirasi bernama Jerry Fletcher (Mel Gibson) yang bekerja sebagai sopir taksi.

Pria tampan berpenampilan cuek tapi terlihat cerdas tersebut memiliki kekasih bernama Alice Sutton (Julia Roberts) yang bekerja untuk pemerintah. Jerry yang sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah memiliki teori yang disebutnya Conspiracy Theory atas dugaan pembantaian yang dilakukan oleh beberapa tokoh politikus. Ternyata, tanpa diduga salah satu teori Jerry menjadi kenyataan.

Jerry pun diburu oleh sekelompok orang asing atas suruhan politikus yang terlibat dalam teori konspirasi tersebut. Bahkan Jerry harus dibunuh sebelum teori itu menjadi pusat perhatian masyarakat. Satu-satunya orang yang dapat dipercaya oleh Jerry adalah Alice, wanita yang dicintainya. Namun sayangnya Alice tidak tahu apa yang harus diperbuat karena semua mengandung misteri.

Konspirasi-konspirasi seperti yang digambarkan di dalam film Conspiracy Theory itu memang ada. Di dalam dunia usaha global, perusahaan besar membeli produk-produk setiap harinya, adalah bagian dari konspirasi untuk memperbaiki harga di pasar dan mengurangi kompetisi. Begitu pula dalam ranah politik, sosial dan lainnya.

Bagi orang yang tidak percaya selalu menganggap semua hanya olok-olok, mengada-ada, menyia-nyiakan waktu, kurang kerjaan, dan sebagainya. Orang-orang JIL, misalnya, menyebut para penganut teori ini sebagai “kemalasan berpikir”.

Namun, bagi saya, percaya pada konspirasi merupakan “kejernihan berpikir”. Tak sulit untuk menyimpulkan sebuah peristiwa adalah konspirasi atau tidak. Cukup menelaah pra kejadian, saat kejadian dan setelah kejadian. Biasanya, jika kita mau sedikit cermat, ada saja ditemukan kejanggalan-kejanggalan dan benang merah.

Mari kita bedah peristiwa pemboman Marriot dan Ritz Carlton. Sebelum bom meledak, travel warning diberikan pemerintah Australia kepada warganya agar tak mengunjungi Indonesia. Kemudian, polisi menemukan bom di Cilacap. Sebelum itu, polisi juga menangkap teroris di Palembang. Pola ini selalu sama dengan pemboman yang sudah-sudah: Bom Bali I, II, dan Kedubes Australia (2004). Sebelum peledakan terjadi, didahului travel warning, penemuan bom dan lainnya.

Lalu, hari H peledakan, terdapat banyak kejanggalan. Bagaimana mungkin JW Marriot dan Ritz Carlton bisa disusupi, padahal pengamanan di sana, sejak dibom pada 2003, sangat ketat. Saya pernah masuk ke Marriot pada Juni 2007. Pengamanannya berlapis, tak sembarang orang bisa masuk.

Kalaupun dugaan saya di atas masih lemah, mari kita lihat apa yang terjadi setelah bom meledak—yang menurut saya mengindikasikan dengan kuat adanya konspirasi. Pasca peledakan, semua media gencar memberitakan kasus ini, hingga sekarang. Liputan langsung dibuat. Tak cukup dengan itu, juga diundang para nara sumber yang memiliki pandangan sama, salah satunya mantan Kepala BIN. Dua kali ia diwawancarai TV One, dan satu kali oleh Metro TV. Statementnya selalu sama: “Teroris itu akan selalu bermunculan jika akar penyebabnya tak dihabiskan, yakni wahabisme dan ikhwanul muslimin,” kata dia.

Pernyataan ini menjadi menarik. Pertama, beberapa bulan sebelum peledakan, muncul buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan orang-orang liberal. Isinya idem ditto dengan ocehan mantan Kepala BIN itu. Buku yang diedit Abdurrahman Wahid itu—lucu juga kok bisa Gus Dur yang penglihatannya tak sempurna bisa mengedit—menyatakan bahwa di Tanah Air ada ideologi transnasional yang harus diwaspadai: wahabisme, ikhwanul muslimin. Disebutkanlah nama-nama organisasi pengusung ideologi tersebut: MMI, DDII, HTI, PKS, dan FPI.

Kedua, seolah ingin menindaklanjuti pernyataan mantan Kepala BIN itu, pihak kepolisian mulai membabi buta memberantas teroris. Di Purbalingga, anggota Jamaah Tabligh ditangkap karena dicurigai teroris saat mereka khuruj di masjid. Dan yang paling memprihatinkan, kepolisian akan mengawasi ceramah agama di masjid dan mushola, termasuk di bulan Ramadhan. Neo Orde Baru telah datang.

Pasca peledakan, sudah teramat jelas, pihak yang paling dirugikan oleh kepolisian dan pemberitaan media adalah umat Islam. “Kolaborasi” ini tentu saja akan memudahkan mereka untuk melakukan “teror” kepada umat Islam. Dan media pun akan kian mudah menciptakan opini bahwa teroris itu adalah Islam berjanggut, berjilbab dan aktivis masjid. Dengan cara ini mereka berharap: para remaja, pemuda dan umat Islam pada umumnya, akan takut datang ke masjid, mengikuti pengajian, dan menjadi Islam yang kaffah. Dari pada ditangkap, lebih baik menjadi kaum hedonis: yang asyik masyuk berdugem ria, menonton film porno, menyaksikan sinetron. Juga lebih baik menjadi kaum liberalis dan sekularis: yang mempromosikan Islam yang bebas tak bertanggungjawab.

Dan jangan kaget, bila suatu saat nanti, Al Qur’an akan menjadi hadiah wajib saat Hari Valentine. Naudzubillahminzalik. Masihkah kita mengaggap ini bukan rekayasa? Wallahua’lam.

Erwyn Kurniawan, S.Ip, Editor di Maghfirah Pustaka

http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/erwyn-kurniawan-s-ip-editor-di-maghfirah-pustaka-jurnalisme-teror-ii-agar-aktivis-menjadi-hedonis.htm

Tagged

FB, BB, dan Digital Colonization

Tahukah Anda? Peradaban Barat (dan juga sejumlah negara maju di belahan bumi lainnya) bisa maju disebabkan masyarakatnya secara lengkap telah mengalami berbagai tahapan kebudayaan secara linear dan utuh. Dari kebudayaan lisan, kebudayaan tulisan, kebudayaan baca, kebudayaan audio-visual (teve), dan sekarang kebudayaan cyber. Hal ini tidak dialami oleh bangsa Indonesia. Bangsa ini hanya mengalami kebudayaan lisan, lalu melompat ke kebudayaan audio-visual, dan sekarang termehek-mehekdengan kebudayaan cyber. Kebudayaan tulisan dan baca terlewat, dan sedihnya, terlupakan.

Bisa jadi, sebab itu ada perbedaan besar antara kebiasaan masyarakat Barat (dan masyarakat negara maju lainnya) dengan kebiasaan masyarakat Indonesia, salah satunya yang paling mudah dilihat adalah saat mengisi waktu luang, apakah itu sedang antre di bank, menunggu panggilan di loket rumah sakit, tengah menunggu kendaraan atau seseorang, sedang duduk di lobi hotel, atau sedang duduk di dalam kendaraan umum.

Di Barat dan di negara-negara maju, orang biasa mengisi waktu kosong atau waktu luangnya dengan membaca, apakah itu suratkabar, majalah, novel, atau buku non-fiksi. Jika bepergian kemana pun, mereka terbiasa selalu menyelipkan buku di dalam tas atau menentengnya di tangan. Sebab itu, bukan pemandangan aneh jika di dalam subway, di taman-taman, di halte bus, di depan loket berbagai instansi, di pinggir jalan, maupun di pantai, mereka selalu asyik mengisinya dengan kegiatan membaca.

Bagaimana dengan orang Indonesia? Silakan pergi ke tempat-tempat yang telah disebutkan di atas. Anda akan menemukan banyak sekali saudara-saudara sebangsa kita tengah asyik memainkan gadget mereka, bukan membaca. Sebab itu, Indonesia sejak lama menjadi pangsa pasar yang sangat menggiurkan bagi para produsen ponsel dunia. Bahkan konon, negeri ini telah menjadi semacam wilayah test pasar bagi produk-produk ponsel dunia teranyar. Dan setahun belakangan ini, ponsel dengan fasilitas chatting atau pun yang membenamkan kemampuan untuk bisa ber-fesbukan-ria laku keras. Blackberry-pun naik daun. Dan jangan heran jika di negara terkorup dunia dan nyaris masuk dalam kategori “Negara Gagal” ini ternyata bisa menjadi empat besar dunia dalam rating angka penjualan Blackberry. Blacberry dan Fesbuk telah menjadi trend masyarakat kita sekarang.

Digital Colonization

Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Demikianlah salah satu akibat dari trend digital sekarang ini. Fungsi asli dari FB dan situs jejaring sosial lainnya seperti halnya Friendster, Twitter, dan sebagainya adalah untuk membuat jaringan teman di dunia maya. Hal ini sangat bermanfaat bagi para marketer atau orang-orang yang memang diharuskan bergiat untuk berhubungan dengan banyak orang. Hanya saja, di Indonesia dan mungkin di negara lain, situs jejaring sosial ini malah menjadi trend yang sedikit banyak menggusur produktifitas nyata. Sekarang, lebih banyak orang menyukai melakukan kegiatan FB ketimbang membaca buku, kontemplasi, dan sebagainya. Padahal bagi kebanyakan orang, berfesbukan-ria tidak ada bedanya dengan ngerumpi dengan sesama teman di sekolah, pasar, atau pun kantor. Disibukkan dengan persoalan remeh-temehWasting Time. Dengan sendirinya, produktivitas manusia menjadi menurun.

Kehadiran gadget hebat (dan mahal) seperti BB dengan media FB disadari atau tidak sekarang ini pada akhirnya hanya menjadi semacam simbol status. Di negara yang peradaban pengetahuannya sudah maju, penanda status sosial, apakah dia hebat atau tidak adalah buku. Semakin banyak buku yang dia baca maka semakin hebatlah dia di mata teman-temannya. Kredibilitas orang ditentukan oleh banyak sedikitnya pengetahuan yang didapat dari buku.

Namun di negara yang nyaris gagal seperti Indonesia terjadi parodi yang menyedihkan, penanda status sosial orang kebanyakan dilihat dari seberapa banyak dan canggihnya gadget yang kita tenteng, walau mungkin dia harus kredit untuk bisa memiliki itu. Ini sebenarnya merupakan pars pro toto, dari kecenderungan sebagian besar masyarakat kita yang memandang status orang, kredibilitas orang, status sosial orang lain, dengan sedikit banyaknya harta benda yang dimilikinya, tanpa perduli apakah dia bisa hidup kaya raya dengan merampok uang rakyat, menggelapkan uang umat, korupsi, dan sebagainya.

Hal ini menimbulkan efek domino, kian hari kian banyak orang yang ingin kaya raya dengan jalan pintas. Salah satunya dengan menjadi anggota legislatif misalnya, padahal dia sama sekali tidak mempunyai prestasi apa pun di masyarakat. Ini sesungguhnya merupakan mental bangsa terjajah.

Bagi kebanyakan orang di sini, bagi bangsa yang belum tersentuh budaya membaca dan lebih suka dengan kebudayaan mengobrol dan menonton, maka kehadiran BB dan FB dan semacamnya, tanpa disadari telah banyak merampas waktu berharga dalam hidupnya. Banyak orang rela berjam-jam untuk ber-BB atau ber-FB-ria, dan melupakan membaca buku, padahal waktu merupakan Pedang Democles, yang tanpa ampun akan membabat siapa saja yang tidak mengunakannya dengan baik. Inilah apa yang sebenarnya disebut sebagai Digital Colonization, penjajahan digital.

Pemakaian BB dan juga FB tidaklah salah. Bagi pekerja yang banyak menghabiskan waktu di jalan dan harus selaluconnect dengan rekan-rekan kerjanya, atau bosnya, atau seorang profesional yang harus selalu online, maka BB adalah hal yang amat penting. Demikian juga dengan FB, sangat vital bagi para marketer atau orang yang harus berhubungan dengan banyak orang lainnya, atau publik figur misalnya. Di tangan mereka, BB dan FB menjadi salah satu alat penunjang prestasi yang memang penting. Dan saya yakin, orang-orang seerti ini tidak akan terjerumus dalam kemubaziran pemakaian waktu karena mereka tahu kapan harus memulai dan kapan harus berhenti.

Apakah Anda sekarang telah memiliki akun di FB? Jika sudah maka manfaatkanlah dia dengan baik, tepat, dan bijak, bukan sekadar untuk wasting a time. Membaca buku atau membaca Qur’an, jauh lebih berguna untuk mengisi waktu ketimbang ngobrol. Dan jika Anda belum memiliki akun di FB, berpikirlah seribu kali, apakah Anda sudah siap untuk itu? Apakah hal itu merupakan KEBUTUHAN Anda, dan bukan sekadar KEINGINAN? Janganlah waktu yang sedikit ini dipergunakan dengan sia-sia, penuh kemubaziran. Karena Allah SWT telah memperingatkan umat-Nya jika kemubaziran itu adalah perilaku saudara-saudaranya setan. Na’udzubillah min dzalik. (Rd)

http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/fb-bb-dan-digital-colonization.htm

Tagged

Waspadai ‘Hidden Agenda’ Facebook!

Mengapa lebih suka facebook ketimbang blog? Mengapa lebih “ikhlas” habiskan waktu di depan laman facebook ketimbang blog? FB lebih mengasyikan dari blog? FB ‘gak perlu mikir dalem, ‘gak perlu pinter, beda ama blog yang kudu mikir?

Warga dunia yang berakses internet kini terjangkit wabah “virus” Facebook. Situs “pencari teman” made by Mark Zuckerberg itu pun kini tengah naik daun dan nangkring di jajaran papan atas, bahkan posisi teratas, dalam daftar situs terpopuler di dunia. Data yang dirilis oleh Comscore menyebutkan, situs “jejaring sosial” (social networking) ini menarik sekitar 115 juta pengunjung per bulan. Bahkan, pada November 2008 FB berhasil menyedot 200 juta pengunjung unik dari seluruh dunia.

Hingga Maret 2009 saja, sebagaimana dilansir New York Times, FB resmi memiliki 200 juta anggota. Jumlah itu tentu akan terus bertambah. “Dua ratus juta dari enam miliar orang di dunia itu kecil,” kata pendiri FB, Mark Zuckerberg. Lebih dari 70 persen pengguna berasal dari luar Amerika Serikat. New York Times menyebut Indonesia, Republik Ceko, dan Italia sebagai contoh.

Situs pemeringkat web, Alexa, menempatkan Facebook di posisi teratas (paling sering diakses) oleh pengguna internet di Indonesia. Menurut Alexa, Indonesia merupakan sumber pengunjung terbesar ke-5 bagi FB setelah AS, Inggris, Prancis, dan Italia.

FB hadir di jagat maya sejak diluncurkannya pada 4 Februari 2004. Perkembangannya dari tahun ke tahun luar biasa dan kian kian populer tatkala Barack Obama memanfaatkan jejaring sosial ini untuk kampanyenya sejak 2007. Hingga Juli 2007 saja, pengguna FB mencapai 34 juta. Hingga akhir tahun 2007, para penggunanya sudah mencapai 60 juta org.

Situs ComScore Inc. memosisikan FB sebagai salah satu situs terpopuler di dunia sepanjang 2007. Tahun lalu, masih menurut ComScore, FB (jumlah pengunjung 200 juta) dikalahkan Blogger (222 juta), namun masih unggul dibandingkan MySpace di peringkat 3 (126), dan WordPress (114).

Menurut ensiklopedia virtual, Wikipedia, pada 2008 FB merupakan situs nomor satu di dunia. Demikian pula untuk foto, situs ini sudah mengungguli situs lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.

Situs Quantcast.com menempatkan FB di peringkat kelima situs terpopuler di Amerika –setelah Google (140M+ U.S. monthly people), MSN (122M+), Live, dan Yahoo (119M+). Namun, FB mengalahkan popularitas Wikipedia (6/72M+) dan Youtube (7/71M+). Jauh di bawahnya ada situs “induk” para blogger, Blogspot (13/49M+) dan WordPress ( 21/29+).

Di Indonesia, FB adalah situs juara. Tahun lalu, situs pemeringkat web, Alexa menempatkan FB di peringkat 11. Namun, kini Alexa menempatkan FB pada urutan pertama dalam daftar situs paling banyak dikunjungi. FB mengalahkan popularitas Google.co.id (peringat 2), Yahoo.com (3), Google.com (4), Blogger (5), Friendster (6), Youtube (7), dan WordPress (8). Data terbaru bisa Anda cek sendiri di Alexa.com.

Diperkirakan, FB kini melibas popularitas milis yang dulu populer dan tengah pelan-pelan “membunuh” blog. Diperkirakan pula, kini banyak blogger berguguran karena terjangkit virus FB. Para blogger mulai jarang menulis di blognya, tapi lebih asyik sekadar update status di FB. Nulis di FB memang tidak mesti “seserius” di Blog. Anda sakit perut saja, tinggal tulis di wall: Aduh cakit perutzzz…., maka berdatanganlah komentar dari kawan Anda: “Duh kacian…!” dan sebagainya.

Jagad blog tampaknya harus siap-siap gulung tikar (?). FB kini tampaknya menjadi pilihan utama, baik sekadar untuk “bernarsis ria”, “caper” (cari perhatian), say hello, mengabari kawan-kawan, hingga berdiskusi dan berpromosi. Popularitas FB utamanya karena aplikasi atau fasilitas yang ditawarkannya. Di FB bisa meng-upload foto dan catatan dari kamera telepon langsung; mengurutkan daftar kontak ke dalam grup, seperti classmates, schoolfriends, teman-teman kerja, kawan lama, de el el.

FB memang benar-benar dahsyat. Dibandingkan blog, FB lebih praktis, tidak perlu menulis panjang yang juga berarti tidak perlu mikir serius. Tampaknya, kehadiran FB bukan sekadar pelan-pelan membunuh blog, tapi juga membunuh kreativitas blogger!

Sebelum terjangkit virus FB, blogger harus berpikir keras, menemukan ide tulisan (posting), lalu mencari data dan informasi guna pengembangan ide, menganalisis, mengintrepretasi, lalu menuangkan dalam sebuah tulisan. Kini, di FB, ide “seremeh” apa pun bisa langsung di-upload dan dikomentari pula oleh kawan-kawannya!

Jadi, FB memang lebih asyik bagi umat manusia yang “malas” atau bahkan “tidak mampu” berpikir. Namun, FB juga asyik bagi “manusia serius” dengan intelektualitas tinggi sekalipun! Di FB Anda bisa menyapa sekaligus “mengintip” aktivitas kawan-kawan hanya dalam satu halaman.

Sebagai “guru menulis”, saya gembira dengan kehadiran blog yang dapat menciptakan budaya menulis. Ketika virus FB mewabah, saya pun sedih karena FB telah mematikan budaya menulis! Mahasiswa lebih suka buka FB ketimbang blognya atau membuka situs informasi. Narsisme, tebar pesona, bahkan “syirik kecil” (riya’pun membudaya.

Saya sendiri pengguna FB dengan dua tujuan. Pertama, sekadar menemukan dan menyapa kawan-kawan lama masa kuliah (silaturahim). Kedua, sarana promosi blog. Ternyata, kawan-kawan saya lebih suka kasih komentar di FB ketimbang di posting blog.

Jadi, FB baik sebagai ajang silaturahim. Namun, waspadai “hidden agenda” FB yang bisa mematikan kreativitas berpikir, kreativitas menulis, dan membudayakan “lagha” (kesia-siaan), “lahwun”, dan “la’ibun” (main-main). Salah satu kebaikan seorang Muslim, kata Nabi Saw, yaitu tidak melakukan pekerjaan yang ‘gak penting alias ‘gak ada manfaatnya. Begitu ‘kan, Ustadz?

Bahkan, simak “temuan” kawan-kawan kita di eramuslim: “Facebook Mulai Tunjukkan Watak Aslinya” –anti dengan hal-hal yang berhubungan dengan Jihad dan Islam. FB menghapus beberapa account yang selalu gencar menyuarakan Islam dan jihad, salah satunya grup Cyber Jihad Community yang dibuat oleh Muhammad Jibriel Abdul Rahman (nick name Prince of Jihad) yang juga pimpinan Ar-Rahmah Media. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

http://warnaislam.com/blog/jurnalistik/2009/7/2/39060/Waspadai_Hidden_Agenda_Facebook.htm

Tagged