Membendung Budaya Ngerumpi

Oleh Said Aqiel Siradj

BANGSA kita saat ini tengah membangun kembali kehidupan ekonomi, sosial, pendidikan, mentalitas, dan budaya. Sekian lama, bangsa kita mengalami krisis mental dan material. Untung saja, kita masih bisa menepuk dada dengan tampilnya generasi muda di ajang olimpiade sains dan memenangkan medali emas. Namun, secara umum, keadaan kita masih membutuhkan penanganan yang superserius guna mewujudkan cita-cita ideal bangsa.

Akankah bangsa ini mampu mengejar ketertinggalannya dalam bidang sumber daya manusia maupun aspek-aspek lainnya bila masyarakat lebih banyak terhujani oleh tayangan-tayangan hiburan yang tidak mencerdaskan atau mendidik? Akankah kita tetap optimistis bila tidak segera mereformasi yang sebenar-benarnya, terutama dalam soal pembangunan mentalitas?

Ataukah kita hanya bersedeku, acuh tak acuh, atau mengalir saja, dan bahkan ikut terlarut dalam rayuan globalisasi sehingga melupakan jati diri kita sebagai bangsa yang beragama dan kaya khazanah budaya? Bila demikian, apakah cukup sudah kita melahirkan “bangsa penggunjing” yang membuat kaum muda khususnya hanya terimajinasi oleh sosok-sosok hedonis dan lalu tak lagi suka berkreasi?

Budaya Mimesis

Orang boleh bilang, sudah zamannya hiburan menjadi panglima. Jika dibandingkan dengan politik yang njlimetfullintrik, tampilan hiburan akan memberikan semacam oase bagi masyarakat. Bagai hidup di gurun gersang, masyarakat mendambakan ”air peneduh” agar mampu meneruskan perjalanan kehidupan secara lancar.

Namun, itu hanya sesaat. Sebab, ternyata, kehidupan riil jauh lebih kompleks dan berliku jika dibandingkan dengan hipnosis tayangan hiburan. Kembalilah mereka tersadar untuk mengayuh kembali sekuat tenaga roda kehidupan yang penuh persaingan dan keangkaramurkaan. Hidup nyata tak seindah yang dihadirkan dalam tayangan televisi, itu sudah pasti. Bagi mereka yang lunglai dalam menghadapi hidup nyata, tayangan infotainment bisa saja menjadi arena pelarian. Akhirnya, daya ikhtiar dan kreasinya terpinggirkan oleh buaian tampilan sensasional para pesolek yang aduhai nan memesona sehingga perselingkuhan, perceraian, penggunaan obat terlarang dan ”buka-bukaan” lainnya bagai ”kacang goreng”.

Transisi kehidupan sosial dan kultural kita, tampaknya, tengah menuju apa yang kerap disebut sebagai consumerism, celebrity, dan cynism. Semua hal, termasuk urusan yang sangat privat, bisa menjadi komoditas. Sikap dan gaya selebitis begitu mudah memengaruhi masyarakat. Banyak peristiwa, baik yang normal maupun yang tragis, tiba-tiba menjelma jadi tayangan yang sinisme. Perilaku mimesis, yakni meniru-niru, gampang sekali merasuk. Itulah gambaran di negeri yang pendidikan rakyat dan kecerdasan berikut pekerja medianya belum baik dan dewasa.

Pencerdasan Bangsa

Perlu diingat kembali, para alim ulama NU beberapa waktu silam, dari hasil forum kajian (bahtsul masail), menghasilkan salah satu keputusan perihal haramnya infotainment. Para ulama mencapai kata sepakat (ijma’) bahwa hukum infotainment haram. Masukan hukum haram infotainment itu bersumber dari berbagai daerah, baik tingkat wilayah, cabang, maupun anak cabang.

Hal itu membuktikan kuatnya kegelisahan yang bersifat masif di kalangan para ulama dan masyarakat tentang membanjirnya tayangan infotainment di televisi. Tayangan tersebut dirasa sudah masuk terlalu jauh ke ruang pribadi karena itu dapat dikategorikan sebagai pergunjingan (gibah) atau membuka aib orang lain di muka umum. Misalnya saja, perihal rumah tangga artis yang dikabarkan retak, padahal itu hanya gosip.

Nah, karena itulah, para ulama NU bersepakat bahwa tayangan infotainment berhukum haram dengan mengambil sumber dari beberapa kitab kuning, seperti Ihya’ Ulumuddin dan Riyadhusshalihin. Tidak semestinya hak privasi dan aib keluarga digeber di muka umum, apalagi dalam kapasitas sebagai gosip.

Poin lain, tayangan infotainment sudah masuk hitungan berlebihan. Ada kesan kuat bahwa televisi dan produser hanya memperhatikan aspek komersial. Karena itulah, tayangan tersebut diputuskan sebagai hal yang berlebih-lebihan (al-tabdzir) yang tentu dilarang. Rasulullah pernah melarang para sahabatnya agar tidak berlebihan dalam beribadah. Nah, jika berlebihan dalam ibadah perlu dihindari, bagaimana berlebihan dalam infotainment dan hal-hal profan lainnya?

Sebab lain, tayangan infotainment telah menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Dalam bahasa agama, telah menimbulkan madharat (bahaya). Saking banyaknya tayangan itu, masyarakat mudah terbius sehingga ketagihan menonton. Di masyarakat pun subur budaya ngerumpi.

NU sebagai organisasi kemasyarakatan tentu memiliki tanggung jawab moral untuk menyelamatkan bangsa ini dari berbagai hal yang dapat mengakibatkan meluasnya kemudaratan. Sebagai pengingat, pada zaman penjajahan Belanda dulu, NU melalui Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam mengenakan jas dan berdasi. Sebab (‘illat) hukum haram tersebut adalah jas dan dasi kala itu identik dengan pakaian yang dikenakan penjajah Belanda.

Munculnya fatwa itu dilandasi oleh resistensi dan perlawanan budaya terhadap kolonialisasi. Lagi pula, dengan fatwa tersebut, landasan moral demi menjaga moralitas bangsa menjadi signifikan.

Hukum haram tersebut -baik infotainment maupun pemakain jas- harus dilihat dari segi preventif sekaligus kuratif. Artinya, itu sangat berkaitan dengan wujud kepedulian komponen bangsa untuk turut memperbaiki moral bangsa. (*)

*) KH Prof Dr Said Aqiel Siradj, ketua umum PB NU

http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=147019

Advertisements

Encouragement

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.
“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya.

Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.

“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
(//rhs)

http://kampus.okezone.com/read/2010/07/15/95/353132/encouragement

Akhirnya Ary Ginanjar Akui Kekeliruan ESQ

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Di tengah gonjang-ganjing status “keabsanan” ESQ Ary Ginanjar setelah difatwa sesat oleh Mufti Malaysia, alhamdulillah, di Bekasi Jawa Barat terjadi dialog dari hati ke hati antara seorang alumnus training ESQ, Ustadz Farid Achmad Okbah MA dengan pendiri ESQ, Bapak Dr Ary Ginanjar Agustian. Dialog diadakan pada hari selasa 20 Juli 2010 pukul 18.30 – 20.00 WIB di Meeting Room Radio DAKTA Jl. KH. Agus Salim Bekasi.

Saya adalah salah satu saksi mata pertemuan antara Bapak Dr. Ary Ginanjar Agustian dengan Ustadz Farid Ahmad Oqbah, MA (Direktur Islamic Center Al-Islam Bekasi dan narasumber Kajian Aqidah Radio Dakta 107 FM Bekasi). Pertemuan ini terkait penjelasan atas beberapa koreksi Ustadz Farid terhadap ESQ yang dimuat di berbagai media, antara lain voa-islam.com (baca:Nasihat Alumnus ESQ untuk Ary Ginanjar Agustian).

Ustadz Farid Okbah berani mengoreksi beberapa ajaran ESQ Ary Ginanjar, karena beliau telah mengikuti pelatihan ESQ tahun 2006 silam. Ust Farid sendiri adalah alumni ESQ ke-46.

Dalam pertemuan itu sangat jelas dan terang Bapak Ary Ginanjar menerima semua koreksi Ustadz Farid dan berjanji akan memperbaiki kekeliruan-kekeliruannya. Di samping memang Pak Ary sendiri sangat kooperatif, terbuka dan jujur menerima semua masukan Ustadz Farid. Perlu dicatat bahwa hampir semua nasihat dan koreksi Ustadz Farid sama persis dengan Fatwa Ulama Persekutuan Malasyia yang menyesatkan ajaran ESQ. Dan itu tidak dibantah sedikit pun oleh Pak Ary. (Adalah urusan Allah yang tahu apakah Pak Ary menerimanya atau tidak)

Sebelumnya kita tahu betul bahwa Bapak Ary Ginanjar menolak semua dakwaan bahkan cenderung membenturkan ulama dengan ulama. Sementara Majelis Fatwa Mudzakarah Malasyia yang mendukung ESQ pun tetap dengan syarat ESQ memperbetul (memperbaiki) kekeliruan yang sudah terjadi. (Karena kebenaran tidak bisa dikalahkan dengan banyaknya jumlah yang mayoritas).

Sementara itu, Ust Farid memandang bagaimanapun juga ESQ adalah aset umat yang sangat berharga yang harus dijaga dan didukung namun tetap harus dikoreksi jika terdapat kekeliruannya di dalamnya, sebagai kewajiban saudara muslim terhadap muslim lainnya agar sama-sama selamat dunia akhirat.

…Ary Ginanjar dengan besar hati mengakui kekeliruannya. Ia menegaskan bahwa dari awal ESQ sangat komitmen terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya beliau menyadari ada kekeliruan dalam memahami tafsir dansyarah keduanya….

Ustadz Farid Okbah juga sangat menyayangkan pembelaan membuta KH Said Agil Siradj dan Prof Dr Din Syamsuddin terhadap ESQ. Sementara Bapak Ary Ginanjar sendiri dengan besar hati mengakui kekeliruannya. Pak Ary menegaskan bahwa dari awal ESQ sangat komitmen terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dan akan terus berpegang teguh kepada keduanya. Hanya beliau menyadari ada kekeliruan dalam memahami tafsirdan syarah keduanya.

Pertemuan di atas berjalan penuh dengan nuansa kekeluargaan, akrab, hangat dan cair. Salut buat Pak Ary yang bersedia mendatangi Ulama untuk meminta taushiah, dan mengakui kekeliruannya. Semoga urusan umat ini semakin melancarkan perjuangan Da’wah ilallah. Perbaiki Bangkit, maju dan berkibarlah ESQ dengan semangat li’ilai kalimatillah. Amien.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Wildan Hasan (Penyiar Radio Dakta 107 FM Bekasi)
Pusdiklat Dewan Da’wah Kp. Bulu Setiamekar Tambun Bekasi 17510
HP. 0813 8665 7822

http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2010/07/27/8596/akhirnya-ary-ginanjar-akui-kekeliruan-esq/

Jangan Lupa Tujuan Pendidikan

Oleh: Dr. Adian Husaini*

PADA Hari Senin (12/7/2010), anak-anak sekolah kembali ke bangku sekolah,
setelah menjalani libur panjang. Sebagian mereka adalah murid-murid yang
menapaki jenjang pendidikan baru. Sebagian lain, hanya menjalani kenaikan
kelas. Dalam situasi seperti ini, meskipun sudah pernah kita singgung
sebelumnya, ada baiknya, kita semua – terutama orang tua dan guru –
benar-benar menyadari apa tujuan sebenarnya dari sebuah proses pendidikan
menurut pandangan Islam.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya, Islam and Secularism,
(Kuala Lumpur, ISTAC, 1993), merumuskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk
menghasilkan orang yang baik (to produce a good man). Kata al-Attas, “The
aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the fundamental
element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of
adab.” (hal. 150-151).

Siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam pandangan Islam,
manusia seperti ini adalah manusia yang kenal akan Tuhannya, tahu akan
dirinya, menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai uswah hasanah, mengikuti jalan
pewaris Nabi (ulama), dan berbagai kriteria manusia yang baik lainnya.
Manusia yang baik juga harus memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan
potensinya, sebab potensi itu adalah amanah dari Allah SWT.

Dalam al-Quran dikatakan, manusia diciptakan Allah untuk beribadah
kepada-Nya (QS adz-Dzariyat: 56) dan menjadi khalifah Allah di muka bumi (QS
al-Baqarah: 30). Manusia dikaruniai akal, bukan hanya hawa nafsu dan naluri.
Tugas manusia di bumi berbeda dengan binatang. Manusia bukan hanya hidup
untuk memenuhi syahwat atau kepuasan jasadiahnya semata. Ada
kebutuhan-kebutuhan ruhaniah yang harus dipenuhinya juga. Semua fungsi dan
tugas manusia itu akan bisa dijalankan dengan baik dan benar jika manusia
menjadi seorang yang beradab.

Banyak orang Indonesia hafal bunyi sila kedua dari Pancasila, yaitu:
“Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Tapi, apakah banyak yang paham,
sebenarnya, apa arti kata ”adil” dan kata ”beradab” dalam sila tersebut?
Mungkin Presiden atau para pejabat negara juga tidak paham benar apa makna
kata-kata “adil” dan “beradab”, sebab faktanya, banyak pejabat yang perilaku
dan kebijakannya tidak adil dan tidak beradab. Lihatlah, banyak pejabat
menggunakan mobil dan sarana mewah dengan uang rakyat, padahal begitu banyak
rakyat yang kelaparan, kurang gizi, tidak bisa berobat dan kesulitan biaya
pendidikan.

Di tengah jeritan banyak orang yang kesulitan biaya pendidikan sekolah
anak-anaknya, muncul kebijakan membuat patung-patung di berbagai tempat dan
program pelesiran ke berbagai negara. Tentu dengan uang rakyat. Saya pernah
SMS seorang menteri karena meresmikan sebuah patung bernilai Rp 2 milyar. Ia
menjawab, bahwa patung itu dibiayai oleh pengusaha, bukan dari anggaran
negara. Meskipun begitu, menurut saya, tidak sepatutnya sang menteri
meresmikan patung tersebut. Kita semakin sering mendengar pejabat berteriak,
mari rakyat hemat BBM (Bahan Bakar Minyak), karena subsidi BBM sudah terlalu
berat. Tapi, tengoklah, apakah mobil pejabat tersebut hemat BBM? Mobilnya
impor; biaya operasionalnya ditanggung oleh uang rakyat, dan itu jelas
boros. Kenapa Presiden dan para pejabat tidak menggunakan mobil yang
sederhana dan hemat BBM? Tentu tidak menjadi soal jika mobil itu dibeli
dengan uangnya sendiri dan BBM-nya juga beli sendiri, tidak menggunakan uang
rakyat.

Mari kita lihat contoh lagi! Ini terjadi bukan hanya di kalangan pejabat,
bahkan di kalangan ulama dan tokoh agama. Begitu sering kita mendengar
seruan untuk menjadi orang taqwa. Kata ”taqwa” begitu mudah diucapkan;
lancar didengarkan; pejabat bicara taqwa, ulama berkhutbah meyerukan taqwa.
Ayat al-Quran juga sering dilantunkan: Yang paling mulia di antara kamu
adalah orang yang taqwa (Inna akramakum ’inda-Allaahi atqaakum).

Bicaradan ngomong taqwa memang mudah. Tapi, apa benar-benar seruan taqwa itu
dijalankan, bahkan oleh para ulama dan tokoh agama? Allah menyebutkan, bahwa
yang paling mulia adalah yang paling taqwa, bukan yang paling banyak
hartanya, bukan yang paling cantik wajahnya, bukan yang paling populer, dan
juga bukan yang paling tinggi jabatannya. Pesan al-Quran jelas: hormatilah
yang paling taqwa! Tapi, lihatlah contoh-contoh dalam kehidupan nyata.

Lihatlah, saat para tokoh agama menggelar hajatan perkawinan buat anak-nya.
Apakah orang taqwa yang didahulukan untuk bersalaman atau pejabat tinggi
yang dihormati dan didahulukan. Kadangkala, banyak orang-orang ”kecil” yang
sudah mengantri selama berpuluh-puluh menit, bahkan berjam-jam, kemudian
harus dihentikan, karena ada pejabat atau mantan pejabat datang; ada orang
terkenal datang.

Apakah perilaku seperti itu adil dan beradab? Suatu ketika kepada pimpinan
suatu partai Islam saya usulkan, agar jangan banyak-banyak membuat bendera
dan spanduk kampanye, karena begitu banyak jalan di sekitar kediaman
calon-calon legislatif partai itu yang rusak dan berlobang. Lucunya, sang
calon bukan membeli semen atau aspal untuk m memperpaiki jalan, tetapi malah
mencetak poster dan profil dirinya lalu dibagi-bagikan kepada masyarakat
sekitarnya. Seorang Ustad di Depok bercerita kepada saya, ia juga pernah
menasehati seorang calon anggota legislatif yang datang kepada dirinya,
meminta dukungan. Ustad itu menasehati sang calon, gunakan uang kampanye
Anda untuk membantu pedagang-pedagang muslim di pasar-pasar rakyat yang kini
terjepit rentenir. Ini nasehat yang sangat baik, agar seorang aktivis
politik muslim bersikap adil dan beradab.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan makna ”adil” dan ”beradab” dalam sila
kedua Pancasila?

Sepertidiketahui, rumusan sila kedua itu merupakan bagian dari Piagam
Jakarta yang dilahirkan oleh Panitia Sembilan BPUPK, tahun 1945, dan
kemudian disahkan dan diterima oleh bangsa Indonesia, sampai hari ini.
Sila kedua ini juga lolos dari sorotan berbagai pihak yang keberatan
terhadap sebagian isi Piagam Jakarta, terutama rumusan sila pertama yang
berbunyi: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya.

Jika dicermati dalam sudut ”pandangan-alam Islam” (Islamic worldview),
lolosnya sila kedua sebagai bagian dari Pancasila, itu cukup menarik. Itu
menunjukkan, pengaruh besar dari konsep Islam terhadap rumusan sila kedua
tersebut. Perlu dicatat, rumusan sila kedua itu sangat berbeda dengan
rumusan yang diajukan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPK.
Ketika itu, Bung Karno mengusulkan “lima sila” untuk Indonesia Merdeka,
yaitu: (1) Kebangsaan Indonesia (2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan
(3) Mufakat atau Demokrasi (4) Kesejahteraan Sosial (5) Ketuhanan.

Jadi,berdasarkan sila kedua Pancasila yang resmi berlaku, maka konsep
kemanusiaan yang seharusnya dikembangkan di Indonesia adalah kemanusiaan
yang adil dan beradab; bukan kemanusiaan yang zalim dan biadab.
Pertanyaannya kemudian, pandangan alam manakah yang bisa menjelaskan makna
”adil” dan ”adab” secara tepat? Jawabnya, tentu ”Pandangan-alam Islam”.
Sebab, kedua istilah dan konsep itu memang istilah yang khas Islam. Cobalah
simak dan cermati, apakah ada padanan kata yang tepat untuk istilah ”adil”
dan ”adab” dalam bahasa-bahasa yang ada di wilayah Nusantara? Apakah bahasa
Jawanya ”adil”? Apakah bahasa Sundanya ”adab”?

Bisa disimpulkan, kedua istilah dan konsep itu – yakni ”adil” dan ”adab” –
mulanya memang hanya ditemukan dalam konsep Islam, dan karena itu harus
dicarikan maknanya dalam Islam. Minimal, tidaklah salah, jika orang Muslim
di Indonesia menafsirkan kedua istilah itu secara Islami. Rumusan sila kedua
Pancasila itu menunjukkan, bahwa Pancasila sejatinya bukan sebuah konsep
sekular atau konsep netral agama, sebagaimana sering dipaksakan
penafsirannya selama beberapa dekade ini.

Masuknya kata ”adil” dan ”adab” dalam rumusan Pancasila, sebenarnya
merupakan indikasi yang lebih jelas tentang cukup kuatnya pengaruh
pandangan-alam Islam (Islamic worldview) pada rumusan Pancasila. Itu juga
ditandai dengan terdapatnya sejumlah istilah kunci lain yang maknanya sangat
khas Islam, seperti kata “hikmah” dan “musyawarah”. Karena dua kata – adil
dan adab — ini jelas berasal dari kosakata Islam, yang memiliki makna
khusus (istilaahan), maka hanya bisa dipahami dengan tepat jika dirunut pada
pandangan-alam Islam.

Kata ”adil” adalah istilah “khas” yang terdapat dalam banyak sekali ayat
al-Quran. Sebagai contoh dalam al-Quran disebutkan, (yang artinya):
“Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberi
kepada keluarga yang dekat dan melarang dari yang keji, dan yang dibenci,
dan aniaya. Allah mengingatkan kalian, supaya kalian ingat.” (QS 16:90).

Prof. Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan tentang makna adil dalam
ayat ini, yaitu “menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan
membenarkan yang benar, mengembalikan hak kepada yang empunya dan jangan
berlaku zalim, aniaya.” Lawan dari adil adalah zalim, yaitu memungkiri
kebenaran karena hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri; mempertahankan
perbuatan yang salah, sebab yang bersalah itu ialah kawan atau keluarga
sendiri. “Maka selama keadilan itu masih terdapat dalam masyarakat,
pergaulan hidup manusia, maka selama itu pula pergaulan akan aman sentosa,
timbul amanat dan percaya-mempercayai,” tulis Hamka.

Jadi, adil bukanlah sama rata-sama rasa. Konsep adil adalah konsep khas
Islam yang oleh orang Islam, seharusnya dipahami dari perspektif
pandangan-alam Islam, karena konsep ini terikat dengan konsep-konsep Islam
lainnya. Jika konsep adil dipahami dalam kerangka pandangan-alam Barat
(western worldview), maka akan berubah maknanya. Sejumlah aktivis
”Kesetaraan Gender” atau feminis liberal, yang berpedoman pada konsep
“setara” menurut pandangan-alam Barat, misalnya, mulai menggugat berbagai
ajaran Islam yang dinilai menerapkan diskriminasi antara laki-laki dan
perempuan.

Dipertanyakan, misalnya, mengapa aqiqah untuk bayi laki-laki, misalnya,
adalah dua kambing dan aqiqah untuk bayi perempuan adalah 1 kambing. Konsep
itu dinilai tidak adil dan diskriminatif. Dalam Islam, laki-laki berhak
menjadi imam shalat bagi laki-laki dan perempuan adalah adil. Menurut konsep
yang lain, bisa dikatakan tidak adil. Dalam pandangan demokrasi Barat,
tidak ada pembedaan antara hak “orang jahat” dengan”orang baik” dalam
kesaksian dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Bagi hukum pidana yang
berlaku sekarang, dianggap adil jika Presiden – yang tidak ada hubungan
keluarga apa pun – berhak memberikan grasi kepada seorang terhukum.

Tetapi, dalam Islam, yang lebih adil adalah jika hak pengampunan itu
diberikan kepada keluarga korban kejahatan. Jadi, kata adil, memang sangat
beragam maknanya, tergantung pandangan-alam apa yang digunakan. Sejumlah
kalangan, dengan alasan HAM, menilai aturan Islam tidak adil, karena
melarang wanita Muslimah menikah dengan laki-laki non-Muslim. Juga dengan
dasar yang sama, mereka menuntut keadilan, agar kaum homoseksual dan lesbian
juga diberikan hak yang sama untuk diakui keabsahan pernikahan mereka,
sebagaimana pernikahan kaum hetero. Lama-lama, bisa juga mereka menuntut hak
untuk pengesahan perkawinan manusia dengan binatang, dengan alasan, tidak
mengganggu orang lain. Ada juga tuntutan hak untuk mati, sebagaimana hak
untuk hidup. Dan sebagainya. Karena itu, jika istilah “adil” dalam sila
kedua – Kemanusiaan yang adil dan beradab – dilepaskan maknanya dari sudut
pandangan-alam Islam, maka akan terlepas pula maknanya yang hakiki.

Bagi kaum Muslim, khususnya, cendekiawan Muslim Prof. Syed Muhammad Naquib
al-Attas mengingatkan perlunya memperhatikan masalah penggunaan bahasa atau
istilah-istilah dasar dalam Islam dengan benar agar jangan sampai terjadi
kekeliruan yang meluas dan kesilapan dalam memahami Islam dan pandangannya
tentang hakikat dan kebenaran. Menurut Prof. Naquib, banyak istilah kunci
dalam Islam yang kini menjadi kabur dipergunakan sewenang-wenang sehingga
menyimpang dari makna yang sebenarnya. Ia menyebutnya sebagai penafi-islaman
bahasa (de-Islamization of language).

Contoh kasus penafi-islaman bahasa adalah pemaknaan istilah “keadilan” yang
diartikan sebagai “tiada menyebelahi mana-mana pihak, dan menyamaratakan
taraf tanpa batasan, atau sebagai tata cara belaka. Contoh lain,
penyalahpahaman makna istilah adab, yang diartikan hanya sebagai adat
peraturan mengenai kesopanan, yang lazimnya merupakan amalan berpura-pura
sopan. (Lihat, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Tinjauan Peri Ilmu dan
Pandangan Alam (Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia, 2007)).

Mudah-mudahan rumah tangga kaum Muslim dan lembaga-lembaga pendidikan Islam
di Indonesia benar-benar mampu melahirkan manusia-manusia yang adil dan
beradab, sebagaimana yang telah dikonsepkan dalam Islam; bukan manusia yang
zalim dan biadab! [Bogor, Juli 2010/hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta
107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Waspadai Tabung Melon Palsu

Sinyalemen penuh kekhawatiran itu mulai terbukti. Ternyata sebagian tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram yang beredar luas di masyarakat tidak sesuai dengan standar. Tabung gas berpotensi menebar bencana ini, yang baru ketahuan, diproduksi PT Tabung Mas Murni.

Sejak Agustus 2009, perusahaan itu memproduksi dan mengedarkan 200.000 tabung gas non-standar ukuran tiga kilogram. Syukur, aksi ilegal ini terungkap. Polisi menyegel perusahaan yang berlokasi di Tangerang, Banten, itu dan menahan tiga direkturnya. Yakni Raden Kartono (direktur utama), Yudo Barlian (direktur teknis), dan Hendra Putra (direktur operasional).

Polisi juga menyita barang bukti 200 tabung gas tiga kilogram –biasa disebut tabung melon– yang kemudian diuji di laboratorium Pertamina. Terbukti, ketebalan pelat baja yang digunakan adalah 2,25 mm, di bawah Standar Nasional Indonesia (SNI) yang 2,5 mm. Tabung dengan ketebalan 2,25 mm ini hanya mampu menahan tekanan 125 kilogram per sentimeter kubik.

Padahal, tabung standar mampu menahan tekanan sampai 145 kilogram per sentimeter kubik. Logo SNI-nya pun cuma digrafir. Seharusnya logo itu timbul. “Ketebalan pelat seperti itu (2,25 mm) harusnya dibuat untuk pegangannya saja, bukan untuk menyimpan gas,” kata Kepala Satuan Sumber Daya Lingkungan Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Eko Saputro.

Sampai pekan lalu, polisi masih menyidik para tersangka. Ihwal terbongkarnya kasus ini tak lepas dari rasa tidak puas dua tersangka, Yudo dan Hendra, terhadap manajemen perusahaan tempatnya bekerja. Yudo dan Hendra yang dinonaktifkan sejak November 2009, melalui Himpunan Masyarakat Konsumen Gas Indonesia (Himkogasi) tempatnya bernaung, melaporkan kelakuan PT Tabung Mas Murni yang memproduksi tabung gas non-standar.

Polisi pun melakukan penggerebekan. Selain menahan Raden Kartono, dua pelapor juga ditahan. Ini disesalkan Ketua Dewan Pembina Himkogasi, Ashraf Dahlawi, yang menilai pelapor seharusnya dilindungi, bukan turut ditahan. Tapi polisi beralasan, dua pelapor itu tetap ditahan karena berperan dalam kegiatan produksi tabung non-standar.

Pihak Pertamina menyesalkan ulah PT Tabung Mas. Pasalnya, perusahaan itu merupakan satu dari 70 rekanan Pertamina untuk pengadaan tabung gas tiga kilogram pada 2010, yang ditargetkan 8 juta tabung gas. Menurut B. Trikora Putra, Vice President Corporate Communication Pertamina, pada saat ini Pertamina masih menunggu hasil penyidikan kepolisian menyangkut nasib PT Tabung Mas selanjutnya.

“Jika memang akan distop (kontraknya), tidak masalah karena masih banyak perusahaan lainnya,” kata Trikora Putra. Ia yakin, dengan komitmen dari 69 pabrikan lainnya, target pengadaan 8 juta tabung gas akan terpenuhi sampai akhir 2010. Dari tahun 2007 sampai saat ini, Pertamina telah menyalurkan paket tabung gas tiga kilogram dan kompor sebanyak 44,8 juta paket. Sampai akhir tahun ini, diharapkan dapat disalurkan 52 juta paket.

Terbongkarnya kasus tabung gas non-standar itu membuat prihatin Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Pengurus YLKI, Soedaryatmo, mendesak pemerintah dan Pertamina untuk menarik tabung gas yang tak layak pakai itu. “Konsumen punya hak untuk mendapatkan barang asli di pasaran. Tugas pemerintah adalah mensterilkan pasar dari produk-produk yang tidak standar,” katanya, geram.

***

Kecurigaan beredarnya tabung gas, khususnya ukuran tiga kilogram, yang tidak sesuai dengan standar berembus sejak tahun kemarin. Namun hal itu baru dilontarkan secara terbuka oleh Asosiasi Industri Tabung Baja (Asitab), Januari lalu. Ketua Asitab, Tjiptadi, mensinyalir terdapat sekitar 20 juta tabung gas tiga kilogram asli tapi palsu yang berkualitas rendah beredar di pasaran.

Angka perkiraan 20 juta itu berdasarkan asumsi bahwa program konversi minyak tanah ke gas melibatkan 40 juta kepala keluarga, yang masing-masing menggunakan dua tabung gas. Artinya, tabung gas yang riil beredar sekitar 80 juta. Sedangkan Asitab mencatat, sejak 2006 hingga 2009, produksi tabung lokal 54 juta, plus impor sebanyak 6 juta tabung, sehingga total baru 60 juta tabung.

Nah, tabung-tabung berkualitas rendah itulah yang diduga menjadi penyebab maraknya peristiwa ledakan gas yang makan korban jiwa dan harta benda. April lalu saja, di Jakarta tercatat enam kali ledakan tabung gas tiga kilogram yang merenggut lima jiwa dan melukai belasan orang serta merusak puluhan rumah.

Menurut catatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, pada Januari-April 2010 terjadi 205 kasus kebakaran, 28 kasus di antaranya akibat meledaknya tabung gas tiga kilogram. Artinya, bisa saja jumlah kasus meledaknya tabung gas itu lebih dari 28 kasus, mengingat ada juga ledakan gas yang tidak menimbulkan kebakaran.

Musibah ledakan gas tadi umumnya terjadi di rumah tangga akibat kelalaian penghuninya. Biasanya diawali kebocoran gas yang tidak disadari, yang keluar dari bagian katup dan regulator yang berkualitas rendah pula. Buruknya ventilasi menyebabkan gas yang bocor terakumulasi makin banyak di dapur. Tahu-tahu, ketika penghuni rumah menyalakan kompor, ledakan hebat pun bergema, disusul api berjilam.

Malapetaka ledakan gas elpiji juga kerap terjadi akibat keserakahan penyalur gas elpiji. Demi memperoleh keuntungan, mereka tak segan menempuh cara-cara membahayakan. Yakni dengan mengurangi sebagian isi tabung gas yang terisi penuh dan memindahkannya ke tabung gas yang kosong. Biasanya ini menyangkut tabung gas ukuran 12 kilogram.

Tapi kerap pula terjadi, isi tabung gas tiga kilogram yang disubsidi pemerintah disedot habis dan dipindahkan ke tabung gas 12 kilogram yang harganya lebih mahal karena non-subsidi. Praktek nyolong gas dengan istilah “gas suntik” atau “oplosan” ini sangat berisiko menimbulkan kebocoran gas.

Sejumlah kasus ledakan gas akibat praktek oplosan itu kerap terjadi. Yang anyar, misalnya, terjadi di Surabaya, Rabu dua pekan silam. Sebuah depot penyalur gas elpiji, CV Bintang Timur, di Jalan Slompretan Nomor 8, luluh lantak diterjang ledakan dahsyat. Bangunan tiga lantai itu rata dengan tanah. Ledakan juga memecahkan kaca-kaca gedung dalam radius 500 meter.

Empat karyawan CV Bintang Timur tewas terbakar dan terjebak di reruntuhan bangunan. Polisi menahan bos CV Bintang Timur, Jos Yulianto. Tersangka tadinya pengusaha bengkel bubut yang bangkrut sehingga banting setir menjadi penyalur gas elpiji. Tersangka mengaku melakukan aktivitas oplosan gas. “Ini jelas berbahaya dan ada unsur tindak pidananya,” kata Ajun Komisaris Besar Djoko Hari Utomo, Kepala Kepolisian Resor Surabaya Utara.

Musibah demi musibah ledakan menunjukkan, jika tidak digunakan secara hati-hati sebagaimana mestinya, gas elpiji akan selalu menebar malapetaka. Waspadalah!

Taufik Alwie, Mukhlison S. Widodo, Rukmi Hapsari, dan Arif Sujatmiko (Surabaya)
[NasionalGatra Nomor 33 Beredar Kamis, 24 Juni 2010]

http://www.gatra.com/2010-06-25/versi_cetak.php?id=139070