Category Archives: Politik

Pilih Bang Kumis atau Pak Klimis?

11 Juli kemarin ada pertandingan 5 tahunan di kampungku, Batavia. Ya, meskipun aku berdarah Jer-Man (Jejer Kauman), Batavia adalah tanah kelahiran sekaligus medan dimana aku dibesarkan. Pertandingan kali ini berlangsung lebih menarik dari pertandingan sebelumnya. Salah satu faktornya adalah karena jumlah calon yang naik 3 kali lipat. Ternyata kursi kepala kampungku kini semakin diminati.

Aku gemar mengamati perkembangan politik kampungku.. yah meskipun belum bisa berbuat banyak, minimal ada perhatian lah… Sejak awal, perhatianku lebih tertuju pada 3 kandidat. Mereka adalah Pak Jenggot, Bang Kumis dan Pak Klimis. Pak Jenggot adalah seorang Ustadz yang cukup lama berkecimpung dalam politik, partainya adalah partai pemegang rekor partai nomor satu dalam memobilisasi massa di kampungku (eh.. itu dulu ya, tdk tau kalau sekarang). Bang Kumis adalah incumbent yang didukung partai terbesar di kampungku. Dalam debat yang kuikuti ternyata beliau ini memang pintar, tapi sayang sebagian masyarakat agaknya jenuh dengan sikapnya yang terkesan arogan. Pak Klimis, lha ini… muda, gaul, low profile, dan milyarder pula (wow!), track recordnya di jadi kades kampung tetangga meskipun baru beberapa tahun sudah cukup mencengangkan. Citra beliau di media nasional dan internasional amat sangat baik. Dari segi kepintaran, menurutku kandidat No 3 ini kalah dibandingkan 2 kandidat sebelumnya, namun karakternya yang low profile dan penampakannya yang sederhana dibantu citra yang baik di media sudah barang tentu jadi potensi besar.

Dan ini terbukti pada putaran pertama. Dia berhasil menang. bang Kumis No 2, Pak Jenggot No 3. Aku ini mungkin bisa dikategorikan swing voters, karena sampai masa2 akhir masih bimbang memilih.

Yowis, daripada pusing aku pilih saja berdasarkan kemiripannya denganku :P. Pak Jenggot sudah kalah… sekarang pilihanku ada tiga.. Bang Kumis, Pak Klimis atau keduanya sekaligus 🙂

Ini pilihan sulit.. krn aku jarang banget  tampil klimis dan kendati berkumis.., kumisku tipiiiis sekali (lebih tipis dari kantongku kali.. 😛 ).

Dilihat dari sini, sebenarnya Bang Kumis lebih berpeluang.. tapi aku punya saran buat memuluskan laju Bang Kumis.. Tipiskan sedikit kumis Kebanggaan Anda!

Jangan Tertipu Visi, Misi dan Program Partai!

Jakarta – Kalau melihat visi, misi dan program yang digelar partai politik peserta pemilu di berbagai media, bisa jadi kita akan terkesima. Semua partai politik seolah berlomba menawarkan solusi jitu untuk memperbaiki nasib bangsa.
Namun, coba bandingkan visi, misi dan program antara satu partai politik dengan partai politik yang lain. Meski bahasanya berbeda, namun kalau dicermati, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar. Semuanya sama-sama berbicara tentang penyediaan lapangan kerja baru, swasembada pangan, penanganan krisis energi, pemberantasan korupsi, peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan, dan sebagainya. Pun, tidak ada penjelasan rinci bagaimana visi, misi dan program tersebut akan diimplementasikan.

Oleh karena itu, pemilih harus berhati-hati. Jangan mudah terpukau dengan visi, misi dan program yang disampaikan partai politik. Alasannya sederhana. Pertama, tidak ada hal yang baru dengan program-program yang ditawarkan oleh partai politik. Sebagian besar hanya bersifat jargon semata. Sebagian lainnya juga bisa ditemukan dalam buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah atau tulisan-tulisan pakar di bidangnya. 

Kedua, tidak semua program-program tersebut dapat dengan mudah diukur tingkat keberhasilannya. Misalnya, janji penyediaan lapangan kerja baru tentu harus dikritisi dengan pertanyaan: berapa banyak tenaga kerja yang bisa terserap? Berapa lama implementasinya? Berapa lama lapangan kerja tersebut dapat bertahan? Lagipula, banyak variabel di luar kontrol partai politik yang turut mempengaruhi keberhasilan program-program yang ditawarkannya, seperti krisis global misalnya.

Ketiga, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey, tidak akan ada partai politik yang dapat memperoleh suara mayoritas. Perolehan suara maksimal yang mungkin diperoleh suatu partai politik adalah sekitar 20 – 30% saja. Ini berarti tidak akan ada partai politik yang mampu sendirian mengimplementasikan program-program yang ditawarkannya. Semua partai politik akan terpaksa berkoalisi. Oleh karena itu, percuma menggantungkan harapan dari program-program yang ditawarkan oleh satu partai politik saja.

Apakah berarti partai politik tidak perlu menawarkan visi, misi dan programnya? Hal itu tetap penting. Bagaimanapun juga membuat suatu perencanaan lebih baik daripada tidak membuat perencanaan sama sekali. Namun, sekali lagi, pemilih akan kecewa kalau hanya melihat dari hal itu saja.

Pemilih harus melihat kapabilitas dan kualitas caleg yang ditawarkan oleh partai politik yang bersangkutan. Percuma menawarkan visi, misi dan program yang menjulang setinggi langit kalau ternyata caleg yang diusulkannya ternyata tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengimplementasikan visi, misi dan program partainya. 

Oleh karena itu, sangat penting untuk memperhatikan rekam jejak (track record) caleg yang diusulkan oleh partai politik. Pemilih dapat menilai kemampuan caleg setidak-tidaknya dari latar belakang pendidikannya, latar belakang pekerjaannya, dan pengalaman organisasi serta aktivitas sosial yang relevan lainnya.

Bayangkan saja, bagaimana mungkin menggantungkan harapan kepada seorang caleg yang berbicara tentang pendidikan, kalau misalnya dia tidak pernah sekalipun terlibat dalam aktivitas pendidikan atau setidak-tidaknya pernah membuat tulisan atau penelitian tentang pendidikan. Apalagi kalau ternyata, latar belakang pendidikan dan pekerjaannya sama sekali tidak berkaitan dengan bidang yang dikampanyekannya itu.

Untuk itu, kalau partai politik punya itikad baik, seharusnya partai politik juga mau mengumumkan informasi lengkap caleg yang diusulkannya. Dengan begitu, pemilih dapat menilai apakah partai politik punya sumber daya manusia dengan kapabilitas dan kualitas yang memadai untuk mengimplementasikan visi, misi dan program yang ditawarkannya. Untuk apa memilih partai politik yang hanya berani mengumbar janji, tapi tidak berani memberi informasi yang memadai.

*) Ari Juliano Gema, Ketua Indonesian Society for Civilized Election (ISCEL), ari.juliano@iscel.org ( asy / asy )  

http://pemilu.detiknews.com/read/2009/03/10/211242/1097350/704/jangan-tertipu-visi-misi-dan-program-partai

ANTARA BALI DAN GAZA

2008-01-30 13:55:32

kispa.org – Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita semua bahwa umat Islam itu laksana satu bangunan yang kokoh, di mana jika ada satu bagian yang disakiti, maka bagian yang lain juga turut merasakan. Satu merasakan lapar, maka yang lain harus bersikap empati untuk tidak berfoya-foya menghamburkan uang. Inilah yang saya ingat kuat-kuat dan saya berusaha untuk sekuat mungkin tidak ingin melukai perasaan saudara-saudara seiman saya.

Beberapa hari lalu, sejumlah teman mengajak saya berikut keluarga untuk pergi ke Bali. Kata teman saya, agenda utamanya adalah Mukernas sebuah partai politik. “Di Bali, partai kita akan menjadi partai politik terbuka, tidak lagi ekslusif. sebab itu Pulau Bali ditunjuk sebagai lokasi penyelenggaraan mukernas, ” ujarnya.

Saya sudah lama mendengar rencana ini. Bahkan saya tahu siapa aktor utama di belakang pemilihan Bali sebagai lokasi Mukernas. Pulau Bali sengaja dipilih agar partai politik yang awalnya berangkat dari kalangan pengajian ini dianggap sebagai partai terbuka. Sah-sah saja alasan demikian. Namun saya secara pribadi agak bingung rasionalisasi dari rencana itu. Saya pernah tinggal selama setengah tahun di Bali, dan saya tahu persis bahwa Bali itu hidup cuma malam hari, siang sepi sunyi. Saya tidak sampai hati mengatakan bahwa di sana itu gudangnya maksiat, tapi itulah yang saya alami sendiri.

Mengetahui saya agak berat untuk ikut ke Bali, kawan saya mencoba membujuk. “Di Bali, kita tidak hanya mukernas, tapi juga rihlah, sebab itu kita juga mengajak keluarga kita semua. Bahkan beberapa biro perjalanan sudah menyatakan mau bekerjasama…, ” ujarnya lagi.

Astaghfirullah… saya mengurut dada. Belum kering lidah ini berteriak-teriak selamatkan Muslim Gaza dalam demo kemarin di Jakarta, sekarang demikian mudahnya memikirkan rihlah, ke Bali pula… Ketika saat berteriak-teriak selamatkan Muslim Gaza kita hanya menyumbangkan One Man One Dollar. Tapi ke Bali…? Tentu berlipat-lipat dollar yang harus dikeluarkan dari kantong kita… Dan sungguh, uang yang kita keluarkan tentu banyak yang tidak mengalir ke kantong saudara-saudara seiman kita di sana… Bahkan bukan mustahil, uang yang keluar dari dompet kita akan mengalir ke Israel, karena banyak resor dan penginapan di Bali melakukan promosi besar-besaran dengan berbagai perusahaan dan media massa Zionis-Israel.

Saya masih terdiam. Saya tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang berkecamuk di dalam dada saya. Sebagai seorang kader inti yang sudah mengaji sejak tahun 1980-an, seharusnya dia tahu apa yang membuat saya sangat berat untuk ikut ke Bali. …Saudara-saudara kita di Gaza, Falujah, kelaparan, hidup bagaikan di dalam neraka, kita di sini malah sibuk memikirkan rihlah ke Bali. Ya Allah… ampunilah hamba-Mu yang dhaif ini karena akal hamba tidak mampu menemukan urgensi antara Bali dengan Gaza…

Saya akhirnya menggeleng. Saya tidak sampai hati bersenang-senang, bermalam di kamar ber-AC, menikmati breakfast, lunch, dan dinner di hotel yang berkecukupan, pergi ke pantai di antara jejeran tubuh bugil para turis bule, sedangkan saudara-saudara saya di Gaza, Falujah, dan di belahan bumi lainnya masih hidup bagaikan di neraka jahanam. Saya tidak tega.

Kawan saya akhirnya menyerah. Dia tetap pergi bersama keluarganya ke Bali. Saya pulang malam itu dengan langkah gontai. Menyusuri gelapnya jalanan kompleks.

Ya Allah… Kian hari, saya kian merasa sendiri… Kian hari saya kian merasa terasing dari kawan-kawan sendiri… kian hari kian merasa sunyi…. kian terasa senyap dan perih…. Saya mencoba menghibur diri, “Toh, jika kita mati, kita pun akan sendirian…”

(Elegi akhir Januari 2008). (eramuslim/fn)

 http://www.kispa.org/index.php/view/berita/datetimes/2008-01-30+13%3A55%3A32