Category Archives: Islam

Buya Hamka, Ulama, Penulis, dan Politisi

Nidia Zuraya (republika online – 07 Februari 2010)

Beliau adalah satu dari sedikit ulama Indonesia yang mendapat gelar sebagai mufassir (ahli tafsir).

Sosok Buya Hamka sudah tak asing di Indonesia. Ia adalah tokoh dan panutan umat yang sangat disegani. Ulama asal Maninjau (Sumatra Barat) ini, bahkan terkenal hingga negara-negara di kawasan Asia, bahkan Timur Tengah. Namanya melambung tinggi, berkat karyanya yang sangat fenomenal, yakni Tafsir Al-Azhar, yang ditulisnya saat berada dalam penjara.

Keberhasilannya dalam menafsirkan Alquran dan ditulis saat berada di penjara, mengingatkan perjuangan Sayyid Quthb, seorang tokoh Muslim yang juga berhasil menyelesaikan penulisan tafsir Alquran yang kemudian diberi nama Fi Zhilal Al-Qur’an (Di bawah Lindungan Alquran).

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, demikian nama akronim dari singkatan Hamka. Nama Buya adalah panggilan khas Minangkabau atau Minang untuk orang tua yang bermakna Ayah (Abu, Abi, Abuya).
Ensiklopedi Islam menyebutkan, tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) selama kurang lebih tiga tahun.

Namun, bakat yang dimilikinya dalam bidang bahasa, membuat Hamka dengan cepat bisa menguasai bahasa Arab, dan ini mengantarkannya mampu membaca secara luas literatur Arab, termasuk terjemahan dari tulisan-tulisan Barat.

Sebagai seorang anak tokoh pergerakan, sejak kanak-kanak Hamka sudah menyaksikan dan mendengar langsung pembicaraan tentang pembaharuan dan gerakannya melalui ayah dan rekan-rekan ayahnya. Ayah Hamka adalah H Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh pelopor gerakan Islam ‘Kaum Muda’ di Minangkabau.

Sejak usia muda, Hamka sudah dikenal sebagai seorang pengelana. Sang ayah bahkan menjulukinya ‘Si Bujang Jauh’. Pada 1942, dalam usia 16 tahun, ia pergi ke Jawa untuk menimba pelajaran tentang gerakan Islam modern melalui H Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin yang mengadakan kursus-kursus pergerakan di Gedung Abdi Dharmo di Pakualaman, Yogyakarta.

Setelah beberapa lama menetap di Yogyakarta, ia berangkat ke Pekalongan dan menemui kakak iparnya, AR Sutan Mansur, yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Di kota ini ia berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat. Pada bulan Juli ia kembali ke Padangpanjang dan turut mendirikan Tablig Muhammadiyah di rumah ayahnya di Gatangan, Padangpanjang. Sejak itulah ia mulai berkiprah dalam organisasi Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Tegas dan Kritis
Ketokohannya dalam bidang ilmu agama, menempatkannya sebagai sosok ulama yang hebat. Julukannya telah diakui banyak kalangan. Apalagi dengan tafsirnya yang berjudul Tafsir Al-Azhar, merupakan fenomena yang mengagumkan, mengingat sedikit sekali ulama Indonesia yang mampu menafsirkan Alquran hingga tuntas. Bahkan, hingga saat ini, sangat sedikit ulama Indonesia yang mendapat gelar sebagai mufassir. Di antara mereka adalah Buya Hamka, Mahmud Yunus, dan Qurais Shihab.

Buya Hamka, dikenal sebagai sosok ulama yang kritis dan teguh pendirian. Ia bahkan beberapa kali terlibat perdebatan, mulai dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga pemerintah Orde Lama. Hal itu dilakukannya demi memperjuangkan dakwah Islam.

Sikap tegasnya ini juga ditunjukkannya manakala pada 1975 ia diberi kepercayaan oleh Menteri Agama, Prof Dr H Mukti Ali, untuk duduk menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, akhirnya, jabatan itu tak bertahan lama, Buya Hamka melepaskan jabatannya tersebut.

Saat itu, sebagai Ketua MUI, Buya Hamka berkeinginan untuk menjadikan organisasi ulama itu sebagai organisasi yang independen, tanpa pengaruh dari pihak manapun. Kantor sekretariat yang sebelumnya berada di Masjid Istiqlal dipindahkan ke Masjid Al-Azhar.

Fatwa Haram
Usaha Hamka untuk membuat independen lembaga MUI mulai terasa ketika pada awal 1980 lembaga ini berani melawan arus dengan mengeluarkan fatwa mengenai persoalan perayaan Natal bersama. Saat itu Hamka menyatakan haram bila ada umat Islam mengikuti perayaan keagamaan itu. Keberadaan fatwa tersebut kontan saja membuat geger publik.

Terlebih lagi pada waktu itu arus kebijakan pemerintah tengah mendengungkan isu toleransi. Berbagai instansi waktu itu ramai mengadakan perayaan Natal bersama. Bila ada orang Islam yang tidak bersedia ikut merayakan natal, mereka dianggap kaum fundamentalis dan anti-Pancasila.

Keadaan itu kemudian memaksa MUI mengeluarkan fatwa. Risikonya Hamka pun mendapat kecaman. MUI ditekan dengan gencarnya melalui berbagai pendapat di media massa yang menyatakan bahwa fatwa tersebut akan mengancam persatuan negara. Melalui sebuah tulisan yang dimuat di majalah Panjimas, Hamka berupaya mempertahankan fatwa haram merayakan Natal bersama bagi umat Islam yang dikeluarkannya.

Hamka tetap berpendirian teguh dan tidak akan mencabut fatwa Natal tersebut. Karena itu, daripada mencabut fatwa yang menurutnya jelas-jelas benar, akhirnya Hamka lebih memilih untuk meletakkan jabatannya setelah ada desakan dari pemerintah. Ia mundur dari MUI pada 21 Mei 1981. Tak lama kemudian, beliau meninggal dunia, tepatnya pada 24 Juli 1981.

Oleh sejumlah kalangan, sikap tegas Hamka ketika memimpin MUI merupakan cerminan dari pribadinya. Bahkan, banyak pihak yang mengatakan sepeninggal Hamka, Fatwa MUI terasa menjadi tidak lagi menggigit. Bahkan di masa Orde Baru, posisi lembaga ini terkesan hanya sebagai tukang stempel kebijakan pemerintah terhadap umat Islam belaka.

Penulis Aktif
Di tengah kesibukannya mengurusi umat, Buya Hamka masih sempat menulis sejumlah buku. Mulai dari Novel, Sejarah Islam, hingga tafsir Alquran. Namanya dikenal luas berkat karya-karyanya. Kecintaannya terhadap dunia menulis ini dimulai ketika ia memutuskan memasuki dunia jurnalistik pada akhir 1925. Saat itu ia mengirim artikel ke harian Hindia Baru, yang dieditori oleh Haji Agus Salim, seorang pemimpin politik Islam. Sekembalinya ke Padangpanjang, Hamka mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah.

Sejak saat itu, dia mulai rajin menulis karya-karya sastra. Bukunya yang pertama merupakan sebuah novel Minangkabau berjudul Si Sabariah, terbit pada 1925. Dia secara teratur mengirimkan artikel ke jurnal-jurnal lokal dan menerbitkan buku kecil mengenai adat Minangkabau dan sejarah Islam. Pada 1936, dia menerima tawaran menjadi editor kepala pada sebuah jurnal Islam baru di Medan, Pedoman Masyarakat. Ketika dia menjabat sebagai editor, jurnal ini menjadi salah satu yang paling sukses dalam sejarah jurnalisme Islam di Indonesia.

Dalam kehidupan Hamka, masa-masa ketika tinggal di Medan (1936-1945) merupakan tahun-tahun paling produktif. Selama periode ini dia menulis dan memublikasikan sebagian besar novelnya.

Di antaranya Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1937), Merantau ke Deli (1940), dan Di Dalam Lembah Kehidupan (1940). Dia juga menulis buku-buku mengenai etika Islam dan tasawuf, seperti Tasawuf Modern (1939), Lembaga Budi (1939), dan Falsafah Hidup (1940). Pada 1949, ia menerbitkan biografi orang tuanya dengan judul Ayahku, yang juga memaparkan sejarah gerakan Islam di Sumatra, di samping memoar empat jilid berjudul Kenang-Kenangan Hidup dan jilid pertama Sejarah Umat Islam.

Pada 1950, ia mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Dalam kesempatan ini ia bertemu dengan pengarang-pengarang Mesir yang telah lama dikenalnya lewat karya-karya mereka, seperti Taha Husein dan Fikri Abadah. Sepulang dari lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.

Bersama dengan KH Fakih Usman (menteri agama dalam Kabinet Wilopo 1952), pada Juli 1959, ia menerbitkan majalah tengah bulanan Panji Masyarakat. Majalah ini menitikberatkan soal-soal kebudayaan dan pengetahuan agama Islam. Majalah ini kemudian dibreidel pada 17 Agustus 1960 dengan alasan memuat karangan Dr Muhammad Hatta berjudul ‘Demokrasi Kita’, yang isinya mengkritik tajam konsep Demokrasi Terpimpin.

Majalah ini baru terbit kembali setelah Orde Lama tumbang, tepatnya pada 1967. Hamka sendiri dipercaya sebagai pimpinan umum majalah Panji Masyarakat hingga akhir hayatnya.

Hobi menulis ini tetap ditekuninya manakala ia berada di balik terali besi penjara. Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan kitab Tafsir al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde Lama tumbang.

Hamka meninggalkan karya yang sangat banyak; di antaranya yang sudah dibukukan tercatat lebih kurang 118 buah, belum termasuk karangan-karangan panjang dan pendek yang dimuat di berbagai media massa dan disampaikan dalam beberapa kesempatan kuliah atau ceramah ilmiah. Tulisan-tulisan itu meliputi banyak bidang kajian, seperti politik, sejarah, budaya, akhlak, dan ilmu-ilmu keislaman.

Ketokohan Hamka tak hanya di Indonesia, tapi hingga mancanegara. Hal ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang diperolehnya. Seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk dan Pengeran Wiroguno dari Pemerintah Indonesia.

Sementara itu, dalam bidang politik, Buya Hamka sempat menduduki jabatan sebagai angota Konstituante (Parlemen) saat pemerintahan Orde Lama yang dipimpin Soekarno dari Masyumi. berbagai sumber ed : sya

Karya-Karya Hamka

1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
2. Si Sabariah. (1928)
3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq), 1929.
4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).
7. Hikmat Isra’ dan Mikraj.
8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.
9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
10. Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.
11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
12. Mati Mengandung Malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
13. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
15. Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
16. Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
17. Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
18. Tuan Direktur 1939.
19. Dijemput mamaknya, 1939.
20. Keadilan Ilahy 1939.
21. Tashawwuf Modern 1939.
22. Falsafah Hidup 1939.
23. Lembaga Hidup 1940.
24. Lembaga Budi 1940.
25. Majallah ‘SEMANGAT ISLAM’ (Zaman Jepang 1943).
26. Majallah ‘MENARA’ (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
27. Negara Islam (1946).
28. Islam dan Demokrasi, 1946.
29. Revolusi Pikiran, 1946.
30. Revolusi Agama, 1946.
31. Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, 1946.
32. Dibantingkan Ombak Masyarakat, 1946.
33. Didalam Lembah Cita-cita,1946.
34. Sesudah Naskah Renville,1947.
35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
36. Menunggu Beduk Berbunyi,1949 di Bukittinggi, Sedang Konperansi Meja Bundar.
37. Ayahku,1950 di Jakarta.
38. Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
39. Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
40. Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
41. Kenangan-kenangan Hidup 1, Autobiografi sejak lahir 1908-1950.
42. Kenangan-kenangan Hidup 2.
43. Kenangan-kenangan Hidup 3.
44. Kenangan-kenangan Hidup 4.
45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
49. Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
50. Pribadi,1950.
51. Agama dan Perempuan,1939.
52. Muhammadiyah Melalui 3 Zaman,1946,di Padang Panjang.
53. 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
54. Pelajaran Agama Islam,1956.
55. Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
56. Empat Bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
57. Empat Bulan di Amerika Jilid 2.
58. Pengaruh Ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), untuk gelar Doktor Honoris Causa.
59. Soal Jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
60. Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
61. Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
62. Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
64. Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
66. Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
67. Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
68. Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
69. Cita-cita Kenegaraan dalam Ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
70. Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
71. Himpunan Khutbah-khutbah.
72. Urat Tunggang Pancasila.
73. Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
74. Sejarah Islam di Sumatera.
75. Bohong di Dunia.
76. Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
77. Pandangan Hidup Muslim,1960.
78. Kedudukan Perempuan dalam Islam,1973.
79. Tafsir Al-Azhar 30 Juz, ditulis saat berada di penjara.

sumber : tokohindonesia/wikipedia

http://www.facebook.com/topic.php?uid=38189155987&topic=13136

http://koran.republika.co.id/koran/0/103570/Buya_Hamka_Ulama_Penulis_dan_Politisi

Kiat Sukses Berinteraksi Dengan Al-Qur’an 6; Teori Pergerakan Dalam Mentadabburkan dan Berinteraksi Dengan Al-Quran

Mentadabburkan Al-Quran merupakan kewajiban & berinteraksi dengannya merupakan dharuri -keharusan –, sedangkan hidup di bawah naungannya merupakan kenimatan yang tidak dapat dimiliki kecuali orang yang dapat merasakannya, kenimatan yang memberikan keberkahan hidup, mengangkat & mensucikannya. Hal ini tidak akan dirasakan kecuali bagi siapa yang benar-benar hidup dibawah naungannya, merasakan berbagai kenimatan yang bisa dirasakan, mengambil dari pengaruh-pengaruhnya dari hal-hal yang dapat diraih, mendapatkan darinya kelembutan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan & kelapangan. (1)

Disini kami ingin memberikan kepada pembaca yang budiman ungkapan-ungkapan yang baik & bermutu tentang pengalaman nyata yang dilakukan oleh seorang pemikir muslim kontemporer Asy-Syahid Sayyid Qutb yang terekam dalam kitabnya Fi Dzilali Al-Quran, kami akan meringkas ungkapan-ungkapan tersebut sesuai dg kebutuhan zaman & dapat memberikan penerangan bagi para pembaca jalan yang benar dalam rangka mentadabburkan Al-Quran & memahaminya, menelaah teori yang benar dalam berinteraksi dg Al-Quran, beraktivitas & hidup di bawah naungannya.

Teori ini harus diketahui oleh kaum muslimin, agar mereka dapat memahami kunci pergerakan dalam membuka rahasia-rahasia pergerakan Al-Quran yang sangat berharga. Kami menyerukan seperti yang telah diserukan oleh guru kita Ustadz Sayyid Qutb, dg teori yang baru dalam memahami, mentadabburkan & menafsirkan Al-Quran, yaitu teori Tafsir al-haraki 2“Tafsir Pergerakan” yang oleh Ustadz Sayyid Qutb dianggap sebagai puncak & pemberi penjelasan akan dasar-dasarnya, peletak madrasah “tafsir pergerakan” yang menjadikan Al-Quran hidup dg nyata & memberi pengaruh positif bagi kaum muslimin kontemporer. Yang mana Allah telah menganugrahkan kepadanya kunci yang fundamental “kunci pergerakan” yang dapat membuka rahasia-rahasia Al-Quran, yang ingin dihadirkan dalam kitabnya Fi Dzilal Al-Quran. (2)

Sesungguhnya masalah ini –dalam memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran & sentuhan-sentuhannya- bukanlah terletak dalam memahami lafazh-lafazh & kalimat-kalimatnya, & bukan pd tafsir Al-Qur’an – sebgaimana yang kita sangka !- . Namun masalahnya adalah kesiapan jiwa dg menghadirkan perasaan, indra & pengalaman : persis seperti kesiapan perasaan, indra & pengalaman saat diturunkannya Al-Quran, yang selalui menyertai kehidupan jamaah muslimah yang bergelut dalam peperangan, bergelut dalam jihad; jihadun nafs2 –jihad melawan hawa nafsu-, & jihadun nas2 –jihad melawan manusia-; jihad melawan nafsu angkara & jihad melawan musuh; Dengan melakukan usaha & pengorbanan, takut & harap, kuat & lemah, jatuh & bangkit; Dalam lingkungan kota Mekkah yang keras & saat dawah berkembang; dalam kondisi minoritas & lemah serta asing di tengah-tengah umat yang kafir; di tengah lingkungan yang terkucil & terkepung, lapar & sakit, tertekan & terusir, & terembargo –terputus- dari berbagai sarana kecuali hanya mengharap dari Allah. Atau di tengah & lingkungan Madinah : lingkungan pergerakan pertama bagi masyarakat muslim yang berada & menghadapi antara tipu daya, kemunafikan, penuh kedisiplinan & kebebasan menunaikan perintah Allah; suasana perang Badar, perang Uhud & perang Khondaq serta perjanjian Hudaibiyah. Pada suasana “Al-Fath”2 (kemenanagan), saat perang Hunain, perang Tabuk. Pada saat pertumbuhan umat Islam yang pesat, perkembangan sistem kemasyarakatan yang cepat & persatuan yang hidup antara perasaan, kemaslahatan & prinsip dalam memuliakan pergerakan & dalam naungan sistem.

Dalam suasana seperti itu semua ayat-ayat Al-Quran diturunkan, sehingga memberi kehidupan yang baik & faktual; melalui kalimat-kalimat yang penuh hikmah, ungkapan-ungkapan yang penuh pelajaran,petunjuk-petunjuk yang penuh berkah serta sentuhan-sentuhannya yang penuh dg kelembutan.

Dalam suasana seperti itu & dalam menyertai awal pergerakan pelaksanaan kehidupan Islam yang baru; Al-Quran diturunkan dg membawa kandungan ayat yang membukakan hati yang tertutup & melembutkan jiwa yang keras, & memberi petunjuk pribadi yang sesat; memberikan rahasia-rahasianya, menebarkan keharuman, & membimbing kepada petunjuk & cahaya” (3)

Dari paargraf diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pokok utama yang harus kita jadikan pegangan dalam menafisrkan Al-Quran & mentadabburkannya adalah sebagai berikut :

1. Membekali diri dg persiapan perasaan, pengetahuan –indra- & pengalaman dalam memahami nash-nash Al-Quran & merasakan sentuhan-sentuhannya.

2. Mempokuskan diri –dengan instink, perasaan & indranya- pd suasana & lingkungan saat diturunkannya Al-Quran, baik lingkungan di Mekkah / di Madinah, agar dapat menemukan jejak rahasia & pengaruh Al-Quran dalam memberikan petunjuk kepada generasi salaf2.

3. Memperhatikan sikap para sahabat –lingkungan Mekkah & Madinah- dg memahami & berinteraksi dg Al-Quran serta kehidupan mereka bersama Al-Quran.

4. Menenliti beberapa tujuan utama Al-Quran, metode aktual pergerakan yang di celupkan terhadap kehidupan umat Islam, serta diturunkannya Al-Quran secara realita; dg sungguh-sungguh, sadar & giat.

5. Mengamalkannya & menerapkannya dalam kehidupan dawah dalam jihad; seperti halnya yang diterapkan oleh para sahabat –khususnya pd periode “Mekkah”- & pergerakan teoritis jihad bersama Al-Quran, mensibukkan diri, perasaan & angoota tubuh lainnya dg Al-Qur’an, & memahami kondisi jiwa yang berat saat & siksaan diterima saat menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

6. Menerima Al-Quran dg sepenuh hati, sehingga didapati darinya jawaban yang nyata & obat penyembuh dari segala permasalahan yang dihadapi & penyakit yang diderita; baik jiwa, ruh & jasad serta akal fikiran.

Jika kita pindahkan perhatian kita kepada “Fi Dzilal Al-Quran” utk membahas ungkapan-ungkapan yang menjelaskan teori pergerakan dalam mentadabburkan & menafsirkan Al-Quran. Maka akan kita dapatkan banyak sekali hal-hal yang terkait dg kenikmatan hidup bersama Al-Qur’an.

Ustadz Sayyid Qutb menyeru kepada kita utk hidup di bawah naungan Al-Quran –sebagaimana ia hidup di dalamnya- utk menemukan rahasia, tabiat & kunci-kuncinya.

Hidup di bawah naungan Al-Quran, bukan berari mempelajari Al-Quran & membacanya serta menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Namun yang dimaksud disini adalah hidup di bawah naungna Al-Quran: Manusia berada di bawah naungannya; dalam berbagai suasana & kondisi; dalam bergerak, saat lelah, saat bertarung, & saat sedih serta saat bergembira & senang. Seperti yang terjadi pd masa awal turunnya Al-Quran.! ;Hidup dengannya dalam menghadapi kejahiliaan yang menggejala dipermukaan bumi saat ini; dalam hatinya, niatnya & geraknya; terpatri dalam jiwanya yang selalu bergelora akan ruh Islam; dalam jiwa umat manusia & dalam kehidupannya & kehidupan seluruh manusia juga.

Hidup yang berhadapan dg kejahiliaan; dg berbagai penomena-fenomenanya, tindak-tanduknya & adat istiadatnya; dg seluruh geraknya & tekanan yang dilancarkannya, bahkan -jika perlu- perang dengannya sebagai usaha utk mempertahankan aqidah rabbaniyah, sistem rabbani, segala methode & gerak yang bermanhaj robbani.

Inilah lingkungan Al-Quran yang mungkin manusia bisa hidup di dalamnya, merasakan kenikmatan hidup di dalamnya, karena dg lingkungan demikianlah Al-Quran turun, sebagaimana dalam lingkungan begitu pula Al-Quran diamalkan. Bagi siapa yang tidak mau menjalani kehidupan seperti itu, maka dirinya akan jauh & terkucil dari hidayah Al-Quran, walaupun mereka tenggelam dalam mempelajarinya, membacanya & menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.

Usaha yang mesti kita kobarkan utk membangun jembatan antara orang-orang yang mukhlis & Al-Quran bukanlah tujuan kecuali setelah melintasi jembatan tersebut hingga sampai pd satu tempat lain & berusaha menghidupkan lingkungan Al-Quran secara baik; dg amal & pergerakan. Hingga pd saatnya nanti mereka akan merasakan keberadaan Al-Quran; menikmati kenikmatan yang telah Allah anugrahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. (4)

Dan menunjukkan kepada kita cara yang terbaik dalam membaca, mentadabburkan, & mendapatkan rahasia-rahasia & kandungan Al-Quran, beliau berkata : “Sesungguhnya Al-Quran harus dibaca, para generasi umat islam hendaknya menelaahnya dg penuh kesadaran. Harus ditadabburi bahwasannya Al-Quran memiliki arahan-arahan yang hidup, selalu diturunkan hingga hari ini guna memberikan solusi pd masalah yang terjadi saat ini & menyinari jalan menuju masa depan yang gemilang. Bukan hanya sekedar ayat dibaca dg merdu & indah, / sekedar dokumentasi akan hakekat peristiwa yang terjadi pd masa lampau.

Kita tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Quran ini sampai kita mendapatkan darinya arahan-arahan tentang kehidupan realita kita pd saat ini & mendatang, sebagaimana yang telah didapati oleh para generasi islam pertama, saat mereka mengambil & mengamalkan arahan-arahan & petunjuk-petunjuk Al-Quran dalam kehidupan mereka. Saat kita membaca Al-Quran dg penuh penghayatan, maka kita akan dapati apa yang kita inginkan; Kita akan dapati keajaiban yang tidak terbetik dalam jiwa kita yang pelupa ! kita juga akan dapati kalimat-kalimatnya yang teratur, ungkapan-ungkapannya yang indah, & petunjuk-petunjuknya yang hidup, mengalir & bergerak serta mengarahkan menuju petunjuk jalan yang lurus” (5)

Disebutkan –dalam pembukaan surat Ali Imron sebagai surat peperangan & pergerakan- tentang kenikmatan hidup dg Al-Quran & syarat-syarat utk mencapai & meraihnya. Akan tampak disana kerugian yang mendalam antara kita & Al-Quran jika kita tidak berusaha mengamalkannya secara baik, menghadirkan dalam persepsi kita bahwa Al-Quran ini diberikan kepada umat yang giat & punya kesemangatan hidup, memiliki eksistensi diri dg baik, & menghadapi berbagai peristiwa-peristiwa yang menimpa dalam kehidupn umat ini.

Akan tampak disana dinding pemisah yang sangat tinggi antara jiwa kita & Al-Quran, selama kita membacanya / mendengarnya seakan ia hanya sekedar bacaan ibadah saja & tidak memiliki hubungan denga realita kehidupan manusia saat ini.

Mukjizat Al-Quran yang mengagumkan meliputi, saat dia diturunkan guna menghadapi realita tertentu & umat tertentu, pd masa dari masa-masa sejarah yang tertentu, khususnya umat ini yang berada dalam menghadapi perang yang sangat besar yang berusaha mengubah sejarah ini & sejarah umat manusia seluruhnya. Namun –besamaan dg ini- Al-Quran diperlakukan, dihadirkan & dimiliki hanya utk menghadapi kehidupan modern saja, seakan-akan dia diturunkan pd saat menanggulangi jamaah Islam pd permasalahan yang sedang berlangsung, dalam peperangan yang terjadi dg jahiliyah disekitarnya.

Agar kita dapat meraih kekuatan yang dimiliki Al-Quran, mendapatkan hakekat yang terdapat di dalamnya dari kehidupan yang menyeluruh, meraih petunjuk yang tersimpan utk jamaah muslimah pd setiap generasi. Maka selayaknya kita harus menghadirkan persepsi kita seperti generasi Islam pertama saat diturunkan kepada mereka Al-Quran pertama kali sehingga mereka bergerak dalam realita kehidupan mereka secara nyata.

Dengan teori ini kita akan dapat melihat kehidupan yang bergerak di tengah kehidupan generasi Islam pertama, & begitupun dg kehidupan kita saat ini; kita merasakan bahwa Al-Qur’an akan selalu bersama kita saat ini & nanti –masa mendatang-, & Al-Qur’an bukan hanya sekedar bacaan saja yang jauh dari kehidupan nyata yang terbatas. (6)

“Bahwa nash-nash Al-Quran tidak akan dapat difahami dg baik hanya melalui pemahaman dari petunjuk-petunjuk secara bayan & bahasa saja, namun yang pertama kali -dan sebelum yang lainnya- yang harus dilakukan adalah dg merasakan kehidupan dalam suasana sejarah pergerakan & dalam realita positif, & menghubungkannya dg realita kehidupan nyata. Karena Al-Qur’an tidak akan terbuka rahasianya hanya melalui pandangan yang jauh ini kecuali dalam wujud persesuaian realita sejarah, sehingga akan tampak sentuhan-sentuhannya yang kontinyu, objektivitasnya yang terus menerus. Namun bagi siapa yang bergerak dg ajarannya saja, yaitu mereka yang hanya membahas nash-nash Al-Quran dari segi bahasa & bayan saja, maka hanya akan mendapat luarnya saja, sementara bagian dalamnya jauh dari hatinya. (7)

Sesungguhnya Al-Quran memiliki tabiat pergerakan & misi yang nyata, hidup & bergerak, dari sini berarti Al-Quran tidak akan bisa dirasakan & dinikmati dg baik kecuali bagi siapa yang bergerak secara benar & pasti dalam realita kehidupannya. Beliau berkata : “sesungguhnya Al-Qur’an tidak bisa dirasakan kecuali yang turun & bergelut dalam kancah peperangan ini, bergerak seperti yang terjadi sebelumnya saat pertama kali diturunkan Al-Quran. Sedangkan mereka Mempelajari Al-Quran dari segi bayan / sekedar seninya saja, maka tidak akan dapat memiliki hakekat kebenaran sedikitpun darinya hanya sekedar duduk-duduk, berdiam diri & merasa tenang, namun jauh dari kancah pertempuran & jauh dari pergerakan.

Bahwa hakekat Al-Quran ini, selamanya tidak akan dapat direngkuh oleh orang-orang yang malas; & bahwa rahasia yang terkandung didalamnya tidak akan muncul bagi siapa yang terpengaruh dg ketentraman & ketenangan beribadah kepada selain Allah, bergaul utk thogut-thogut musuh Allah & umat Islam. (8)

Bahwa pengertian diatas dikuatkan dg pernyataan lainnya : “Demikianlah Al-Quran akan terus bergerak pd hari ini & esok –masa mendatang- dalam memunculkan kebangkitan Islam, menggerakannya dalam jalan dawah yang terprogram”.

Gerakan ini tentunya butuh kepada Al-Quran yang memberikan ilham & wahyu. Ilham dalam manhaj haraki, konsep & langkah-langkahnya, sedangkan wahyu mengarahkan konsep & langkah tersebut jika dibutuhkan, & memberi kekuatan batin terhadap apa yang akan dihadapi di penghujung jalan.

Al-Quran –dalam persepsi ini- tidak hanya sekedar ayat-ayat yang dibaca utk meminta berkah, namun didalamnya berlimpahan kehidupan yang selalu turun atas jamaah muslimah yang bergerak bersamanya, mengikuti arahan-arahannya, & mengharap ganjaran & janji Allah SWT.

Inilah yang kami maksud bahwa Al-Quran tidak akan terbuka rahasia-rahasianya kecuali bagi golongan muslim yang berinteraksi dengannya utk merealisasikan petunjuk-petunjuknya di alam realita, bukan bagi mereka yang hanya sekedar membacanya utk meminta berkah ! bukan bagi mereka yang membacanya hanya utk belajar seni & keilmuan, & juga bukan bagi mereka yang hanya mempelajari & membahas dalam bidang bayan saja !

Mereka semua sama sekali tidak akan mendapatkan dari Al-Quran sesuatu apapun, karena Al-Quran tidak diturunkan bukan utk sekedar dipelajari & dijadikan mata pelajaran namun sebagai pelajaran pergerakan & taujih –pemberi petunjuk & arahan-.” (9)

Karena itu, bersegeralah memperbaiki pemahaman Al-Quran & mentadabburkannya, berinteraksi dengannya seputar teori pergerakan, menggunakan kunci-kunci yang memberi petunjuk dalam berinteraksi & mentadabburkan Al-Qur’an. Karena yang demikian sesuai dg tabiat dasar Al-Quran yang mulia & karakteristiknya yang unik. Dan ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah “Realita pergerakan” sebagai kunci dalam berinteraksi dg Al-Kitab yang mengagumkan & mukjizat yang indah & memberi petunjuk.

”Karena itu gerakan Islam akan selalu berhadapan –yang menjadi kebutuhan & tuntutan- setiap kali berulang masa ini (masa penghalangan dawah Islam di Mekkah antara tahun kesedihan & Hijrah), seperti yang dihadapi gerakan Islam sekarang di era modern ini.

Dan yang demikian harus disertai dg keadaan, situasi, kondisi, kebutuhan, & tuntuan realita amaliyah seperti saat diturunkannya Al-Quran pertama kali. Dan hal tersebut guna mengetahui arah tujuan nash & aspek-aspek petunjuk-petunjuknya, meneropong sentuhan-sentuhannya yang selalu bergerak di tengah kehidupan yang selalu berhadapan dg realita sebagaimana makhluk hidup yang bergerak –berinteraksi dengannya / berseberangan dengannya. Pandangan ini merupakan perkara yang sangat urgen guna memahami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran & merasakan kenikmatan bersamanya. Sebagaimana ia juga sangat penting utk dapat memanfaatkan petunjuk-petunjuknya setiap kali berulang suasana & situasi di masa sejarah yang akan datang, khususnya zaman yang sedang kita hadapi saat ini, saat kita bergelut dalam pergerakan dawah islam.

Bahwa tidak akan ditemukan pandangan ini kecuali mereka yang bergerak secara pasti dg agama ini dalam menghadapi & memberantas kejahilian modern, karena umat akan menghadapi peristiwa, suasana & situasi seperti yang di hadapi oleh generasi awal dawah & kaum kaum muslimin bersamanya. (10)

____________________________________

Maraji’

(1). lihat: Muqaddimah Fi Zhilalil Quran & Biodata Sayyid Qutb pd surat Al-Araf.

(2). Lihat: Al-Manhaj Al-Haraki Fi Az-Zhilal.

(3). Lihat: Khasais At-Tashawur Al-Islami, Sayyid Qutb, hal. 7-8

(4). Lihat: Fi Zhilalil Qur’an, jil. 2, hal. 1016-1017

(5). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 61

(6). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 348-349

(7). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil 3, hal. 1453

(8). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1864

(9). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1948

(10). Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 2121-2122

Sumber: al-ikhwan.net

Kiat Mudah Raih Lailatul Qodar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قاَمَ لَيْلَةُ الْقَدَرِ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang mengerjakan qiyamullail pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata:
“Siapa saja yang mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala, PASTI akan mendapatkan ganjarannya, baik dia mengetahui bahwa malam itu (adalah) lailatul qadar atau tidak, meskipun seandainya orang itu tidak mengetahui tanda-tandanya, atau tidak waspada dengannya dikarenakan tertidur atau sebab lain, akan tetapi dia TELAH MENGERJAKAN QIYAMULLAIL DENGAN PENUH IMAN DAN MENGHARAP PAHALA. Maka Allah PASTI akan mengampuni dosanya yang telah lalu.

Syaikh rahimahullah juga berkata:
“Ketetapan ganjaran lailatul qadar bisa diraih oleh orang yang mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala, BAIK IA MENGETAHUINYA ATAU TIDAK, karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan qiyamullail pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ’alaihi)

Dan beliau tidak menyebutkan, apabila dia mengetahui maka ia mendapatkannya.

Maka, tidak disyaratkan untuk mendapatkan pahala lailatul qadar, seseorang itu harus mengetahui dengan pasti malam itu. Akan tetapi kita katakan, barangsiapa YANG MENGERJAKAN QIYAMULLAIL PADA SEPULUH TERAKHIR BULAN RAMADHAN SELURUHNYA, maka kami tegaskan bahwa dia pasti mendapatkan malam lailatul qadar, baik dipermulaan sepuluh hari terakhir, pertengahan, atau di akhirnya. Dan hanya Allah-lah maha pemberi taufik.

Syaikh Masyhur bin Hasan Salman hafizhahullah mengatakan:
“Kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia pada lailatul qadr itu banyak sekali, jarang yang bisa selamat kecuali yang dipelihara Allah. Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah: Sibuk mencari dan menyelidiki keberadaannya.” (Majalah As-Sunnah Th XIV, Ramadhan-Syawal 1431 H, Agustus-September 2010 M)

Syaikh juga menjelaskan:
“Sibuk mencari dan menyelidiki keberadaannya. Sibuk mengamati tanda-tanda lailatur qadr, sehingga meninggalkan ibadah ataupun perbuatan taat pada malam itu. Betapa banyak orang-orang lupa membaca Al-Qur’an, dzikir dan lupa mencari ilmu karena sibuk mengamati tanda-tanda lailatul qadr. Menjelang matahari terbit, terkadang kita dapati ada yang sibuk memperhatikan dan mengamati matahari untuk mencari tahu, apakah sinar matahari pagi ini terik ataukah tidak.

Mestinya orang-orang ini memperhatikan pesan Rasulullah saw dalam sabda beliau: “Semoga (dengan dirahasiakannya waktu lailatul qadr itu) menjadi lebih baik bagi kalian” (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini, terdapat isyarat bahwa malam itu tidak ditentukan waktu pastinya.

Dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, para ulama menyimpulkan bahwa dirahasiakannya waktu lailatul qadar (adalah) lebih baik. Mereka mengatakan: “Hikmahnya, agar manusia bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal PADA SELURUH MALAM dengan harapan ada yang bertepatan dengan lailatul qadar.

Berbeda jika lailatul qodar itu telah dipastikan waktunya, maka tentu kesungguhan dalam beramal hanya akan ada dan akan dipompa pada satu malam itu saja. Akibatnya, kesempatan beribadah pada malam-malam lainnya akan berlalu begitu saja atau minimalnya amal ibadahnya menurun. Bahkan sebagian ulama mengambil satu faidah dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, yaitu sebaiknya ORANG YANG MENGETAHUI lailatul qadar itu MENYEMBUNYIKANNYA, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mentaqdirkan pada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam UNTUK TIDAK MEMBERITAKANNYA.

Dan semua kebaikan ada pada sesuatu yang telah ditaqdirkan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kita DISUNNAHKAN untuk mengikutinya.”

Sumber: FB Group DDII

Save Palestine!

Hasil KTT Arab Tidak Sesuai Harapan

Aku heran dengan para pemimpin Arab itu..   fakta keculasan Israel terpampang jelas di depan mata, namun mereka masih saja tunduk dengan ide ‘perdamaian’ itu.

Sebagai rakyat biasa, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan:

  • Jangan lupakan saudara kita di Palestina dalam do’a-do’a kita selepas sholat
  • Kampanyekan “save palestine!!”, ajak keluarga dan kawan terdekat untuk ikut peduli atas tragedi di Palestina.
  • Bantu dengan materi semampu kita.

Kriteria Penceramah: Harus Bisa Bahasa Arab?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bapak Ustad yang terhormat, menyimak jawaban ustad mengenai kriteria Peceramah, terus terang membuat kami agak takut juga.

Pada saat ini, kami tinggal di luar negeri yang komunitasnya kebanyakan adalah mahasiswa/engineer dan kami saat ini juga ada kegiatan pengajian yang penceramahnya diisi secara bergiliran oleh beberapa mahasiswa yang kebetulan punya kemampuan tentang Islam walaupun tidak banyak. dan juga kemampuan baca Al-Quran yang baik.

Sekali lagi merujuk kepada pernyataan ustad, apakah sebaiknya kami harus menghentikan kegiatan pengajian kami karena tidak memenuhi kriteria tersebut (menguasai bhs arab dan ilmu syariah, dll)? Atau kami teruskan kegiatan pengajian kami dengan pertimbangan bahwa ini dalam kondisi darurat di mana tidak adanya ustad yang “mumpuni.”

Sebagai informasi, pengajian ini diadakan dimaksudkan untuk menangkal terkikisnya aqidah Islam kami yaitu para mahasiswa selama menuntut ilmu di luar negeri disebabkan lingkungan yang sangat tidak Islami.

Jazakallah khoir.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Shiddiq

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tentu saja kasus Anda sangat berbeda konteksnya dengan apa yang kami tuliskan sebelumnya. Anda justru wajib mengadakan pengajian dan pembinaan, karena memang harus ada yang berdakwah.

Teruskan pembinaan dan dakwah, terutama urusan aqidah dan fikrah dasar. Untuk sekedar memberi pembinaan aqidah dan fikrah yang dasar, memang tidak perlu kriteria seperti yang kami sebutkan.

Kriteria yang kami sebutkan itu, khusus untuk para ustadz yang sudah masuk ke wilayah hukum dan pengamalan syariah. Di mana memang urusan syariah ini penting dan menjadi core dari agama Islam. Maka dibutuhkan orang yang ahli di bidangnya, di mana setidaknya dia paham dan menguasai bahasa Arab dan pernah belajar ilmu syariah.

Selama kajian dan pembinaan hanya masalah aqidah dan fikrah dasar, silahkan saja. Tapi kalau sudah masuk ke wilayah hukum syariah yang detail, maka mau tidak mau Anda harus punya rujukan yang kuat. Dan anda wajib bisa bahasa Arab.

Memang belajar bahasa Arab itu tidak mudah. Ini harus diakui terus terang. Apalagi buat para ustadz yang sudah punya jam terbang tinggi, wah mana sempat. Padahal buat seorang ustadz yang punya jam terbang cukup tinggi, apalagi sudah masuk TV, rasanya sih sudah wajib bisa bahasa Arab.

Pengalaman Sudahnya Belajar Bahasa Arab

Apa yang Anda alami sekarang ini, yaitu minder ketika mengetahui bahwa kriteria menjadi ustadz sedemikian berat, juga pernah kami alami sendiri. Jadi, yah, hitung-hitung ini merupakan pengalaman pribadi.

Dahulu sewaktu masih di SMP-SMA, kami termasuk sering aktif di berbagai pengajian, bahkan sewaktu duduk di kelas satu SMA, kami sudah pernah ditugasi oleh Almarhum KH. Ustadz Rahmat Abdullah untuk mengisi daurah (pesantren kilat), yang pesertanya sesama anak SMA juga, tapi lain sekolah.

Ketika kami duduk di semester satu UGM, kami sudah punya beberapa halaqah yang rutin setiap pekan. Mau tahu anggotanya? Ada yang mahasiswa semester akhir, ada juga yang sudah lulus kuliah dan jadi guru, walau pun juga ada yang masih SMA.

Pendek kata, urusan semangat dakwah dan bikin pengajian, boleh dibilang kami termasuk punya semangat 45.

Tapi…

Ada sebuah kejadian yang barangkali sekarang ini jadi kenangan manis, walau pun saat itu cukup lumayan menyedihkan. Saat masih kuliah dulu, kami seringkali berdebat masalah agama dengan para kiyai dan ulama. Termasuk orang tua kami sendiri.

Beliau boleh dibilang seorang ustadz yang banyak mengajar ilmu agama, masyarakat sering menyapanya dengan sebutan pak Kiyai. Saat itu konyol memang, dengan secuil bekal ilmu yang didapat sepotong-sepotong, kami berani-beraninya ‘menantang’ para kiyai.

Perdebatan kami sampai kepada masalah furu’iyah, bahkan kami sempat juga jadi tukang tuduh bid’ah dan sesat. Pokoknya saat itu lucu, semua kiyai kami katakan tukang bid’ah, karena tidak sesuai dengan Quran dan Sunnah. Semangat tapi agak sesat.

Apalagi saat Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah mengajar kami sebulan penuh selama Ramadhan, sebuah kitab yang fenomenal, yaitu kitab Sifat Shalat Nabi, karya Nashiruddin Al-Albani. Wah, saat itu Pedurenan atau kini disebut Kuningan, jadi geger.

Sebab sejak saat itu, anak-anak muda kalu pada shalat, gerakannya jadi lain. Tidak sama dengan gerakan yang biasanya diajakan oleh guru ngaji kami dahulu. Setidaknya, ketika tahiyat akhir, jari telunjuk kami jadi goyang-goyang, tidak lagi lurus saat mengucapkan ‘illallah’.

Ditantang Bahasa Arab

Saat itulah orang tua kami menegur kami dengan sebuah teguran yang cukup membuat kami terhenyak. Masih terngiang di telinga kami beliau bilang begini, “Kalau kamu merasa sudah pintar, coba baca tuh kitab-kitab yang berjejer di lemari buku. Itu tulisan para ulama betulan, bukan sekedar foto-kopian. Kalau punya ilmu jangan dari fotokopian dog, tapi langsung merujuk ke kitab aslinya.”

Saat itu kami gelagapan juga dan akhirnya duduk terdiam. Terus terang, meski sudah jadi jago halaqah dan daurah, sampai beberapa teman menggelari kami sebagai PHd (Pakar Halaqah dan Daurah), tapi urusan baca kitab, terus terang kami tidak paham alias o-on.

Di rumah kami memang ada banyak kitab tebal-tebal, berjejer rapi di beberapa lemari buku. Orang tua kami rajin membaca kitab itu, oleh-oleh kuliah di Mesir, terutama sore hari menjelang Maghrib, sebagai persiapan untuk mengajar pengajian di beberapa tempat.

Satu pun dari kitab itu tidak ada yang bisa kami baca. Meski sempat belajar Nahwu dan Sharf sewaktu duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, tetapi sekedar kenal fi’il dan maf’ul belum berarti langsung bisa baca kitab.

Awalnya kami kesal, tapi lama-lama kami mikir juga. Benar juga ya apa yang beliau bilang. Kok kami jadi orang sok pinter, sok tahu dan sok ahli agama, padahal satu biji kitab pun kami tidak bisa baca. Jangankan satu kitab, selembar halamannya pun tidak bisa juga.

Tamu dari Arab

Saat itu, sekitar tahun 90-an, ada banyak tamu dari beberapa negeri Arab, baik Saudi, Mesir, Jordan dan lainnya. Setiap kali ada tamu, biasanya para aktifis dakwah diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Dan diadakanlah acara pengajian kecil-kecilan, tentunya dengan nara sumber para tamu itu.

Yang sangat membuat kami kesal saat itu, nama kami tidak tercantum dalam daftar peserta. Ternyata syarat mengikuti acara tersebut haruslah para aktifis yang sudah pandai berbahasa Arab.

Ada pertemuan dengan Dr. Yusuf Al-Qaradawi dari Qatar yang kami sangat ingin bisa ikut di dalamnya, tapi menyesal sejadi-jadinya, karena kami tidak memenuhi syarat. Ada pertemuan dengan Syeikh Dr. Abdullah Qadiri Al-Ahdal dari Universitas Islam Madinah, kami juga tidak boleh ikut. Wah, pokoknya frustasi dan kesal sekali. Ini semua gara-gara kami tidak bisa bahasa Arab.

Ini pukulan telak yang kedua.

Akhirnya kami bertekad, pokoknya saya harus bisa bahasa Arab, apa pun yang terjadi. Dan realisasinya adalah mendaftarkan diri ke LIPIA. Sayangnya, waktu tes wawancara, tidak lulus. Sebab yang melakukan tes orang Arab semua, tiga orang, gede-gede lagi.

Tapi tekad tetap tekad, tahun berikutnya ikut lagi tes masuk. Eh, alhamdulilah, lulus dan diterima di mustawa awal i’dad lughawi. Maka saat itu kami risain dari LPPD Khairu Ummah, minta diri kepada Al-Ustadz Abu Ridha untuk urusan belajar. Alhamdulillah, beliau mengizinkan dan jadilah kami mahasiswa LIPIA, kuliah cukup lama, kurang lebih 7 tahun lamanya.

Saat kami lulus, orang tua kami sangat bangga, anaknya sudah bukan lagi anak sok tahu yang tukang bikin ribut tapi otaknya kosong melompong. Beliau saat itu bisa mengajak kami diskusi, membaca kitab-kitab para ulama dari berbagai disiplin ilmu dan literatur.

Sebab sewaktu kuliah di LIPIA, ternyata kami tidak berhenti cuma sampai lulus ‘idad luhgawi saja, tapi kami terus ke takmili, bahkan nekat masuk juga syariah. Ustadz Subki Al-Bogori pernah dalam satu kesempatan berseloroh, “Wah antum enak nih, kuliah di LIPIA sampai lulus syariah. Ane cuman sampe takmili doang, kagak bisa terus.”

Saat itu kami jawab, “Biar pun begitu, ente udah jauh lebih baik dari ustadz kondang lain. Banyak dari mereka yang telanjur ngetop, tapi bahasa Arabnya jeblok. Kalau ente, meski kagak lulus sampai Syariah, tapi minimal bisa baca kitab dan literatur. Jadi syukuri saja ya akhi.”

“Bener juga antum, stadz, ” begitu jawabnya.

Saran Buat Antum

Jadi pesan kami buat antum, kalau memang ada kesempatan untuk menambah ilmu, jangan disia-siakan. Jangan berhenti dan jalan di tempat. Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah kita miliki. Coba pasang niat untuk suatu saat belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah. Kalau belum bisa sekarang, setidaknya sudah ada niatnya.

Tapi jangan jadi fatalis, jangan berpikir belum bisa bahasa Arab dan ilmu syariah, mau mundur dari dunia dakwah. Itu malah lebih salah. Sekarang ini, saat mana tidak ada lagi orang yang bisa diharapkan untuk mengisi kekosongan, maka isilah sebisa mungkin.

Kami ingat zaman dulu, tahun 80-an. Saat itu anak FISIP, Psikologi, MIPA dan lainnya, pada jadi ustadz. Habis tidak ada lagi orang lain. Mau tidak mau, apa yang bisa dikerjakan, ya dikerjakan, walau pun belum ideal. Tidak ada rotan akar pun jadi.

Tapi masuk ke era 90-an dan 2000-an, sudah banyak lulusan dari LIPIA, Saudi, Mesir, Jordan, Syiria, Yaman dan lainnya. Dari segi teori dan literatur, jelas mereka lebih menguasai, walau dari segi medan dakwah, barangkali masih perlu jam terbang.

Almarhum Endang Saifuddin Anshari, adalah teladan yang patut ditiru. Beliau tinggal di Bandung, tapi kuliah di LIPIA Jakarta, seminggu dua kali. Ikut program i’dad lughawi non intensif.

Padahal siapa sih yang tidak kenal beliau, tokoh muda, aktifis dakwah, namanya kondang ke mana-mana, tapi masih rela seminggu dua kali bolak-balik Jakarta Bandung, naik kereta api. Hanya khusus karena beliau merasa belum bisa bahasa Arab. Memang ilmu itu mahal, tidak bisa didapat hanya lewat keturunan. Meski ada pepatah mengatakan al-ilmu nurun, tapi yang jelas artinya bukan ilmu itu nurun dari bapaknya. Tidak mentang-mentang bapaknya kiyai, lantas anaknya juga jadi kiayi.

Wallahu a’lam bishsawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc