Kiat Sukses Berinteraksi Dengan Al-Qur’an 6; Teori Pergerakan Dalam Mentadabburkan dan Berinteraksi Dengan Al-Quran

Mentadabburkan Al-Quran merupakan kewajiban & berinteraksi dengannya merupakan dharuri -keharusan –, sedangkan hidup di bawah naungannya merupakan kenimatan yang tidak dapat dimiliki kecuali orang yang dapat merasakannya, kenimatan yang memberikan keberkahan hidup, mengangkat & mensucikannya. Hal ini tidak akan dirasakan kecuali bagi siapa yang benar-benar hidup dibawah naungannya, merasakan berbagai kenimatan yang bisa dirasakan, mengambil dari pengaruh-pengaruhnya dari hal-hal yang dapat diraih, mendapatkan darinya kelembutan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan & kelapangan. (1)

Disini kami ingin memberikan kepada pembaca yang budiman ungkapan-ungkapan yang baik & bermutu tentang pengalaman nyata yang dilakukan oleh seorang pemikir muslim kontemporer Asy-Syahid Sayyid Qutb yang terekam dalam kitabnya Fi Dzilali Al-Quran, kami akan meringkas ungkapan-ungkapan tersebut sesuai dg kebutuhan zaman & dapat memberikan penerangan bagi para pembaca jalan yang benar dalam rangka mentadabburkan Al-Quran & memahaminya, menelaah teori yang benar dalam berinteraksi dg Al-Quran, beraktivitas & hidup di bawah naungannya.

Teori ini harus diketahui oleh kaum muslimin, agar mereka dapat memahami kunci pergerakan dalam membuka rahasia-rahasia pergerakan Al-Quran yang sangat berharga. Kami menyerukan seperti yang telah diserukan oleh guru kita Ustadz Sayyid Qutb, dg teori yang baru dalam memahami, mentadabburkan & menafsirkan Al-Quran, yaitu teori Tafsir al-haraki 2“Tafsir Pergerakan” yang oleh Ustadz Sayyid Qutb dianggap sebagai puncak & pemberi penjelasan akan dasar-dasarnya, peletak madrasah “tafsir pergerakan” yang menjadikan Al-Quran hidup dg nyata & memberi pengaruh positif bagi kaum muslimin kontemporer. Yang mana Allah telah menganugrahkan kepadanya kunci yang fundamental “kunci pergerakan” yang dapat membuka rahasia-rahasia Al-Quran, yang ingin dihadirkan dalam kitabnya Fi Dzilal Al-Quran. (2)

Sesungguhnya masalah ini –dalam memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran & sentuhan-sentuhannya- bukanlah terletak dalam memahami lafazh-lafazh & kalimat-kalimatnya, & bukan pd tafsir Al-Qur’an – sebgaimana yang kita sangka !- . Namun masalahnya adalah kesiapan jiwa dg menghadirkan perasaan, indra & pengalaman : persis seperti kesiapan perasaan, indra & pengalaman saat diturunkannya Al-Quran, yang selalui menyertai kehidupan jamaah muslimah yang bergelut dalam peperangan, bergelut dalam jihad; jihadun nafs2 –jihad melawan hawa nafsu-, & jihadun nas2 –jihad melawan manusia-; jihad melawan nafsu angkara & jihad melawan musuh; Dengan melakukan usaha & pengorbanan, takut & harap, kuat & lemah, jatuh & bangkit; Dalam lingkungan kota Mekkah yang keras & saat dawah berkembang; dalam kondisi minoritas & lemah serta asing di tengah-tengah umat yang kafir; di tengah lingkungan yang terkucil & terkepung, lapar & sakit, tertekan & terusir, & terembargo –terputus- dari berbagai sarana kecuali hanya mengharap dari Allah. Atau di tengah & lingkungan Madinah : lingkungan pergerakan pertama bagi masyarakat muslim yang berada & menghadapi antara tipu daya, kemunafikan, penuh kedisiplinan & kebebasan menunaikan perintah Allah; suasana perang Badar, perang Uhud & perang Khondaq serta perjanjian Hudaibiyah. Pada suasana “Al-Fath”2 (kemenanagan), saat perang Hunain, perang Tabuk. Pada saat pertumbuhan umat Islam yang pesat, perkembangan sistem kemasyarakatan yang cepat & persatuan yang hidup antara perasaan, kemaslahatan & prinsip dalam memuliakan pergerakan & dalam naungan sistem.

Dalam suasana seperti itu semua ayat-ayat Al-Quran diturunkan, sehingga memberi kehidupan yang baik & faktual; melalui kalimat-kalimat yang penuh hikmah, ungkapan-ungkapan yang penuh pelajaran,petunjuk-petunjuk yang penuh berkah serta sentuhan-sentuhannya yang penuh dg kelembutan.

Dalam suasana seperti itu & dalam menyertai awal pergerakan pelaksanaan kehidupan Islam yang baru; Al-Quran diturunkan dg membawa kandungan ayat yang membukakan hati yang tertutup & melembutkan jiwa yang keras, & memberi petunjuk pribadi yang sesat; memberikan rahasia-rahasianya, menebarkan keharuman, & membimbing kepada petunjuk & cahaya” (3)

Dari paargraf diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pokok utama yang harus kita jadikan pegangan dalam menafisrkan Al-Quran & mentadabburkannya adalah sebagai berikut :

1. Membekali diri dg persiapan perasaan, pengetahuan –indra- & pengalaman dalam memahami nash-nash Al-Quran & merasakan sentuhan-sentuhannya.

2. Mempokuskan diri –dengan instink, perasaan & indranya- pd suasana & lingkungan saat diturunkannya Al-Quran, baik lingkungan di Mekkah / di Madinah, agar dapat menemukan jejak rahasia & pengaruh Al-Quran dalam memberikan petunjuk kepada generasi salaf2.

3. Memperhatikan sikap para sahabat –lingkungan Mekkah & Madinah- dg memahami & berinteraksi dg Al-Quran serta kehidupan mereka bersama Al-Quran.

4. Menenliti beberapa tujuan utama Al-Quran, metode aktual pergerakan yang di celupkan terhadap kehidupan umat Islam, serta diturunkannya Al-Quran secara realita; dg sungguh-sungguh, sadar & giat.

5. Mengamalkannya & menerapkannya dalam kehidupan dawah dalam jihad; seperti halnya yang diterapkan oleh para sahabat –khususnya pd periode “Mekkah”- & pergerakan teoritis jihad bersama Al-Quran, mensibukkan diri, perasaan & angoota tubuh lainnya dg Al-Qur’an, & memahami kondisi jiwa yang berat saat & siksaan diterima saat menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

6. Menerima Al-Quran dg sepenuh hati, sehingga didapati darinya jawaban yang nyata & obat penyembuh dari segala permasalahan yang dihadapi & penyakit yang diderita; baik jiwa, ruh & jasad serta akal fikiran.

Jika kita pindahkan perhatian kita kepada “Fi Dzilal Al-Quran” utk membahas ungkapan-ungkapan yang menjelaskan teori pergerakan dalam mentadabburkan & menafsirkan Al-Quran. Maka akan kita dapatkan banyak sekali hal-hal yang terkait dg kenikmatan hidup bersama Al-Qur’an.

Ustadz Sayyid Qutb menyeru kepada kita utk hidup di bawah naungan Al-Quran –sebagaimana ia hidup di dalamnya- utk menemukan rahasia, tabiat & kunci-kuncinya.

Hidup di bawah naungan Al-Quran, bukan berari mempelajari Al-Quran & membacanya serta menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Namun yang dimaksud disini adalah hidup di bawah naungna Al-Quran: Manusia berada di bawah naungannya; dalam berbagai suasana & kondisi; dalam bergerak, saat lelah, saat bertarung, & saat sedih serta saat bergembira & senang. Seperti yang terjadi pd masa awal turunnya Al-Quran.! ;Hidup dengannya dalam menghadapi kejahiliaan yang menggejala dipermukaan bumi saat ini; dalam hatinya, niatnya & geraknya; terpatri dalam jiwanya yang selalu bergelora akan ruh Islam; dalam jiwa umat manusia & dalam kehidupannya & kehidupan seluruh manusia juga.

Hidup yang berhadapan dg kejahiliaan; dg berbagai penomena-fenomenanya, tindak-tanduknya & adat istiadatnya; dg seluruh geraknya & tekanan yang dilancarkannya, bahkan -jika perlu- perang dengannya sebagai usaha utk mempertahankan aqidah rabbaniyah, sistem rabbani, segala methode & gerak yang bermanhaj robbani.

Inilah lingkungan Al-Quran yang mungkin manusia bisa hidup di dalamnya, merasakan kenikmatan hidup di dalamnya, karena dg lingkungan demikianlah Al-Quran turun, sebagaimana dalam lingkungan begitu pula Al-Quran diamalkan. Bagi siapa yang tidak mau menjalani kehidupan seperti itu, maka dirinya akan jauh & terkucil dari hidayah Al-Quran, walaupun mereka tenggelam dalam mempelajarinya, membacanya & menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.

Usaha yang mesti kita kobarkan utk membangun jembatan antara orang-orang yang mukhlis & Al-Quran bukanlah tujuan kecuali setelah melintasi jembatan tersebut hingga sampai pd satu tempat lain & berusaha menghidupkan lingkungan Al-Quran secara baik; dg amal & pergerakan. Hingga pd saatnya nanti mereka akan merasakan keberadaan Al-Quran; menikmati kenikmatan yang telah Allah anugrahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. (4)

Dan menunjukkan kepada kita cara yang terbaik dalam membaca, mentadabburkan, & mendapatkan rahasia-rahasia & kandungan Al-Quran, beliau berkata : “Sesungguhnya Al-Quran harus dibaca, para generasi umat islam hendaknya menelaahnya dg penuh kesadaran. Harus ditadabburi bahwasannya Al-Quran memiliki arahan-arahan yang hidup, selalu diturunkan hingga hari ini guna memberikan solusi pd masalah yang terjadi saat ini & menyinari jalan menuju masa depan yang gemilang. Bukan hanya sekedar ayat dibaca dg merdu & indah, / sekedar dokumentasi akan hakekat peristiwa yang terjadi pd masa lampau.

Kita tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Quran ini sampai kita mendapatkan darinya arahan-arahan tentang kehidupan realita kita pd saat ini & mendatang, sebagaimana yang telah didapati oleh para generasi islam pertama, saat mereka mengambil & mengamalkan arahan-arahan & petunjuk-petunjuk Al-Quran dalam kehidupan mereka. Saat kita membaca Al-Quran dg penuh penghayatan, maka kita akan dapati apa yang kita inginkan; Kita akan dapati keajaiban yang tidak terbetik dalam jiwa kita yang pelupa ! kita juga akan dapati kalimat-kalimatnya yang teratur, ungkapan-ungkapannya yang indah, & petunjuk-petunjuknya yang hidup, mengalir & bergerak serta mengarahkan menuju petunjuk jalan yang lurus” (5)

Disebutkan –dalam pembukaan surat Ali Imron sebagai surat peperangan & pergerakan- tentang kenikmatan hidup dg Al-Quran & syarat-syarat utk mencapai & meraihnya. Akan tampak disana kerugian yang mendalam antara kita & Al-Quran jika kita tidak berusaha mengamalkannya secara baik, menghadirkan dalam persepsi kita bahwa Al-Quran ini diberikan kepada umat yang giat & punya kesemangatan hidup, memiliki eksistensi diri dg baik, & menghadapi berbagai peristiwa-peristiwa yang menimpa dalam kehidupn umat ini.

Akan tampak disana dinding pemisah yang sangat tinggi antara jiwa kita & Al-Quran, selama kita membacanya / mendengarnya seakan ia hanya sekedar bacaan ibadah saja & tidak memiliki hubungan denga realita kehidupan manusia saat ini.

Mukjizat Al-Quran yang mengagumkan meliputi, saat dia diturunkan guna menghadapi realita tertentu & umat tertentu, pd masa dari masa-masa sejarah yang tertentu, khususnya umat ini yang berada dalam menghadapi perang yang sangat besar yang berusaha mengubah sejarah ini & sejarah umat manusia seluruhnya. Namun –besamaan dg ini- Al-Quran diperlakukan, dihadirkan & dimiliki hanya utk menghadapi kehidupan modern saja, seakan-akan dia diturunkan pd saat menanggulangi jamaah Islam pd permasalahan yang sedang berlangsung, dalam peperangan yang terjadi dg jahiliyah disekitarnya.

Agar kita dapat meraih kekuatan yang dimiliki Al-Quran, mendapatkan hakekat yang terdapat di dalamnya dari kehidupan yang menyeluruh, meraih petunjuk yang tersimpan utk jamaah muslimah pd setiap generasi. Maka selayaknya kita harus menghadirkan persepsi kita seperti generasi Islam pertama saat diturunkan kepada mereka Al-Quran pertama kali sehingga mereka bergerak dalam realita kehidupan mereka secara nyata.

Dengan teori ini kita akan dapat melihat kehidupan yang bergerak di tengah kehidupan generasi Islam pertama, & begitupun dg kehidupan kita saat ini; kita merasakan bahwa Al-Qur’an akan selalu bersama kita saat ini & nanti –masa mendatang-, & Al-Qur’an bukan hanya sekedar bacaan saja yang jauh dari kehidupan nyata yang terbatas. (6)

“Bahwa nash-nash Al-Quran tidak akan dapat difahami dg baik hanya melalui pemahaman dari petunjuk-petunjuk secara bayan & bahasa saja, namun yang pertama kali -dan sebelum yang lainnya- yang harus dilakukan adalah dg merasakan kehidupan dalam suasana sejarah pergerakan & dalam realita positif, & menghubungkannya dg realita kehidupan nyata. Karena Al-Qur’an tidak akan terbuka rahasianya hanya melalui pandangan yang jauh ini kecuali dalam wujud persesuaian realita sejarah, sehingga akan tampak sentuhan-sentuhannya yang kontinyu, objektivitasnya yang terus menerus. Namun bagi siapa yang bergerak dg ajarannya saja, yaitu mereka yang hanya membahas nash-nash Al-Quran dari segi bahasa & bayan saja, maka hanya akan mendapat luarnya saja, sementara bagian dalamnya jauh dari hatinya. (7)

Sesungguhnya Al-Quran memiliki tabiat pergerakan & misi yang nyata, hidup & bergerak, dari sini berarti Al-Quran tidak akan bisa dirasakan & dinikmati dg baik kecuali bagi siapa yang bergerak secara benar & pasti dalam realita kehidupannya. Beliau berkata : “sesungguhnya Al-Qur’an tidak bisa dirasakan kecuali yang turun & bergelut dalam kancah peperangan ini, bergerak seperti yang terjadi sebelumnya saat pertama kali diturunkan Al-Quran. Sedangkan mereka Mempelajari Al-Quran dari segi bayan / sekedar seninya saja, maka tidak akan dapat memiliki hakekat kebenaran sedikitpun darinya hanya sekedar duduk-duduk, berdiam diri & merasa tenang, namun jauh dari kancah pertempuran & jauh dari pergerakan.

Bahwa hakekat Al-Quran ini, selamanya tidak akan dapat direngkuh oleh orang-orang yang malas; & bahwa rahasia yang terkandung didalamnya tidak akan muncul bagi siapa yang terpengaruh dg ketentraman & ketenangan beribadah kepada selain Allah, bergaul utk thogut-thogut musuh Allah & umat Islam. (8)

Bahwa pengertian diatas dikuatkan dg pernyataan lainnya : “Demikianlah Al-Quran akan terus bergerak pd hari ini & esok –masa mendatang- dalam memunculkan kebangkitan Islam, menggerakannya dalam jalan dawah yang terprogram”.

Gerakan ini tentunya butuh kepada Al-Quran yang memberikan ilham & wahyu. Ilham dalam manhaj haraki, konsep & langkah-langkahnya, sedangkan wahyu mengarahkan konsep & langkah tersebut jika dibutuhkan, & memberi kekuatan batin terhadap apa yang akan dihadapi di penghujung jalan.

Al-Quran –dalam persepsi ini- tidak hanya sekedar ayat-ayat yang dibaca utk meminta berkah, namun didalamnya berlimpahan kehidupan yang selalu turun atas jamaah muslimah yang bergerak bersamanya, mengikuti arahan-arahannya, & mengharap ganjaran & janji Allah SWT.

Inilah yang kami maksud bahwa Al-Quran tidak akan terbuka rahasia-rahasianya kecuali bagi golongan muslim yang berinteraksi dengannya utk merealisasikan petunjuk-petunjuknya di alam realita, bukan bagi mereka yang hanya sekedar membacanya utk meminta berkah ! bukan bagi mereka yang membacanya hanya utk belajar seni & keilmuan, & juga bukan bagi mereka yang hanya mempelajari & membahas dalam bidang bayan saja !

Mereka semua sama sekali tidak akan mendapatkan dari Al-Quran sesuatu apapun, karena Al-Quran tidak diturunkan bukan utk sekedar dipelajari & dijadikan mata pelajaran namun sebagai pelajaran pergerakan & taujih –pemberi petunjuk & arahan-.” (9)

Karena itu, bersegeralah memperbaiki pemahaman Al-Quran & mentadabburkannya, berinteraksi dengannya seputar teori pergerakan, menggunakan kunci-kunci yang memberi petunjuk dalam berinteraksi & mentadabburkan Al-Qur’an. Karena yang demikian sesuai dg tabiat dasar Al-Quran yang mulia & karakteristiknya yang unik. Dan ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah “Realita pergerakan” sebagai kunci dalam berinteraksi dg Al-Kitab yang mengagumkan & mukjizat yang indah & memberi petunjuk.

”Karena itu gerakan Islam akan selalu berhadapan –yang menjadi kebutuhan & tuntutan- setiap kali berulang masa ini (masa penghalangan dawah Islam di Mekkah antara tahun kesedihan & Hijrah), seperti yang dihadapi gerakan Islam sekarang di era modern ini.

Dan yang demikian harus disertai dg keadaan, situasi, kondisi, kebutuhan, & tuntuan realita amaliyah seperti saat diturunkannya Al-Quran pertama kali. Dan hal tersebut guna mengetahui arah tujuan nash & aspek-aspek petunjuk-petunjuknya, meneropong sentuhan-sentuhannya yang selalu bergerak di tengah kehidupan yang selalu berhadapan dg realita sebagaimana makhluk hidup yang bergerak –berinteraksi dengannya / berseberangan dengannya. Pandangan ini merupakan perkara yang sangat urgen guna memahami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Quran & merasakan kenikmatan bersamanya. Sebagaimana ia juga sangat penting utk dapat memanfaatkan petunjuk-petunjuknya setiap kali berulang suasana & situasi di masa sejarah yang akan datang, khususnya zaman yang sedang kita hadapi saat ini, saat kita bergelut dalam pergerakan dawah islam.

Bahwa tidak akan ditemukan pandangan ini kecuali mereka yang bergerak secara pasti dg agama ini dalam menghadapi & memberantas kejahilian modern, karena umat akan menghadapi peristiwa, suasana & situasi seperti yang di hadapi oleh generasi awal dawah & kaum kaum muslimin bersamanya. (10)

____________________________________

Maraji’

(1). lihat: Muqaddimah Fi Zhilalil Quran & Biodata Sayyid Qutb pd surat Al-Araf.

(2). Lihat: Al-Manhaj Al-Haraki Fi Az-Zhilal.

(3). Lihat: Khasais At-Tashawur Al-Islami, Sayyid Qutb, hal. 7-8

(4). Lihat: Fi Zhilalil Qur’an, jil. 2, hal. 1016-1017

(5). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 61

(6). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 348-349

(7). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil 3, hal. 1453

(8). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1864

(9). Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1948

(10). Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 2121-2122

Sumber: al-ikhwan.net

%d bloggers like this: