Membendung Budaya Ngerumpi

Oleh Said Aqiel Siradj

BANGSA kita saat ini tengah membangun kembali kehidupan ekonomi, sosial, pendidikan, mentalitas, dan budaya. Sekian lama, bangsa kita mengalami krisis mental dan material. Untung saja, kita masih bisa menepuk dada dengan tampilnya generasi muda di ajang olimpiade sains dan memenangkan medali emas. Namun, secara umum, keadaan kita masih membutuhkan penanganan yang superserius guna mewujudkan cita-cita ideal bangsa.

Akankah bangsa ini mampu mengejar ketertinggalannya dalam bidang sumber daya manusia maupun aspek-aspek lainnya bila masyarakat lebih banyak terhujani oleh tayangan-tayangan hiburan yang tidak mencerdaskan atau mendidik? Akankah kita tetap optimistis bila tidak segera mereformasi yang sebenar-benarnya, terutama dalam soal pembangunan mentalitas?

Ataukah kita hanya bersedeku, acuh tak acuh, atau mengalir saja, dan bahkan ikut terlarut dalam rayuan globalisasi sehingga melupakan jati diri kita sebagai bangsa yang beragama dan kaya khazanah budaya? Bila demikian, apakah cukup sudah kita melahirkan “bangsa penggunjing” yang membuat kaum muda khususnya hanya terimajinasi oleh sosok-sosok hedonis dan lalu tak lagi suka berkreasi?

Budaya Mimesis

Orang boleh bilang, sudah zamannya hiburan menjadi panglima. Jika dibandingkan dengan politik yang njlimetfullintrik, tampilan hiburan akan memberikan semacam oase bagi masyarakat. Bagai hidup di gurun gersang, masyarakat mendambakan ”air peneduh” agar mampu meneruskan perjalanan kehidupan secara lancar.

Namun, itu hanya sesaat. Sebab, ternyata, kehidupan riil jauh lebih kompleks dan berliku jika dibandingkan dengan hipnosis tayangan hiburan. Kembalilah mereka tersadar untuk mengayuh kembali sekuat tenaga roda kehidupan yang penuh persaingan dan keangkaramurkaan. Hidup nyata tak seindah yang dihadirkan dalam tayangan televisi, itu sudah pasti. Bagi mereka yang lunglai dalam menghadapi hidup nyata, tayangan infotainment bisa saja menjadi arena pelarian. Akhirnya, daya ikhtiar dan kreasinya terpinggirkan oleh buaian tampilan sensasional para pesolek yang aduhai nan memesona sehingga perselingkuhan, perceraian, penggunaan obat terlarang dan ”buka-bukaan” lainnya bagai ”kacang goreng”.

Transisi kehidupan sosial dan kultural kita, tampaknya, tengah menuju apa yang kerap disebut sebagai consumerism, celebrity, dan cynism. Semua hal, termasuk urusan yang sangat privat, bisa menjadi komoditas. Sikap dan gaya selebitis begitu mudah memengaruhi masyarakat. Banyak peristiwa, baik yang normal maupun yang tragis, tiba-tiba menjelma jadi tayangan yang sinisme. Perilaku mimesis, yakni meniru-niru, gampang sekali merasuk. Itulah gambaran di negeri yang pendidikan rakyat dan kecerdasan berikut pekerja medianya belum baik dan dewasa.

Pencerdasan Bangsa

Perlu diingat kembali, para alim ulama NU beberapa waktu silam, dari hasil forum kajian (bahtsul masail), menghasilkan salah satu keputusan perihal haramnya infotainment. Para ulama mencapai kata sepakat (ijma’) bahwa hukum infotainment haram. Masukan hukum haram infotainment itu bersumber dari berbagai daerah, baik tingkat wilayah, cabang, maupun anak cabang.

Hal itu membuktikan kuatnya kegelisahan yang bersifat masif di kalangan para ulama dan masyarakat tentang membanjirnya tayangan infotainment di televisi. Tayangan tersebut dirasa sudah masuk terlalu jauh ke ruang pribadi karena itu dapat dikategorikan sebagai pergunjingan (gibah) atau membuka aib orang lain di muka umum. Misalnya saja, perihal rumah tangga artis yang dikabarkan retak, padahal itu hanya gosip.

Nah, karena itulah, para ulama NU bersepakat bahwa tayangan infotainment berhukum haram dengan mengambil sumber dari beberapa kitab kuning, seperti Ihya’ Ulumuddin dan Riyadhusshalihin. Tidak semestinya hak privasi dan aib keluarga digeber di muka umum, apalagi dalam kapasitas sebagai gosip.

Poin lain, tayangan infotainment sudah masuk hitungan berlebihan. Ada kesan kuat bahwa televisi dan produser hanya memperhatikan aspek komersial. Karena itulah, tayangan tersebut diputuskan sebagai hal yang berlebih-lebihan (al-tabdzir) yang tentu dilarang. Rasulullah pernah melarang para sahabatnya agar tidak berlebihan dalam beribadah. Nah, jika berlebihan dalam ibadah perlu dihindari, bagaimana berlebihan dalam infotainment dan hal-hal profan lainnya?

Sebab lain, tayangan infotainment telah menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Dalam bahasa agama, telah menimbulkan madharat (bahaya). Saking banyaknya tayangan itu, masyarakat mudah terbius sehingga ketagihan menonton. Di masyarakat pun subur budaya ngerumpi.

NU sebagai organisasi kemasyarakatan tentu memiliki tanggung jawab moral untuk menyelamatkan bangsa ini dari berbagai hal yang dapat mengakibatkan meluasnya kemudaratan. Sebagai pengingat, pada zaman penjajahan Belanda dulu, NU melalui Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam mengenakan jas dan berdasi. Sebab (‘illat) hukum haram tersebut adalah jas dan dasi kala itu identik dengan pakaian yang dikenakan penjajah Belanda.

Munculnya fatwa itu dilandasi oleh resistensi dan perlawanan budaya terhadap kolonialisasi. Lagi pula, dengan fatwa tersebut, landasan moral demi menjaga moralitas bangsa menjadi signifikan.

Hukum haram tersebut -baik infotainment maupun pemakain jas- harus dilihat dari segi preventif sekaligus kuratif. Artinya, itu sangat berkaitan dengan wujud kepedulian komponen bangsa untuk turut memperbaiki moral bangsa. (*)

*) KH Prof Dr Said Aqiel Siradj, ketua umum PB NU

http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=147019

%d bloggers like this: