Waspadai Tabung Melon Palsu

Sinyalemen penuh kekhawatiran itu mulai terbukti. Ternyata sebagian tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram yang beredar luas di masyarakat tidak sesuai dengan standar. Tabung gas berpotensi menebar bencana ini, yang baru ketahuan, diproduksi PT Tabung Mas Murni.

Sejak Agustus 2009, perusahaan itu memproduksi dan mengedarkan 200.000 tabung gas non-standar ukuran tiga kilogram. Syukur, aksi ilegal ini terungkap. Polisi menyegel perusahaan yang berlokasi di Tangerang, Banten, itu dan menahan tiga direkturnya. Yakni Raden Kartono (direktur utama), Yudo Barlian (direktur teknis), dan Hendra Putra (direktur operasional).

Polisi juga menyita barang bukti 200 tabung gas tiga kilogram –biasa disebut tabung melon– yang kemudian diuji di laboratorium Pertamina. Terbukti, ketebalan pelat baja yang digunakan adalah 2,25 mm, di bawah Standar Nasional Indonesia (SNI) yang 2,5 mm. Tabung dengan ketebalan 2,25 mm ini hanya mampu menahan tekanan 125 kilogram per sentimeter kubik.

Padahal, tabung standar mampu menahan tekanan sampai 145 kilogram per sentimeter kubik. Logo SNI-nya pun cuma digrafir. Seharusnya logo itu timbul. “Ketebalan pelat seperti itu (2,25 mm) harusnya dibuat untuk pegangannya saja, bukan untuk menyimpan gas,” kata Kepala Satuan Sumber Daya Lingkungan Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Eko Saputro.

Sampai pekan lalu, polisi masih menyidik para tersangka. Ihwal terbongkarnya kasus ini tak lepas dari rasa tidak puas dua tersangka, Yudo dan Hendra, terhadap manajemen perusahaan tempatnya bekerja. Yudo dan Hendra yang dinonaktifkan sejak November 2009, melalui Himpunan Masyarakat Konsumen Gas Indonesia (Himkogasi) tempatnya bernaung, melaporkan kelakuan PT Tabung Mas Murni yang memproduksi tabung gas non-standar.

Polisi pun melakukan penggerebekan. Selain menahan Raden Kartono, dua pelapor juga ditahan. Ini disesalkan Ketua Dewan Pembina Himkogasi, Ashraf Dahlawi, yang menilai pelapor seharusnya dilindungi, bukan turut ditahan. Tapi polisi beralasan, dua pelapor itu tetap ditahan karena berperan dalam kegiatan produksi tabung non-standar.

Pihak Pertamina menyesalkan ulah PT Tabung Mas. Pasalnya, perusahaan itu merupakan satu dari 70 rekanan Pertamina untuk pengadaan tabung gas tiga kilogram pada 2010, yang ditargetkan 8 juta tabung gas. Menurut B. Trikora Putra, Vice President Corporate Communication Pertamina, pada saat ini Pertamina masih menunggu hasil penyidikan kepolisian menyangkut nasib PT Tabung Mas selanjutnya.

“Jika memang akan distop (kontraknya), tidak masalah karena masih banyak perusahaan lainnya,” kata Trikora Putra. Ia yakin, dengan komitmen dari 69 pabrikan lainnya, target pengadaan 8 juta tabung gas akan terpenuhi sampai akhir 2010. Dari tahun 2007 sampai saat ini, Pertamina telah menyalurkan paket tabung gas tiga kilogram dan kompor sebanyak 44,8 juta paket. Sampai akhir tahun ini, diharapkan dapat disalurkan 52 juta paket.

Terbongkarnya kasus tabung gas non-standar itu membuat prihatin Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Pengurus YLKI, Soedaryatmo, mendesak pemerintah dan Pertamina untuk menarik tabung gas yang tak layak pakai itu. “Konsumen punya hak untuk mendapatkan barang asli di pasaran. Tugas pemerintah adalah mensterilkan pasar dari produk-produk yang tidak standar,” katanya, geram.

***

Kecurigaan beredarnya tabung gas, khususnya ukuran tiga kilogram, yang tidak sesuai dengan standar berembus sejak tahun kemarin. Namun hal itu baru dilontarkan secara terbuka oleh Asosiasi Industri Tabung Baja (Asitab), Januari lalu. Ketua Asitab, Tjiptadi, mensinyalir terdapat sekitar 20 juta tabung gas tiga kilogram asli tapi palsu yang berkualitas rendah beredar di pasaran.

Angka perkiraan 20 juta itu berdasarkan asumsi bahwa program konversi minyak tanah ke gas melibatkan 40 juta kepala keluarga, yang masing-masing menggunakan dua tabung gas. Artinya, tabung gas yang riil beredar sekitar 80 juta. Sedangkan Asitab mencatat, sejak 2006 hingga 2009, produksi tabung lokal 54 juta, plus impor sebanyak 6 juta tabung, sehingga total baru 60 juta tabung.

Nah, tabung-tabung berkualitas rendah itulah yang diduga menjadi penyebab maraknya peristiwa ledakan gas yang makan korban jiwa dan harta benda. April lalu saja, di Jakarta tercatat enam kali ledakan tabung gas tiga kilogram yang merenggut lima jiwa dan melukai belasan orang serta merusak puluhan rumah.

Menurut catatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, pada Januari-April 2010 terjadi 205 kasus kebakaran, 28 kasus di antaranya akibat meledaknya tabung gas tiga kilogram. Artinya, bisa saja jumlah kasus meledaknya tabung gas itu lebih dari 28 kasus, mengingat ada juga ledakan gas yang tidak menimbulkan kebakaran.

Musibah ledakan gas tadi umumnya terjadi di rumah tangga akibat kelalaian penghuninya. Biasanya diawali kebocoran gas yang tidak disadari, yang keluar dari bagian katup dan regulator yang berkualitas rendah pula. Buruknya ventilasi menyebabkan gas yang bocor terakumulasi makin banyak di dapur. Tahu-tahu, ketika penghuni rumah menyalakan kompor, ledakan hebat pun bergema, disusul api berjilam.

Malapetaka ledakan gas elpiji juga kerap terjadi akibat keserakahan penyalur gas elpiji. Demi memperoleh keuntungan, mereka tak segan menempuh cara-cara membahayakan. Yakni dengan mengurangi sebagian isi tabung gas yang terisi penuh dan memindahkannya ke tabung gas yang kosong. Biasanya ini menyangkut tabung gas ukuran 12 kilogram.

Tapi kerap pula terjadi, isi tabung gas tiga kilogram yang disubsidi pemerintah disedot habis dan dipindahkan ke tabung gas 12 kilogram yang harganya lebih mahal karena non-subsidi. Praktek nyolong gas dengan istilah “gas suntik” atau “oplosan” ini sangat berisiko menimbulkan kebocoran gas.

Sejumlah kasus ledakan gas akibat praktek oplosan itu kerap terjadi. Yang anyar, misalnya, terjadi di Surabaya, Rabu dua pekan silam. Sebuah depot penyalur gas elpiji, CV Bintang Timur, di Jalan Slompretan Nomor 8, luluh lantak diterjang ledakan dahsyat. Bangunan tiga lantai itu rata dengan tanah. Ledakan juga memecahkan kaca-kaca gedung dalam radius 500 meter.

Empat karyawan CV Bintang Timur tewas terbakar dan terjebak di reruntuhan bangunan. Polisi menahan bos CV Bintang Timur, Jos Yulianto. Tersangka tadinya pengusaha bengkel bubut yang bangkrut sehingga banting setir menjadi penyalur gas elpiji. Tersangka mengaku melakukan aktivitas oplosan gas. “Ini jelas berbahaya dan ada unsur tindak pidananya,” kata Ajun Komisaris Besar Djoko Hari Utomo, Kepala Kepolisian Resor Surabaya Utara.

Musibah demi musibah ledakan menunjukkan, jika tidak digunakan secara hati-hati sebagaimana mestinya, gas elpiji akan selalu menebar malapetaka. Waspadalah!

Taufik Alwie, Mukhlison S. Widodo, Rukmi Hapsari, dan Arif Sujatmiko (Surabaya)
[NasionalGatra Nomor 33 Beredar Kamis, 24 Juni 2010]

http://www.gatra.com/2010-06-25/versi_cetak.php?id=139070

%d bloggers like this: