Monthly Archives: May 2009

Pekerja TI: Jabatan Keren, Gaji Pas-pasan

Penulis: Dimitri Mahayana – detikinet

Kolom Telematika – “Iya nih gaji IT Indo ironis, jauh banget dibanding gaji IT luar, gw aja ditertawain dengan gaji indo ma orang luar, ironis deh, (NH).”

“Operator warnet aja cuma digaji Rp 300 ribu, sudah kerja 10 tahun tapi perusahaan tidak care (Aroep Manhattan).”

Demikian bunyi beberapa dari banyak komentar pembaca detikINET atas berita yang ditulis 8 Mei lalu, berjudul: “SDM IT Lari ke luar negeri, Pemerintah Diminta Waspada”.

http://www.detikinet.com/read/2009/05/25/100603/1136503/328/pekerja-ti-jabatan-keren-gaji-pas-pasan
Keluh kesah di atas, rasanya, bukan sekali-dua kali terdengar. Sudah sejak lama, praktisi teknologi informasi (TI) di Indonesia memang diperlakukan minim, sangat timpang dengan apa yang diterima teknisi serupa negara tetangga.

Hasil survei kami tahun lalu menunjukkan, gaji seorang system developement di Indonesia mencapai US$4.808 per tahun alias sekitar Rp52 juta atau Rp4,4 juta per bulan. Padahal, tugas mengembangkan sistem TI, tentu rumit bukan main.

Bandingkan untuk posisi serupa di India US$11.805, Malaysia (US$17.651), Filipina (US$10.545), Thailand (US$17.545), India (US$11.805), Singapura (US$35.245), Hongkong (US$46.769), dan Australia (US71.484).

Untuk posisi project management pekerja TI, remunerasi yang diperoleh di Indonesia US$8.580. Angka ini separuh dari jabatan yang sama di India, 1/6 di Singapura, dan 1/10 di Australia (Daftar lengkap, lihat tabel di bawah).

Akan tetapi, bagaimanapun, berkeluh kesah saja tidak cukup. Demi progresivitas dan visi perbaikan yang kontinyu, alangkah baiknya jika apreasiasi kurang ini justru dijadikan momentum intropeksi.

Kita awali soal mengkaji diri ini dengan melihat hasil survei Sharing Vision kepada 24 responden dan 14 perusahaan pada April lalu menunjukkan, 43% sumber daya TI yang ada dinilai kurang kompoten.

Selain tidak kompeten, 14% responden juga mengaku memiliki sumber daya TI yang tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi. Karenanya, 14% dari mereka merasakan tingkat turnover pekerja TI yang tinggi di perusahaan.

32% responden mengaku pula sulitnya mencari tenaga ahli TI anak bangsa di tanah air–hal yang kemudian memicu banyaknya konsultan bermata biru di tanah air yang bayarannya berkali-kali lipat tadi.

Secara teknis-administratif, pekerja TI di Indonesia yang telah memiliki sertifikasi baru mencapai 28,60% sementara sisanya belum memiliki karena masih ada anggapan tidak pentingnya sertifikasi semacam CCNA, MCP, PMP, dan lainnya.

Padahal, mengacu survei HR Certification Institute 2008, pekerja TI yang sudah tersertifikasi tadi, terbukti memberi dampak positif pada finansial perusahaan dan otomatis membuat mereka lebih dipercaya perusahaan.

Dengan demikian, mengacu hasil-hasil riset tadi, remunerasi yang minim ini, ternyata banyak disebabkan pula oleh belum tingginya tingkat kompetensi yang dimiliki. Kemampuan yang ada belumlah optimal.

Remunerasi rendah, sedikit-banyak, disumbangkan oleh belum tajamnya kompetensi yang dimiliki yang membuat ketergantungan sumber daya eksternal masih ada, misalnya. Akibatnya, daya tawar pekerja TI belum begitu tinggi.

Kalau mau jujur, belum optimalnya kemampuan ini sendiri mayoritas ‘disumbangkan’ perusahaan tempat mereka bernaung. Betapa tidak. Alokasi anggaran training perusahaan mayoritas hanya di angka kurang dari 3% dari bea divisi TI.

Perusahaan masih tampak ogah mengeluarkan biaya besar dalam meningkatkan kemampuan pekerja TI. Alih-alih meningkatkan kemampuan, mereka lebih berharap karyawan mau belajar otodidak yang serba gratis.

Maka, daripada terus berkubang dalam komplain remunerasi, sudah seharusnya pekerja TI (sekaligus perusahaannya) tak berhenti memperbaiki kompetensi miliknya, sehingga ke depan tak ada lagi kisah satir pekerja TI: Jabatan keren, gaji pas-pasan!

Dimitri Mahayana adalah dosen ITB dan Chief of SHARING VISION. Penulis bisa dihubungi melalui email redaksi@detikinet.com.

Advertisements

Komunikasi Politik PKS

Sapto Waluyo
(Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform)

Sejumlah partai telah melakukan rapat pimpinan tingkat nasional pekan lalu untuk menyongsong pemilihan presiden. Satu di antaranya mendapat sorotan luas, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menggelar musyawarah Majelis Syura untuk menentukan arah koalisi. PKS menjadi perhatian karena berhasil menempati ranking keempat dalam percaturan nasional dengan perolehan suara 8,2 persen, menurut tabulasi sementara KPU. Tak pelak, PKS menjadi partai berideologi Islam terbesar di Tanah Air dan berpeluang tinggi mendampingi Partai Demokrat dalam pemerintahan mendatang, di samping partai berbasis massa Islam lain: PAN dan PKB.

Yang unik dari PKS adalah hasil pembahasan 96 anggota Majelis Syura yang hadir tentang calon wakil presiden, dimasukkan dalam amplop tertutup dan akan disampaikan secara langsung kepada calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketua Majelis Syura, KH Hilmi Aminuddin, menyatakan cara itu ditempuh untuk menjaga ‘kesantunan dalam berpolitik’ dan demi menghindari kegaduhan politik yang sudah melanda sejumlah partai besar. Sebenarnya, selain membahas alternatif kepemimpinan nasional, PKS juga melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pemilu dan mempersiapkan kontrak politik menyangkut masalah kedaerahan, politik domestik, internasional, manajemen koalisi, danpower sharing. Perlu dicatat, penyusunan draf kontrak tidak menandakan PKS bersikap pragmatis karena pada Pemilu 2004, PKS juga melakukan kontrak dengan SBY. Bisa dikatakan, PKS memelopori suatu tradisi penting dalam kancah politik nasional. Sayang sekali, inisiatif genuin itu tak dicerna publik luas karena tenggelam oleh manuver dan pernyataan elite PKS yang memancing kontroversi. Masyarakat jadi menangkap kesan keliru dari penampilan partai yang lahir di era reformasi itu. Misalnya, berkaitan dengan rencana koalisi pascapemilu legislatif, saat PKS melakukan pendekatan dengan PD, ternyata petinggi Partai Golkar punya maksud sama. Tiba-tiba tokoh PKS, Anis Matta, mengancam akan meninggalkan koalisi, karena duet SBY-JK dinilai telah gagal menjalankan pemerintahan selama lima tahun ini. JK dipandang sebagai matahari kedua dalam pemerintahan dan Golkar yang bergabung paling akhir dalam Kabinet Indonesia Bersatu justru lebih dominan mengarahkan kebijakan pemerintah. Sering sekali PKS diabaikan dalam penentuan kebijakan yang krusial, seperti kenaikan harga BBM dan impor beras.

Pernyataan Anis serta-merta disanggah Tifatul Sembiring yang menyebut, hal itu hanya pandangan pribadi karena format koalisi masih diperbincangkan dengan semua mitra lain. Sanggahan yang terlambat karena citra publik telah terbentuk bahwa PKS berperilaku bak debt collector yang main ancam demi mencapai kepentingan politiknya. Padahal, sebelum pemilu, justru PKS yang mengundang JK berdiskusi di markas besarnya dan mendukung penuh keberanian JK untuk mencapreskan diri. Bila tokoh PKS tidak menyadari efek masif yang terjadi melalui media massa dan jaringan internet, hal itu sungguh naif. Setiap pernyataan dan manuver elite PKS ternyata tak diukur manfaat dan mudharatnya terlebih dulu.

Sehingga, tatkala Golkar (lebih tepatnya: JK) memutuskan hubungan sepihak dengan PD (lebih pas: SBY), lalu fungsionaris PD mengungkapkan keterkejutannya maka segenap telunjuk menuding PKS sebagai biang keladi dari kekisruhan tingkat tinggi itu. Padahal, yang terjadi bisa saja karena chemistry SBY-JK telah kehilangan daya rekatnya dan gejala keretakan tak bisa ditutupi lagi. Sama sekali tak ada hubungannya dengan PKS bila elitenya tidak bertingkah di luar kontrol.

Belum pupus isu penolakan PKS terhadap Golkar dari ingatan publik, muncul lagi pernyataan Mahfud Sidik yang menegaskan PKS tidak akan mengajukan kadernya sebagai cawapres pendamping SBY. Karena itu, PKS mengusulkan figur nonpartai. Ini seperti merendahkan posisi PKS sendiri, betapa manuver berkoalisi tanpa daya tawar yang memadai, sementara partai lain dengan posisi politik lebih rendah berani mengajukan proposal lebih tinggi. Lagi-lagi celoteh Mahfud itu dibantah oleh kader PKS di berbagai daerah yang menyatakan dukungan terbuka kepada kader terbaik PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW), agar bersiap diri mendampingi SBY sebagai cawapres. Dukungan publik lebih luas datang dari 200 ulama Madura, aktivis LSM di Medan, dan sejumlah tokoh nasional yang tidak meragukan kredibilitas HNW. Bahkan, exit poll yang dilakukan LP3ES pada 9 April 2009 menyimpulkan pasangan SBY-HNW didukung 20,8 persen responden, mengungguli SBY-JK yang meraih 16,3 persen dan SBY-Akbar Tandjung yang hanya memperoleh 5,4 persen dukungan.

Masih belum puas, ada lagi pernyataan Fahri Hamzah yang membuat kening berkerut. Setelah Golkar memutuskan hubungan dengan PD dan JK diberi mandat sebagai capres, Fahri justru mengutarakan PKS akan membuka komunikasi dengan semua partai. Fahri meyakinkan bahwa ketua Majelis Syura PKS dalam waktu dekat akan bertemu dengan JK. Kali ini bantahan datang langsung dari ketua Majelis Syura sendiri yang menyatakan rencana pertemuan memang pernah diutarakan sejak lama, tapi tak ada kecocokan waktu. Dan, saat ini sudah sibuk semua sehingga tak mungkin dijadwalkan ulang. Kejadian ini untuk yang kesekian kalinya membingungkan publik, termasuk kader dan konstituen PKS yang memiliki akses komunikasi terbatas.

Ketiga contoh itu mencerminkan betapa buruknya komunikasi politik sebagian elite PKS. Bila mereka orang biasa mungkin dampaknya tidak akan terasa, tak ada satu pun media yang akan mengutipnya. Tapi, seorang sekretaris jenderal (Anis) yang berbeda pandangan dengan presiden partai (Tifatul), ketua Fraksi di DPR (Mahfud) yang mengabaikan aspirasi kader dan pengurus di sejumlah daerah, serta public reasoning yang menghendaki regenerasi kepemimpinan nasional, termasuk humas Fraksi (Fahri) yang mem-fetakompli ketua Majelis Syura, ini sudah di luar batas kewajaran.
Evaluasi total dan otokritik tuntas perlu dilakukan, bila PKS tetap ingin menjaga jati dirinya sebagai ‘Partai Dakwah’. Inti dakwah adalah nasihat: untuk menegakkan perintah Allah dan rasul-Nya, mengingatkan para pemimpin dan membimbing masyarakat awam. Jika semua pernyataan dan manuver itu dibiarkan berlalu begitu saja tanpa corrective action, yang memadai dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan sekecil apa pun, kapasitas PKS sebagai learning organization mulai diragukan. Suatu hari akan ada pernyataan dan manuver elite yang lebih kontroversial, lalu dampak buruknya tidak bisa dikendalikan lagi.

Sesungguhnya, PKS telah ‘dihukum’ publik dan pemilih yang kritis dengan ‘kekalahan’ di Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, dan kota-kota besar lain. Pertambahan suara PKS berasal dari pelosok desa di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan wilayah luar Jawa (terutama Sumatra dan Sulawesi). Para pemilih pedesaan itu tak terkena efek negatif dari ‘jurus dewa mabuk’ sebagian elite PKS dan iklan yang warna-warni.

Akibatnya, target nasional 20 persen suara masih terlalu jauh dari jangkauan karena kesalahan strategi. Bahkan, prediksi yang realistik 12-15 persen suara pun tak tercapai. Terlalu besar ongkos yang dikeluarkan untuk manuver tak terkendali, dengan risiko tak terpikirkan sebelumnya.

Karena itu, sikap Majelis Syura untuk mengembalikan kesantunan berpolitik PKS patut didukung. PKS kini menjadi salah satu aset nasional yang amat bernilai. Dari sinilah akan diuji: Apakah cita-cita reformasi 11 tahun lalu masih mungkin diwujudkan? Dan, bisakah konsolidasi demokrasi demi pencapaian kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat dimulai setelah tiga kali pemilu? Hanya elite politik yang matang bisa menjawab tantangan ini.

http://www.republika.co.id/koran/24/47641/Komunikasi_Politik_PKS

Tagged

Najiskah Air Mani ?

Abu Al-Jauzaa’ : 06 Mei 2009

Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Hanafiyyah, Malikiyyah, Al-Laitsi, Al-Hasan Al-Bashri, dan salah satu pendapat dari Ahmad mengatakan akan najisnya air mani. Adapun Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Ibnu Hazm mengatakan bahwa air mani itu suci bukan najis. Pendapat terakhir ini dikuatkan oleh Al-Haafidh dalam Al-Fath (1/265) dan Asy-Syaukani dalam As-Sailul-Jaraar (1/67).

Banyak saling silang pendapat dan bantahan dari masing-masing pihak. Namun di sini saya hanya ingin menulis pendapat yang terkuat saja bahwasannya air mani itu suci, bukan najis. Berikut dalil yang melandasinya :

1. Asal dari segala sesuatu adalah suci. Tidaklah sesuatu disebut sebagai najis hingga datang dalil yang shahih dan sharih (jelas) yang memalingkannya dari sifat asalnya (yaitu suci). Dalam hal ini, tidak ada dalil yang menunjukkan akan najisnya air mani.

2. Seandainya air mani itu najis, niscaya akan datang perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mencucinya. Secara khusus, air mani itu seringkali mengenai badan, pakaian, tempat tidur, dan yang lainnya. Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk mencuci apa yang mengenai hal-hal tersebut, maka dapat diketahui bahwasannya air mani itu suci. Mengakhirkan penjelasan pada waktu yang dibutuhkan itu tidak diperbolehkan (تأخير البيان عن وقت الحاجة لا يجوز).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan wanita yang haidl untuk mencuci darah haidl yang mengenai pakaiannya, namun bersamaan itu beliau tidak memerintahkan mencuci yang terkena air mani – padahal apa yang dikenai air mani itu lebih banyak dan lebih sering. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan untuk mencuci madzi dan apa-apa yang mengenainya, namun beliau tidak memerintahkan mencuci air mani – padahal ia keluar dengan sebab yang hampir serupa (yaitu syahwat). Dari sini dapat diketahui bahwa mencuci air mani itu tidaklah wajib, karena ia bukan termasuk najis.

3. Hadits ‘Abdullah bin Syihaab Al-Khaulani :

عن عبدالله بن شهاب الخولاني؛ قال: كنت نازلا على عائشة. فاحتملت في ثوبي. فغمستهما في الماء. فرأتني جارية لعائشة. فأخبرتها. فبعثت إلي عائشة فقالت: ما حملك على ما صنعت بثوبيك؟ قال قلت: رأيت ما يري النائم في منامه. قالت: هل رأيت فيهما شيئا؟ قلت: لا. قالت: فلو رأيت شيئا غسلته. لقد رأيتني وإني لأحكه من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم، يابسا بظفري

Dari ‘Abdullah bin Syihaab Al-Khaulaniy, ia berkata : Aku pernah singgah di tempat ‘Aisyah. Lalu aku bermimpi sehingga dua pakaianku terkena air mani. Maka aku celupkan ke dalam air. Aku dilihat oleh budak ‘Aisyah, dan kemudian ia memberitahukan kepada ‘Aisyah. Kemudian ‘Aisyah menghampiriku dan bertanya : “Mengapa dua pakaianmu engkau celup seperti itu ?”. Aku menjawab : “Aku telah bermimpi dan mengeluarkan air mani”. ‘Aisyah bertanya : “Apakah engkau melihat sesuatu (air mani) di kedua pakaianmu ?”. Aku menjawab : “Tidak”. ‘Aisyah berkata : “Apabila engkau melihat sesuatu (air mani), maka basuhlah ia. Sesungguhnya aku pernah menggerik bekas air mani kering dari baju Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan kuku-ku” [HR. Muslim no. 290].

Sisi pendalilannya adalah bahwa ‘Aisyah hanya menggosok air mani (kering) dari baju Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apabila air mani itu najis, niscaya wajib untuk mencucinya seperti halnya najis.

Jika ada yang menyanggah : “Sesungguhnya menggosok air mani kering itu tidaklah selalu menunjukkan kesuciannya. Sebab, terdapat hadits yang menunjukkan sucinya sandal (yang tertempel najis di bawahnya) dengan tergosok tanah saat memakainya, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu berikut :

عن أبي سعيد الخدري قال : قال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم : إذا جاء أحدكم إلى المسجد فلينظر، فإِن رأى في نعليه قذراً أو أذى فليمسحه وليصل فيهما

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang di antara kalian masuk ke masjid, hendaklah ia lihat (kedua sandalnya). Apabila ia melihat di kedua sandalnya ada kotoran, maka gosoklah ia dan kemudian shalatlah dengannya” [HR. Abu Dawud no. 650; shahih].

Kita jawab dengan keterangan berikut :

4. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :

عن عائشة أنها كانت تحت المني من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يصلي

Dari ‘Aisyah, bahwasannya ia pernah menggosok mani dari pakaian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu beliau sedang shalat” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 290; rijal hadits ini tsiqaat].

Jika air mani itu memang najis, tentu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan membersihkannya sebelum shalat. Namun beliau tetap memakai pakaian tersebut yang kemudian noda air mani itu dibersihkan oleh ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa.

Mungkin ada yang menyanggah : Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui bahwa pakaiannya terkena air mani, sehingga waktu itu ‘Aisyah lah yang membersihkannya. Shalat orang yang tidak mengetahui bahwa pakaiannya terkena najis adalah sah, tidak perlu mengulang.

Kita jawab : Sekiranya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam waktu itu tidak mengetahui bahwa ada najis yang menempel di bajunya, niscaya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan diperingatkan ketika shalat melalui wahyu. Sebagaimana beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah diperingatkan oleh Jibril terhadap kotoran yang ada pada sandalnya – sedangkan beliau dalam keadaan shalat – lalu beliau membukanya dan meneruskan shalatnya.

Apalagi hal ini dikuatkan lagi dengan riwayat :

عن عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسلت المنى من ثوبه بعرق الأذخر ثم يصلي فيه ويحته من ثوبه يابسا ثم يصلي فيه

Dari ‘Aisyah ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menghilangkan (menggosok) air mani dari bajunya dengan daun idzkhir, kemudian shalat dengannya. Dan beliau pun pernah mengerik bekas air mani kering dari bajunya, kemudian shalat dengannya” [HR. Ahmad 6/243 dan Ibnu Khuzaimah no. 294; hasan].

Hadits di atas menunjukkan bahwa beliau pernah menghilangkan air mani yang masih basah dengan daun idzkhir. Tentu saja, jika air mani dibersihkan dengan daun idzkhir akan meninggalkan sisa noda basah pada pakaian beliau. Namun beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetap shalat dengan menggunakan pakaian tersebut. Tidak ada alasan bahwa beliau tidak mengetahui ada noda air mani pada pakaiannya. Jika air mani itu najis, tentu saja tidak cukup membersihkan air mani basah dengan daun idzkhir yang sudah pasti masih meninggalkan bekas/sisa.

Dalil-dalil yang menunjukkan kesucian air mani – bukan najis – sangatlah kuat. Akan tetapi, ketika kita mengatakan bahwa air mani itu suci, bukan berarti ia tidak perlu dibersihkan. Sebab, kedudukannya adalah seperti air liur atau ingus. Walaupun keduanya suci, tetap saja harus dihilangkan jika mengenai pakaian atau yang semisalnya.

عن ابن عباس أنه قال في المني يصيب الثوب : أمطه عنك بعود أو إذخر، وإنما هو بمنزلة البصاق أو المخاط

Dari Ibnu ‘Abbas bahwasannya ia pernah berkata tentang air mani yang mengenai pakaian : “Hilangkan ia darimu, dengan kayu atau idzkhir. Air mani itu hanyalah seperti kedudukan ludah atau ingus” [HR. Asy-Syafi’iy dalam Al-Umm 1/56 dan Ibnul-Mundzir dalam Al-Ausath 2/159; sanadnya shahih].

Wallaahu a’lam.

Ini saja yang dapat dituliskan. Semoga bermanfaat.

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/najiskah-air-mani.html

Tagged

Jangan Tayangkan Iklan Rokok

Komite Penyiaran Indonesia (KPI) mendesak seluruh setasiun televisi swasta nasional untuk tidak menayangkan rokok dan alkohol sebelum pukul 21.30 WIB waktu setempat.

Desakan tersebut disampaikan melalui surat KPI tanggal 14/1/08, ditandatangani Ketua KPI Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja, Ph.D, ditujukan kepada seluruh Direktur Utama Setasiun Televisi Nasional. Tembusan surat dikirim kepada DPR Komisi I, Menkominfo, Kapolri, Kejaksaan Agung, Ketua MUI, Ketua LSF dan KPUD seluruh Indonesia.

Dasar penyampaian desakan tersebut selain banyaknya pengaduan masyarakat yang diterima KPI, ialah bertolak dari Keputusan Pemerintah No. 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta yang salah satu ayatnya menyebutkan, “Iklan rokok pada lembaga penyiaran radio dan televisi hanya dapat disiarkan pada pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat dimana lembaga penyiaran tersebut berada”.Selain larangan tersebut di atas, juga melanggar Standar Program Siaran (SPS) yang menyebutkan, “dilarang menyiarkan program yang mengandung muatan yang mendorong anak-anak atau remaja untuk menggunakan alkohol dan rokok”Dalam surat tersebut tidak disebutkan apa sanksinya jika desakan tersebut diabaikan (Infokom/sb)

http://mui.or.id/konten/berita/jangan-tayangkan-iklan-rokok

Advertisements