Ngaji Lepas, Sesat Kah?

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ustadz yang terhormat
Saya udah lama ikut pengajian dan sering pindah pindah kelompok. Alasannya, saya merasa setiap kelompok selalu meninggikan ” grup value” nya ketimbang ” Islam value”nya.
Saya selalu menjumpai oknum dalam kelompok tersebut yang suka menyalahkan kelompok lain dan merasa kelompoknya yang bagus. Kondisi tersebut yang menyebabkan saya kecewa.
Akhirnya saya memutuskan untuk “ngaji lepas”, artinya saya tidak ngaji menetap di suatu kelompok tertentu saja. Sekarang metode saya ngaji tidak pandang kelompok, asalkan sesuai tuntunan Qur’an dan hadist. Termasuk ngaji online bersama Ustadz H.A. Sarwat.
Apakah metode tersebut efektif dan diperbolehkan dan tidak sesat?
Terima kasih
Wassalam
Abualwan
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Rasanya kok kurang relevan ya, kalau urusan ngaji kepada suatu kelompok kok dihubung-hubungkan dengan kesesatan. Sebab kesesatan itu kan suatu hal yang nyata dan mudah dideteksi.
Seperti kesesatan Ahmadiyah yang sangat jelas, sejelas matahari di siang hari yang terik. Di mana tukang ojek yang lagi main gaple sambil mabok di pinggir jalan pun tahu bahwa Ahmadiyah itu sesat.
Jadi urusan ngaji pindah sana pindah sini, dalam hemat kami tidak ada hubungannya dengan sesat atau tidak sesat. Namanya juga orang cari ilmu, ya harus dari mana-mana. Al-Imam Asy-Syafi’i itu punya guru banyak sekali. Imam Al-Bukhari juga punya guru bejibun.
Tujuan Ikut Ngaji
Sebenarnya yang harus Anda lakukan sebelumnya adalah menentukan dulu tujuan dari ‘mengaji’ yang Anda maksud. Baru setelah itu nanti akan terjawab bahwa ‘mengaji lepas’ itu sudah tepat atau belum tepat.
Biar kami bantu dengan sebuah contoh. Kalau tujuan Anda ingin jadi aktifis sebuah gerakan, entah jadi simpatisan atau pun coba-coba jadi pengurusnya, maka cara Anda mengikuti pengajian di sebuah kelompok tersebut sudah benar.
Karena pengajian itu sebenarnya adalah rekruitmen anggota buat kelompok itu. Dan amat sangat wajar sekali kalau materi kajiannya tidak akan jauh-jauh dari memuji-muji keberadaan kelompok itu. Namanya juga rekruitmen, masak malah mencaci-maki, ya tidak mungkin lah.
Tapi…
Kalau sesungguhnya yang ingin Anda lalukan adalah belajar agama Islam dan ilmu-ilmu syariahnya, rasanya Anda agak salah alamat. Dan sekarang ini terbukti bahwa memang Anda kecewa, karena menghadapi kenyataan bahwa masing-masing pengajian itu hanya mengangkat ‘group value’ masing-masing, bukan ‘Islam value’.
Seharusnya Anda bukan ikut pengajian, tapi Anda kuliah di fakultas ilmu-ilmu keIslaman. Misalnya Anda kuliah di Al-Azhar Cairo Mesir, atau Universitas Islam Madinah, Ummul Quro Makkah, Universitas Islam Al-Imam Muhammad Ibnu Su’ud Riyadh, atau Universitas Islam Jordan, Syria, dan berbagai perguruan tinggi Islam lainnya. Di sanalah Anda akan mendapatkan ilmu-ilmu keIslaman, bukan di sebuah pegajian milik kelompok tertentu.
Tapi sekedar mengingatkan saja, jangan kuliah di kampus-kampus Islam yang berafiliasi ke Barat, karena perguran tinggi semacam itu justru menjadi agen-agen orientalis dalam menyebarkan ajaran sesatnya. Bukan belajar ilmu yang mengajak ke surga, malah Anda bisa-bisa sampai neraka nantinya. Hati-hati dan waspada.
Kalau niat Anda adalah belajar ilmu-ilmu ke-Islaman, tapi malah ikut sebuah kelompok pengajian, jangan terlalu banyak berharap. Syukur-syukur kalau dalam kelompok itu memang ada ustad yang ahli di bidang ilmu syariah. Jadi silahkan saja. Tapi kenyataan yang sering kita hadapi memang masih agak jauh dari harapan.
Nara Sumber Tidak Kompeten
Kadang-kadang, orang yang jadi narasumber dari pengajian itu justru sama sekali bukan orang yang memiliki kafa’ah (kompetensi) dalam bidang ilmu-ilmu ke-Islaman.
Moohn maaf, bukan maksud kami merendahkan mereka yang tekun mengajar dan mengisi pengajian di berbagai kelompok pengajian, tetapi kalau Anda bicara tentang ilmu-ilmu keIslaman, maka wajar sekali klu kita bicara tentang seberapa besar kompetensi, kapasitas dan kemampuan secara ilmiyah dari para guru ngajinya.
Sekedar gambaran saja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa jadi guru ngaji yang mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam:
1. Penguasaan Bahasa Arab
Mereka yang tidak bisa bahasa Arab, jelas tidak bisa disebut sebagai orang yang punya kemampuan dalam ilmu-ilmu syariah. Dan amat tidak layak kalau mengajar ngaji yang isinya mengajarkan ilmu syariah.
Sebab menguasai bahasa Arab adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Logikanya sederhana saja, 99, 99 persen literatur agama Islam berbahasa Arab. Yang berbahasa Indonesia sedikit sekali karena tidak dicetak kecuali semata-mata pertimbangan bisnis para penerbit buku.
Kalau guru ngaji anda tidak bahasa Arab, jangan kecewa kalau apa yang bisa diajarkan kepada Anda hanya terbatas pada literatur bahasa Indonesia yang amat terbatas.
Jadi kalau ujung-ujungnya guru ngaji anda itu malah mengajarkan materi tentang kelompoknya saja, sangat wajar. Sebab ada pepatah arab berkata, faqidusy-sya’i la yu’thihi. Orang yang tidak punya apa-apa jelas tidak bisa memberi apa-apa. Maka dia hanya akan memberi apa yang dia punya saja. Yang dia punya adalah materi yang mengajak orang untuk ikut kelompoknya, itu saja dan tidak lebih.
2. Menguasai Ilmu Syariah
Seorang guru ngaji harus pernah belajar ilmu syariah, tentu sesuai dengan cabang ilmunya. Caranya tentu dengan kuliah sekian semester di sebuah Universitas Islam, di mana dosen-dosennya adalah para doktor dan profesor di bidang masing-masing disiplin ilmu.
Secara tradisional juga bisa, yaitu dengan cara mondok di suatu pesantren atau ma’had. Dahulu para ulama nusantara mukim di Makkah Al-Mukarramah bertahun-tahun, baru kemudian pulang ke kampung halaman jadi ustadz atau kiyai.
Anehnya, di zaman sekarang ini, seorang mahasiswa di kampus umum semester akhir sudah dianggap jadi ustadz dan guru ngaji buat adik-adik mahasiswa semester awal. Padahal mereka tidak pernah belajar bahasa Arab, tidak pernah mondok atau muqim di suatu pusat pengajaran ilmu syariah. Kok tiba-tiba bisa jadi guru ngaji atau mentor?
Darimana logikanya?
Kalau adik-adik mahasiswa itu protes karena guru ngaji mereka tidak tahu apa-apa tentang ilmu-ilmu keIslaman, wajar dan sangat masuk akal.
3. Fasih Membaca Quran
Sebenarnya syarat fasih bukan syarat jadi guru pengajian, itu terlalu ecek-eck. Bisa dan fasih membaca Quran adalah syarat untuk menjadi orang Islam. Sebab tiap orang Islam kan wajib shalat lima waktu. Dan shalat itu harus baca Quran, tentu baca Quran dengan fasih.
Lucu dan sangat menggelikan, kadang malah kita sering ketemu dengan guru ngaji mereka belum bisa baca Quran. Kalau pun dipaksakan, bacaannya pletat pletot nggak karuan.
“Loh, kok guru ngaji nggak bisa baca Quran? Guru ngaji apaan tuh?”, begitu kira-kira komentar anggota pengajiannya.
4. Sesuai Dengan Bidang Ilmu
Kalau kita bicara tentang ilmu-lmu agama, sebenarnya cakupannya amat luas. Ada ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih.
Nah, di luar itu ada fakultas lain yang masih ada hubungannya, tapi harus dipahami memang tidak mempelajari core dari ilmu syariah.
Misalnya fakultasnya fakultas adab (sastra), fakultas tarbiyah (edukasi) atau fakultas dakwah. Fakultas-fakultas itu bukan core ilmu syariah. Fakultas Tarbiyah dan Dakwah adalah ilmu tentang bagaimana teknik menyampaikan isi materi, tapi belum tentu belajar isinya.
Sadar Diri dan Pindah Profesi
Sebagian dari guru ngaji yang tidak memenuhi syarat itu akhirnya banyak juga yang sadar diri. Akhirnya mereka pindah profesi, tidak lagi jadi guru ngaji tapi jadi trainner, motivator atau yang semacam itu.
Sebab untuk jadi trainner atau semacamnya, memang tidak ada syarat harus bisa baca Quran, atau bisa bahasa Arab atau menguasai ilmu-ilmu syariah.
Kami seringkali bertemu dengan model para trainner atau motivator ini, dan memang mereka aman-aman saja. Tidak ada yang protes. Sebab dari awal mereka sudah mengaku duluan, bahwa diri mereka bukan ahli ilmu agama, bukan kiyai, bukan ulama dan bukan-bukan yang lain.
Dan yang lebih menarik, jadi trainner atau motivator itu boleh pasang tarif. Sedangkan jadi ustadz, jangankan pasang tarif, terima amplop saja pun sering dipermasalahkan orang banyak. Padahal uang di dalam amplopnya pak ustadz kita itu kadang tidak cukup buat beli bensin. Kasian deh…
Walau memang ada juga penceramah yang sudah di papan atas, yang sekali ceramah 10 menit, langsung terima amplop. Isinya kadang bisa sampai 10 kali gaji karyawan P-11.
Ngomong-ngomong…
Tahukah Anda siapakah pegawai P-11 itu? Mereka adalah para karyawan yang kerja selama sebulan penuh dengan : Pergi Pagi Pulang Petang Pantat Pinggul Pegal-Pegal Pendapat Pas-Pasan.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc

http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/8802081135-ngaji-lepas-sesat-kah.htm?other

%d bloggers like this: