Kill All The Politicians

(Herry Nurdi)

Pekan lalu, seorang sahabat baru saya yang berprofesi sebagai konsultan manajemen memberikan hadiah yang sangat menarik. Sebuah buku, berjudul Winners never cheat,karya Jon M.Huntsman. Seorang CEO perusahaan internasional yang juga mantan staf gedung putih di zaman presiden Nixon. Dalam sejarah amerika, Huntsman adalah satu-satunya staf Nixon yang tak dipanggil dan diperiksa dalam kasus skandal Watergate karena sikap hidupnya yang memegang teguh kejujuran.

Buku yang sangat menarik, saya tak bisa berhenti membacanya. Bahkan Larry King dr CNN memberikan kata pengantar yang istimewa untuk buku ini. Secara keseluruhan buku ini mengupas betapa nilai-nilai luhur yg kita pelajari dalam kehidupan, sebenarnya mampu kita lakukan dan kita jaga dalam meraih kesuksesan dan kekuasaan. Misalnya ketika membahas bohong dan tidak bohong, Huntsman mengatakan bahwa sikap abu-abu sama sekali bukanlah pengganti sikap hitam-putih. Gray is not substitute for black and white.

Tapi hari kita mendapati bahasa lain dari bersikap abu-abu dengan kata yang lebih indah. Misalnya saja, kata kompromi sering dipakai untuk menggantikan sikap yg abu-abu tadi. Atau kalimat bermain cantik, sebagai kata pengganti menelikung aturan yang sudah ditetapkan.

Pada chapters yang membahas tentang kekuatan memegang janji, Huntsman mengutip kalimat William Shakespeare tentang hal pertama yang harus dilakukan adalah kill all the lawyers. Dalam kalimatnya Huntmans menulis, “Shakespeare didn’t literally mean it when he said that the first thing we must do is kill all the lawyers….”

Kalimat ini sebenarnya dikutip dari karya Shakespeare yang berjudul King Henry VI. Kill all the lawyers diucapkan oleh seorg tokoh bernama Dick yang memiliki obsesi membunuh seluruh pengacara di tanah Britania raya akibat pengkhianatan yang dialaminya. 

Jika dalam karyanya, Shakespeare “merekomendasikan” untuk membunuh para pengacara untuk kasusnya di Inggris sana, mungkin rekomendasi yang lain akan muncul jika kasusnya adalah Indonesia. Bisa jadi yang muncul bukan kalimat kill all the lawyers tapi menjadi kill all politicians.

Bagaimana tidak, lewat segala bentuk perubahan politik di negeri ini, sesungguhnya para politisi sedang mempermainkan hidup dan hajat hidup orang banyak. Intrik politik yang mereka lakukan, melibatkan nasib banyak orang yang bergantung pads keputusan-keputusan sosial yang mereka telorkan, Tapi dengan sangat mudahnya mereka mengambil sikap, dan mengatasnamakan rakyat, tanpa pernah sedikitpun tahu apa yang dirasakan rakyat hari ini.

Ketika minyak tanah langka, dan para petinggi negeri memutuskan untuk konversi menggunakan gas elpiji. Mereka, para petinggi itu, tak pernah merasakan antre selama berjamjam, di bawah terik matahari atau guyuran hujan. Hanya un tuk mendapatkan dua liter minyak tanah untuk menanak nasi hari ini di rumah.

Bahkan ketika masyarakat berpindah pada gas elpiji yang katanya lebih murah, keputusan pemerintah juga berubah. Harga elpiji turut naik pula, padahal sebelumnya digembar-gemborkan aman dan lebih murah.

Dengan peraturan dan undang-undang, para politisi itu, di Senayan, di Istana Negara, di kantor-kantor partai yang megah sesungguhnya sedang memperjualbelikan nasib manusia. Mereka hanya mampu melakukan politik agregasi, mengumpulkan jumlah suara, lalu dijual dan ditukar dengan jabatan, juga kekuasaan. Mereka tak pernah tahu, harga sekeping krupuk putih hari ini, sudah mencapai 1.000 rupiah. Mereka tak pernah tahu!

Dijualnya penderitaan orang-orang kecil, sebagai komoditas dan bargaining politik. Bahkan mereka menggunakan dalil agama, bertopeng dan berjubah, mengobral firman Tuhan clan sabda Nabi. Partai-partai Islam lebih bersemangat dan berjuang gigih mengajak kaum Muslimin mendukung caIon bupati, walikota dan gubernur pilihan. Semangat mereka tak sebanding ketika mengajak orang untuk beramal shalih dan menegakkan kebenaran. Mereka lebih keras mengajak orang untuk mencoblos. Lebih keras di-banding mereka mengajak orang untuk mendirikan shalat dan menegakkan syariat.

Ketika pemilu dengan keras mereka menyeru, “Jika orang-orang baik menarik diri dari politik, apakah kita rela kalau semua kursi diisi oleh orang-orang yang remit dan pelik?” Tapi buktinya, ketika mereka sudah duduk berkuasa, mereka tak kurang remit dan peliknya.

Karena itu, saya tertawa sangat keras clan gembira ketika suatu hari melihat sebuah motor yang memasang poster dengan tulisan sederhana. “Stop animal testing. Use politician.” Saya setuju sekali. Sangat setuju.

source: majalah Sabili edisi terbaru

%d bloggers like this: