Laskar FPI; Dari Perusak Bar ke Evakuator Mayat

Di tengah gencarnya opini pembubaran FPI di berbagai media di Indonesia, ada baiknya kita melihat sisi positif dari FPI sebagaimana tertuang dalam kabar lama ini..

Selasa, 18 Januari 2005
Punya Tim Pengendus Mayat dan Negosiator GAM
Laskar FPI; Dari Perusak Bar ke Evakuator Mayat

Ratusan Anggota Front Pembela Islam Jakarta saat Evakuasi mayat di kawasan Ulhelheue Aceh Besar beberapa hari yang lalu. Foto Agus Wahyudi

Banda Aceh,-  Siapa yang belum mendengar nama Laskar Front Pembela Islam (FPI). Di Jakarta, laskar itu punya nama besar gara-gara sering menyatroni danmerusak klub-klub malam. Bagaimana aksi laskar itu di daerah bencana di 

Banda Aceh? 

Laporan Ibnu Yunianto, Banda Aceh 

SULIT melihat Habib Riqizk Shihab mengenakan jubah dan kafiyeh putihnya selama hari-hari pascabencana gempa dan tsunami di Banda Aceh. Atribut kebesaran Panglima Laskar Front Pembela Islam itu telah setengah bulan ini bersalin dengan kaus tipis dan celana lebar semata kaki. Bahkan, jabatan panglima dia tinggalkan ketika pada hari-hari tertentu mendapat jatah masuk menjadi anggota tim evakuator mayat. Laskar FPI memang menjadi salah satu relawan evakuator mayat di ibukota NAD. Mereka telah datang sejak hari kedua bencana. Hari ini, sekitar 1.200 

anggota FPI dari Jakarta, Solo, Surabaya dan Makassar telah mendirikan posko di Banda Aceh. Lokasinya pun istimewa, Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Di halaman makam yang berlapis marmer hitam itu, tiga tenda lapangan dan dua tenda logistik didirikan ‘laskar garis keras’ itu. “Emang ente pikir Laskar FPI hanya bisa merusak bar, kami juga punya organisasi penanggulangan pascabencana,” tukas Habib Riqizk, ketika ditanya motivasinya terjun ke NAD. 

Habib itu mungkin tak sedang bergurau. Meski mengaku datang dengan modal dengkul, FPI termasuk kelompok relawan yang cukup disegani di Banda Aceh. 

Laskar itu bukan cuma ringan tangan, tapi juga pintar mengambil hati orang Aceh. Tentang ringan tangannya laskar itu juga cukup legendaris di kalangan relawan. Soalnya, hanya FPI yang berani menyentuh kawasan Syiah Kuala. Kawasan di pinggiran Universitas Syiah Kuala dan makam raja-raja Aceh itu memang menjadi momok, karena lokasinya yang berawa-rawa, banyak paku bekas rumah yang telah berkarat dan ratusan ekor ular. Di kawasan itu juga terkenal dengan mayat yang sangat berbau dan anggota tubuhnya tidak utuh karena terus-menerus terendam air. 

“Bukan Ane bermaksud sombong, banyak relawan yang muntah-muntah begitu masuk kawasan Syiah Kuala. Tapi, FPI berhasil membersihkan mayat-mayat di daerah itu. Sekitar 600 mayat sudah kami angkat dari sana selama 22 hari ini,” kata Habib Riqizk. Untuk membersihkan kawasan bekas padat penduduk itu, Ketua Pelaksana Operasi FPI Ja’far Sidiq mengatakan, kalau Laskar FPI memulainya dengan menyiapkan “peralatan perang” yang lengkap. Mereka menggedor setiap pintu instansi pemerintah sehingga berhasil mendapatkan 4 ton logistik, ribuan masker standar TNI, ribuan pasang sarung tangan, dan ratusan pasang sepatu boot. “Pokoknya gaya gebug dulu khas FPI kami pakai untuk mendapatkan perlengkapan evakuasi, tapi mereka beruntung karena ada yang mengerjakan evakuasi mayat di kawasan yang tak tersentuh relawan lain,” kata dia. 

Setelah itu, mereka lantas menyiapkan kamp relawan di Taman Makam Pahlawan. Kawasan elit itu mereka sulap menjadi kamp relawan dengan dapur umum 24 jam, kamar mandi portabel dan tempat sanitasi terbaik diantara kamp relawan lainnya. Kamp itu juga dilengkapi dengan tempat untuk mencuci anggota tubuh relawan dan alat perlengkapan evakuasi dengan cairan kimia khusus. Bahkan, meski pun kawasan makam, seluruh kamp itu juga dinyatakan sebagai daerah bebas rokok dan daerah wajib berbusana muslim. Bahkan, setiap pekan anggota FPI juga wajib disuntik tetanus dan malaria, karena tingginya risiko bekerja di rawa-rawa yang penuh puing-puing bangunan. 

Mereka juga membagi sekitar 1.200 anggota laskar menjadi 3 tim, yaitu tim pengendus mayat, evakuator mayat, tim sholat jenazah dan tim logistik. 

Tim pengendus bertugas mencari mayat diantara tumpukan puing, tim evakuasi menggali puing untuk mencari mayat, tim pensholat jenazah khusus mensholatkan setiap jenazah yang ditemukan sementara tim logistik mengurus konsumsi relawan. “Dengan begitu, tim logistik dan tim sholat jenazah tidak menyentuh mayat, sehingga kebersihan makanan dan kesucian anggota tim pensholat jenazah selalu terjaga,” kata Ja’far. 

Di daerah kos-kosan mahasiswa itu, anggota Laskar FPI juga kerap menemukan keanehan-keanehan. Diantaranya, Sabtu lalu mereka menemukan tubuh utuh seorang ibu muda yang tengah hamil tua. Mayat itu utuh, kulitnya masih segar dan sama sekali tidak berbau meski terendam air selama 21 hari. 

Namun, hanya berselang 1 meter ada jenazah yang tidak utuh organ tubuhnya serta sangat berbau. “Apa maknanya, saya kira Allah hendak menunjukkan kekuasaannya,” kata habib. 

Karena nama besarnya dalam urusan evakuasi mayat, Laskar FPI juga kerap dimintai tolong untuk mengevakuasi mayat di daerah konflik. Di kawasan Lhok Nga, sekitar 20 kilometer dari Banda Aceh, FPI bahkan dihubungi langsung Panglima GAM wilayah itu untuk mengurus jenazah di sana. “Ada 

ratusan mayat yang sempat terbengkalai di daerah itu. Soalnya, GAM takut ditembak TNI kalau dia keluar untuk mengurus mayat, sementara TNI juga nggak mau ditembak GAM. Karena itu, FPI yang diminta turun,” kata Ja’far 

Shodiq. 

Kini FPI juga mulai menyentuh reruntuhan Pasar Atjeh, kawasan pertokoan tepat di belakang Masjid Baiturahman, Banda Aceh. Di kawasan yang terkenal karena ada rekaman video yang mengabadikan datangnya tsunami di kawasan itu, ratusan jenazah diperkirakan masih tertimbun tumpukan puing dan barang dagangan. Bau busuk menyengat begitu memasuki kawasan yang hanya berjarak 300 meter dari Meuligae (Pendapa) Nanggroe Aceh Darussalam, kompleks kantor gubernur NAD yang juga Posko Satkorlak PBA NAD itu. “Dari jam 9 hingga dhuhur, sudah 48 mayat kita temukan. Entah berapa lagi yang tersisa. Mayat seakan tidak ada habisnya,” kata Habib Riqizk, menambahkan. Karena hanya tukang gedor fasilitas penyelamatan, FPI kini masih kesulitan 

mengangkut jenazah ke tempat pemakaman masal di daerah Lambaro, Aceh Besar. Mereka hanya mengandalkan angkutan milik TNI dan Dinas PU yang tidak seberapa banyak. Padahal, sekitar 100 mayat per hari ditemukan laskar yang di Jakarta gemar menghunus pedang dan golok di kelab malam 

itu. 

Lantas, apa rahasia sehingga dalam 23 hari hanya 6 orang anggota laskar yang pulang ke daerah masing- asing? “Kontrak kami ke Aceh adalah bebas pergi kapan saja tapi jangan harapkan uang saku untuk pulang. Kami ke sini tidak ada yang bayari, jadi tidak ada yang kami beri uang saku untuk pulang. Kalau mereka bisa pulang sendiri silahkan. Akibatnya, hanya enam orang saja yang pulang,” jelasnya sambil terkekeh. 

Selain piawai mengumpulkan mayat, laskar FPI juga piawai mengambil hati orang Aceh. Laskar yang meliburkan operasi setiap hari Jumat untuk membersihkan masjid dan madrasah itu dikenal keras melindungi kesucian masjid. Mereka pernah membuat larangan bagi orang asing untuk masuk ke lingkungan Masjid Baiturrahman dengan alasan kawasan masjid haram bagi non muslim. Peraturan keras itu rupanya sangat didukung oleh rakyat Aceh. Tak heran, Laskar FPI justru menuai pujian di Banda Aceh.(jpnn) 

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=78110

Tagged
%d bloggers like this: