Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah

Makna Istihadhah Dan Kondisi Wanita Mustahadhah
http://www.almanhaj.or.id/content/1432/slash/0

[1]. Makna Istihadhah
Istihadhah ialah keluamya darah terus-menerus pada seorang wanita tanpa
henti sama sekali atau berhenti sebentar seperti sehari atau dua hari dalam
sebulan.

Dalil kondisi pertama, yakni keluamya darah terus-menerus tanpa henti sama
sekali, hadits riwayat Al- Bukhari dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa
Fatimah binti Abu Hubaisy berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam :

“Ya Rasulullah, sungguh aku ini tak pemah suci ” Dalam riwayat lain• “Aku
mengalami istihadhah maka tak pemah suci. ”

Dalil kondisi kedua, yakni darah tidak berhenti kecuali sebentar, hadits
dari Hamnah binti Jahsy ketika datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam dan berkata:

“Ya Rasulullah, sungguh aku sedang mengalami Istihadhah yang deras sekali. ”
[Hadits riwayat Ahmad,AbuDawud dan At-Tirmidi dengan menyatakan shahih.
Disebutkan pula bahwa hadits ini menurut Imam Ahmad shahih, sedang menurut
Al-Bukhari hasan]

[2]. Kondisi Wanita Mustahadhah
Ada tiga kondisi bagi wanita mustahadhah:
[a]. Sebelum mengalami istihadhah, ia mempunyai haid yang jelas waktunya.
Dalam kondisi ini, hendaklah ia berpedoman kepada jadwal haidnya yang telah
diketahui sebelumnya. Maka pada masa itu dihitung sebagai haid dan berlaku
baginya hukum-hukum haid. Adapun selain masa tersebut merupakan istihadhah
yang berlaku baginya hukum-hukum istihadhah.

Misalnya, seorang wanita biasanya haid selama enam hari pada setiap awal
bulan, tiba-tiba mengalami istihadhah dan darahnya keluar terus-menerus.
Maka masa haidnya dihitung enam hari pada setiap awal bulan, sedang
selainnya merupakan istihadhah. Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha
bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam : “Ya Rasulullah, sungguh aku mengalami istihadhah maka tidak
pernah suci, apakah aku meninggalkan shalat? Nabi menjawab: Tidak, itu
adalah darah penyakit. Namun tinggalkan shalat sebanyak hari yang biasanya
kamu haid sebelum itu, kemudian mandilah dan lakukan shalat. “[Hadits
riwayat Al-Bukhari]

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda kepada Ummu Habibah binti Jahsy: “Diamlah selama masa haid yang
biasa menghalangimu, lalu mandilah dan lakukan shalat. ” Dengan
demikian,wanita mustahadhah yang haidnya sudah jelas waktunya menunggu
selama masa haidnya itu. Setelah itu mandi dan shalat, biar pun darah pada
saat itu masih keluar.

c]. Tidak mempunyai haid yangjelas waktunya dan tidak bisa dibedakan secara
tepat darahnya. Seperti: jika istihadhah yang dialaminya terjadi
terus-menerus mulai dari saat pertama kali melihat darah sementara darahnya
menurut satu sifat saja atau berubah-ubah dan tidak mungkin dianggap sebagai
darah haid. Dalam kondisi ini, hendaklah ia mengambil kebiasaan kaum wanita
pada umumnya.

Maka masa haidnya adalah enam atau tujuh hari pada setiap bulan dihitung
mulai dari saat pertama kali mendapati darah Sedang selebihnya merupakan
istihadhah.

Misalnya, seorang wanita saat pertama kali melihat darah pada tanggal 5 dan
darah itu keluar terus-menerus tanpa dapat dibedakan secara tepat mana yang
darah haid, baik melalui wama ataupun dengan cara lain. Maka haidnya pada
setiap bulan dihitung selama enam atau tujuh hari dimulai dari tanggal
tersebut.

Hal ini berdasarkan hadits Hamnah binti Jahsy Radhiyallahu ‘anha bahwa ia
berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, sungguh
aku sedang mengalami istihadah yang deras sekali. Lalu bagaimana pendapatmu
tentangnya karena ia telah menghalangiku shalat dan berpuasa? Beliau
bersabda: “Aku beritahukan kepadamu (untuk menggunakan) kapas dengan
melekatkannya pada farji, karena hal itu dapat menyerap darah”. Hamnah
berkata: “Darahnya lebih banyak dari itu”. Nabipun bersabda: “Ini hanyalah
salah satu usikan syetan. Maka hitunglah haidmu 6 atau 7 hari menurut ilmu
Allah Ta’ala lalu mandilah sampai kamu merasa telah bersih dan suci,
kemudian shalatlah selama 24 atau 3 hari, dan puasalah.” [Hadits riwayat
Ahmad,Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Menurut Ahmad dan At-Tirmidzi hadits ini
shahih, sedang menurut Al-Bukhari hasan]

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : 6 atau 7 hari tersebut bukan untuk
memberikan pilihan, tapi agar si wanita berijtihad dengan cara memperhatikan
mana yang lebih mendekati kondisinya dari wanita lain yang lebih mirip
kondisi fisiknya, lebih dekat usia dan hubungan kekeluargaannya serta
memperhatikan mana yang lebih mendekati haid dari keadaan darahnya dan
pertimbangan-pertimbangan lainnya.

[4]. Hukum-Hukum Istihadhah
http://www.almanhaj.or.id/content/1494/slash/0

Dari penjelasan terdahulu, dapat kita mengerti kapan darah itu sebagai darah
haid dan kapan sebagai darah istihadhah.

Jika yang terjadi adalah darah haid maka berlaku baginya hukum-hukum haid,
sedangkan jika yang terjadi darah istihadhah maka yang berlalku pun
hukum-hukum istihadhah.

Hukum-hukum haid yang penting telah dijelaskan di muka. Adapun hukum-hukum
istihadhah seperti,halnya hukum-hukum tuhr (keadaan suci). Tidak ada
perbedaan antara wanita mustahdhah dan wanita suci, kecuali dalam hal
berikut ini:

[a]. Wanita mustahadhah wajib berwudhu setiap kali hendak shalat.
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fatimah binti Abu
Hubaisy:

“Artinya : Kemudian berwudhulah kamu setiap kali hendak shalat” [Hadits
riwayat Al-Bukhari dalam Bab Membersihkan Darah]

Hal itu memberikan pemahaman bahwa wanita mustahadhah tidak berwudhu untuk
shalat yang telah tertentu waktunya kecuali jika telah masuk waktunya.
Sedangkan shalat yang tidak tertentu waktunya, maka ia berwudhu pada saat
hendak melakukannya

[b]. Ketika hendak berwudhu, membersihkan sisa-sisa darah dan melekatkan
kain dengan kapas (atau pembalut wanita) pada farjinya untuk mencegah
keluarnya darah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada
Hamnah:

“Artinya : Aku beritahukan kepadamu (untuk menggunakan) kapas, karena hal
itu dapat menyerap darah”. Hamnah berkata: ‘Darahnya lebih banyak dari itu”.
Beliau bersabda: “gunakan kain!”. Kata Hamnah: “Darahnya masih banyak pula”.
Nabipun bersabda: “Maka pakailah penahan!”

Kalaupun masih ada darah yang keluar setelah tindakan tersebut, maka tidak
apa-apa hukumnya. Karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada
Fatimah binti Abu Hubaisy:

“Artinya : Tinggalkan shalat selama hari-hari haidmu, kemudian mandilah dan
berwudhulah untuk setiap kali shalat, lalu shalatlah meskipun darah menetes
di atas alas. ” [Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah]

Ketika Wanita Samar Terhadap Darah Yang Keluar Darinya
http://www.almanhaj.or.id/content/1685/slash/0

%d bloggers like this: