Seputar fatwa MUI ttg NATAL

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Salam sejahtera,

If only, rekan-rekan non-muslim tahu konsekuensi perayaan natal bersama bagi
muslim, Anda sekalian tak akan pernah memaki MUI dan juga tak akan pernah
berharap ada ucapan selamat natal dari muslim.

Anda merayakan kelahiran Jesus sebagai Juru Selamat, bukan Jesus sebagai
nabi, utusan Allah. Di sinilah salah satu perbedaan mendasar antara Islam
dan Kristen. Islam melihat Jesus sebagai seorang utusan Allah, manusia biasa
[bukan anak Tuhan], yang dibekali banyak mukjizat untuk mendukung
kerasulannya.

Merayakan natal bersama sebagaimana difahami oleh ajaran Kristen, berarti
sebuah pengakuan bahwa Jesus adalah sang Juru Selamat. Bagi orang Islam,
tindakan ini adalah perbuatan syirik [for sang Juru Selamat di dalam Islam
is Tuhan yang Esa -tidak beranak dan tidak diperanakkan, yang dalam bahasa
Arab disebut Allah].

Ketika Anda [Nasrani] mengucapkan selamat idul Fitri, tak ada konsekuensi
theologis bagi Anda. Tak mengubah pengakuan Anda bahwa Jesus adalah sang
Juru Selamat. Ketika muslim mengucapkan selamat natal dalam konteks yang
difahami ummat Nasrani, muslim itu telah mengakui bahwa Jesus is sang Juru
Selamat.

Kalimat yang konsekuensinya sepadan dengan ucapan selamat natal itu adalah
ucapan dua kalimat syahadah: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah,
danaku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu utusan Allah.”

Nah, beranikah Anda sekalian mengucapkan dua kalimah syahadah itu, yg oleh
karenanya Anda tidak lagi mengakui bhw Jesus is the Savior? yg oleh
karenanya juga Anda telah menjadi muslim?

Mohon alinea di atas itu Anda renungkan baik-baik.

Dengan apa yang sudah saya uraikan di atas, saya stand firmly behind fatwa
MUI tentang natalan ini.

Kepada mereka yang sempat menulis, “kalau saja MUI mengeluarkan fatwa agar
ummat Islam tak berhubungan dengan ummat lain”, saya minta baca lagi fatwa
MUI.
Di fatwa itu juga dianjurkan agar ummat Islam tetap menjalin hubungan dengan
non-muslim [dlm urusan yg tak terkait dengan akidah].

FYI, MUI juga tak akan mengeluarkan fatwa spt yang Anda ‘andaikan’ itu, krn
al Qur’an sendiri mengajarkan agar ummat Islam menjalin hubungan dengan
ummat lain dalam soal kemasyarakatan [hal-hal yang tak terkait dengan
akiqah]. Seandainya MUI mengeluarkan fatwa spt yang Anda ‘andaikan’, maka
muslim spt saya ini pertama kali akan menentang fatwa itu.

Kepada mereka yang menulis, MUI menteror minoritas dengan fatwanya, saya
sarankan untuk bisa menempatkan persoalan pada proporsi yang sebenarnya.

MUI sebagai kumpulan ulama punya kewajiban mengingatkan ummat Islam, dalam
bentuk petuah-petuah [fatwa]. Ketika pelaksanaan ajaran agama [Islam]
dicampur-adukkan dng kepercayaan agama lain, maka tugas ulama lah memberikan
teguran kepada muslim.

Seandainya MUI mengeluarkan fatwa melarang ummat Kristen u/ merayakan natal,
itu yang disebut teror. Dan, saya sebagai muslim akan menentang fatwa spt
itu. Tak seorang pun di dunia ini yang boleh menghalangi ummat lain
melaksanakan ajaran agamanya.

Sebaiknya, rekan-rekan Kristen juga bisa memahami apa arti perayaaan
natalbersama ini secara theologis. Sudah pernah saya sampaikan, tak
memberi
ucapan selamat natal atau tak ikut perayaan natal bersama, bukan berarti
teman muslim Anda memusuhi Anda. Selain itu, masih banyak aktivitas lain
yang
dapat dikerjakan bersama-sama tanpa harus mengorbankan akiqah masing-masing.

Saya berikan contoh apa yang barusan saya alami.

Pagi itu, Jum’at dua hari menjelang lebaran, saya berniat mengundang bro
Achilov, dari Uzbekh untuk makan sahur bersama. Karena ia tak makan daging,
saya menyiapkan udang sebagai pengganti. Sayuran (baby carrot, mushroom,
brokoli) sudah selesai dipotong-potong, udang sudah di-defrost di microwave,
dan bumbu (bawang bombay, bawang daun, dan paprika) sudah selesai dipotong.
Saya sudah menghidupkan stove sambil motong-motong bawang putih.

Sebelum semua bawang putih selesai dipotong, pagi itu pukul 4:10 telphone di
dapur berdering. Saya angkat. “Hey…may I speak to Usman please?” “It is
he,” jawab saya. “Usman, I am very-very sick. If you don’t see me on campus
today, that means I am in a hospital,” kata JJ “Wait..wait..are you going to
go to the hospital?”
“yes.”
“now?”
“yes”
“How?”
“I am gonna take 5:45 bus.”
“Oh no. You can’t go to the hospital alone. I will go with you.”
“Are you sure?”
“Positive.”
“O thank.”
“But, wait. My car is not at home. Bro Achilov have it tonight. I am going
to call him. If he is awake, we will take you to the hospital. If he is not,
then we take 5:45 bus.”
“Are you sure he will be awake?”
“I hope so. Because we needs to do our morning prayer.”
“Oh I don’t want to interupt your prayer.”
“Hey don’t worry, we still have plenty of time.”
“Okey then. I am waiting.”
“Okey, I’ll call him. And I’ll call you back in five minutes.”.

Kutelpon bro Achilov. Ia baru bangun. Saya ceritakan kondisi JJ yang perlu
ke hospital pagi itu, ia tak keberatan datang. Kepada brother Achilov saya
juga minta untuk mampir di Dunkin’ Donut pesen tiga kopi dan donat. “For
her, decafe with cream no sugar,” pesan saya.

Kutelpon kembali JJ, saya bilang dalam sepuluh atau limat belas menit kami
akan sampai di apartemennya. Saya juga sampaikan kalau kami akan bawa decafe
coffee dan donut untuknya. “O thank Usman. You know me so well.” [maksudnya
tentang kopinya yang bebas kafein dan tak pakai gula itu.

Jam 4:45 kami sampai di ruang ER Estern Maine Medical Center. Setelah
pendaftaran dan pemeriksaan awal, kami disuruh nunggu di ruang tunggu ER.
Jam 5:25 saya bilang ke JJ kalau it’s okey for her ditinggal selama 10
minutes.
“It’s time for us to perform morning prayer,” kata saya.
“Go ahead. I think I am gonna be okey,” kata JJ terlihat ngantuk.

Kami pun segera wudhu, keluarin sajadah dari back pack, ukur arah kiblat
dengan kompas kecil yang menggantung di kunci mobil, sholat subuh.

Dikira suami JJ, saya dipanggil masuk ke ruang periksa ER. Di dalam ruangan
periksa, ternyata JJ menangis spt baby. Katanya, semua tubuhnya panas spt
terbakar, dokter memberikan suntikan, tiba-tiba tubuh JJ menggigil. Sesekali
saya harus nutup mata karena baju rumah sakit yang dipakaikan ke JJ
tersingkap saat ia guling kanan-guling kiri di dipan rumah sakit.

Ketika dokter memeriksa lagi -artinya banyak bagian tubuh JJ yg
tereskpos-saya nutup mata lagi. Ketika dokter melihat saya nutup mata, ia
mengira saya tertidur. “Sir, wake up. She need your support,” katanya. “I am
not sleeping doc. I just…” saya tak lanjutkan.
“He can’t see me like this doc. His religion does not allow him to.” [like
this yang JJ bilang itu adalah…half naked. Memang dokter harus memeriksa
seluruh tubuh JJ, dan benar…ia akan terlihat more than half naked].

sesaat setelah dokter meninggalkan ruangan, panas dan dingin di tubuh JJ
datang silih berganti. Kadang ia merasa spt dibakar, kadang menggigil
kedinginan. Sepanjang pagi itu, ia nangis terus. Saat menggigil kencang
sambil nangis mengerang-erang, saya tak sampai hati lagi. Saya genggam
telapak tangannya, sangat dingin. Saya genggam erat dengan harapan ada
aliran panas dari telapak saya. Saya tak tahu apa yang terjadi, tapi JJ
nampak lebih tenang ketika telapak tangannya saya genggam.

Saya tahu I am not supposed to do that. Dia bukan muhrim saya. Apalagi saat
itu saya masih berpuasa. Saya sendiri ragu-ragu sebelum melakukannya. Antara
ya dan tidak, ya dan tidak terus berperang. Tapi kemudian saya putuskan
untuk comfort her. Saya genggam telapak tangannya erat sekali, JJ tenang,
dan akhirnya tertidur. Saat memutuskan akan memegang tangan JJ itu, saya
berdoa kpd Allah: “Ya Allah, kalau apa yang akan saya lakukan ini membuat
puasaku batal, please forgive me. Saya akan sahur puasa yang batal itu
dilain waktu. Sekarang JJ butuh pertolongan saya.”

Pukul 10:15 kami pulang dari rumah sakit. Setelah mengantar JJ ke
apartementnya, saya harus ke kampus mengirim banyak email ke prof JJ
mengabarkan kondisinya saat itu dng melampirkan scaning medical record yang
diberikan dokter ER.

Pukul 11:05 saya email bro Achilov, agar mencari saya di lantai 3
perpustakaan. Saya take a nap sebelum ke masjid, Jum’atan. Saya harus take a
nap karena jam 2-6 harus cover JJ’s shift di tempat kerja [kalau tidak ia
bisa kena pecat], padahal saya sendiri tiap jum’at malam punya shift jam 6
sore sampai 3 pagi di coffee shop student union.

Ketika bro Achilov membangunkan saya pukul 12:03, saya punya cukup a nap.
Kami pun ke masjid sholat Jum’at.

***

JJ seorang Nasrani. Her sister adalah misionaris yang spent banyak waktu di
Bosnia. Ayah JJ punya doktrin bahwa seluruh ummat manusia di dunia ini harus
beragama Kristen. JJ tahu saya muslim. Saya berpuasa, sholat, tak minum
alkohol, tak makan pork.

Saya bisa mengantar JJ ke ER tanpa harus meninggalkan ajaran agama saya.
Saya tetap sholat subuh saat menunggui JJ. Saya tetap berpuasa hari itu,
meski harus puas dengan sahur secangkir kopi dan dua butir donat.

Apa yang saya lakukan di atas adalah contoh bagaimana seorang muslim bisa
besahabat baik dng non-muslim, tanpa harus mengorbankan akidah agamanya.
Persahabatan kami begitu baik dan akrab sampai JJ berani nelpon saya pada
jam di mana rata-rata american tidur nyenyak [4:10 pagi]

JJ sudah memutuskan akan mengundang saya ke rumah orang tuanya di liburan
natal ini. I’ll take about 2 hrs drive. Saya terima undangan itu, setelah JJ
sepakat apa yang bisa saya lakukan dan apa yang tidak bisa saya lakukan
terkait dengan acara natalan keluargannya. Karena JJ juga tahu saya tak
minum alkohol, ia minta orang tuanya menyediakan non-alkoholic champagne
untuk saya.

Lihatlah JJ, ia begitu menghargai keyakinan agama saya [Islam] yang tak
minum alkohol, tak makan pork, tak mengucapkan selamat natal, tak ikut
partisipasi dalam acara kebaktian natal. Ketika saya katakan, it’s religous
reason, that’s it. Tak ada tawar menawar.

Di Indonesia, mengapa banyak rekan non-muslim yang masih saja tak faham
bahwa muslim tak seharusnya dilibatkan dalam acara natalan mereka. Apakah
tak ikut dalam acara perayaan natal berarti tak bisa bersahabat?Kalau Anda
semua tak mau memahami keyakinan ummat Islam -terutama dlm soal natalan
ini-bagaimana mungkin kita akan bisa berhasabat?

Lihatlah apa yang saya lakukan ke JJ. Untuk menenangkannya, saya tempuh
resiko batal puasa hari itu. Batal puasa menurut Islam, masih bisa ditebus
di hari lain. Akibat batal puasa tidak seserius ikut perayaan natal [dosa
syirik].

Tirulah JJ, ia menghormati saya sebagai muslim. Saya pun bisa menimbang,hal
mana yang dapat saya korbankan untuk membantunya. Kalau nanti saya jadi
berada di tengah-tengah keluarganya [orang tuanya ingin berterima kasih atas
apa yang saya lakukan untuk JJ], saya tetap tak akan mengucapkan selamat
natal, tak akan ikut partisipasi dalam ceremony kebaktian natal,tak akan
minum champagne (yg dikeluarganya merupakan tradisi natalan), dan tak akan
makan pork.

Menurut pertimbangan akal sehat saya, fatwa MUI tentang natal sudah benar.
Fatwa itu dikeluarkan ketika Buya Hamka jadi ketua MUI, yg prihatin dengan
cara pemerintah Orba memanipulasi kata ‘toleransi beragama’.

Wassalam,
usman maine

—————————

dikutip dari milis al-ikhwan

Catatan:

Sepaham saya, bersentuhan dengan wanita tidaklah membatalkan puasa. Wallahu a’lam.

33 thoughts on “Seputar fatwa MUI ttg NATAL

  1. oyi says:

    Subhanallah, betapa cerita yang sangat menyentuh. Salut!

  2. khoiri_se says:

    aku ga komentar ah..agamaku masih dangkal, takut kalo salah komentar

  3. Herman says:

    Mungkin… ada sebagian umat muslim yang mengucapkan selamat Natal dan pada saat yang sama pikiran bawah sadarnya memberi pengakuan bahwa Jesus adalah sang Juru Selamat.

    Tetapi apakah semuanya seperti itu? Mungkin juga ada yang mengucapkan selamat natal karena sahabatnya merayakan hari raya yang sangat penting, sehingga dia merasa perlu turut memberi ucapan ‘selamat merayakan’; demi sebuah.gesture positif bagi sahabatnya. Tentu saja pikiran bawah sadarnya tetap meyakini kebesaran Allah yang maha bijaksana.

    MUI, saya tidak tahu, apakah memang tugasnya hanya membuat fatwa, atau lebih dari itu, misalnya mengempower umat islam di Indonesia. Fatwa-fatwa semacam itu membuat pemeluk Islam malas berpikir.

  4. passya says:

    umat muslim yg berkali2 mengucapkan syahadat saja gak ngerti apa yg diucapkan, apalagi sekadar ucapan ‘selamat hari natal’

  5. fertobhades says:

    logika yg kurang tepat :
    mengucapkan selamat natal = merusak iman…

    ucapan selamat natal bisa diletakkan pada pengakuan mereka sebagai manusia dengan segala macam hal yg termasuk di dalamnya termasuk kepercayaannya, dll. Dan itu menunjukkan kebesaran hati dan kelegaan untuk bertoleransi dengan mereka.

    salam damai…

  6. Sadisman says:

    yang penting neh catet kalau perlu :
    1. yang menentukan haram atau tidaknya bukan manusia tapi Tuhan.
    2. manusia tidak boleh memutar balikkan apa yang Tuhan telah nyatakan.
    3. Tuhan (ALLAH) tidak pernah menulis di dalam Al-Quran (kitab suci org muslim) bahwa mengucapkan Selamat Hari Natal itu Haram. Coba tunjukkan ke semua umat Muslim kalau memang mengucapkan Selamat Natal itu haram, diayat mana, dan siapa yang mengatakan.
    4. fatwa MUI itu hanya ingin memecah belah kehidupan umat beragama di dunia ini.

    Salam Damai dan Merry Christmas and Happy New Year !!

  7. mrtajib says:

    Dan….Tuhan pun hanya tersenyum mendengar perdebatan ini…. he he he

  8. Nena says:

    Cerita yg begitu mirip dengan ku,,ketika acara Natal di Rumah Meruaku aku pun datang,tp tidak makan pork,,karna mereka tau aku tidak makan itu..

  9. orido says:

    tambahan inpo saja..
    silahkan mampir
    http://orido.wordpress.com/2006/12/22/hotd-natal-dalam-islam/

    semoga berguna..

  10. danang says:

    #Herman
    Agama Islam memiliki dua sumber hukum, yaitu Al-Quran dan Hadits Nabi. Siapa pun yang mengaku muslim (telah bersaksi bahwa “tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”) terikat dengan hukum ini. Allah menghendaki setiap muslim untuk berserah diri secara total (kaffah). Tidak dibenarkan bila seorang muslim meninggalkan perintah atau mengerjakan larangan hanya karena bertentangan dengan hawa nafsunya.
    Tidak semua muslim mampu mencerna hukum2x Islam. Di sinilah peran ulama. Sudah merupakan tugas ulama dalam Islam untuk memberikan arahan kepada ummat Islam dalam kehidupan beragama. Fatwa adalah salah satu metodenya. Fatwa tidak membuat ummat malas berpikir. Justru dengan adanya fatwa, wawasan ummat semakin luas, mereka akan semakin tahu mana yang halal dan haram.
    Semakin seorang muslim paham agamanya, maka dia akan makin sensitif terhadap hal-hal yang dapat merusak keyakinannya, meskipun terlihat sepele. Mengucapkan selamat Natal misalnya.
    #passya
    Kalau belum mengerti, belajarlah.. jangan lakukan sesuatu yang tidak kita tahu ilmunya.
    #wdt
    Islam melarang ummatnya untuk terlibat dalam peribadatan ummat lain tidaklah bermotif kebencian, sebab di sisi lain Islam melarang keras muslim yang mangganggu peribadatan agama lain.
    Bangsa ini tidak akan rusak karena ummat Islam konsisten dengan agamanya, justru yang membuat bangsa ini rusak jika membiarkan kemunafikan melanda.
    #fertobhades
    Toleransi beragama dapat diwujudkan dengan sama2x menjaga keamanan dan tidak saling mengganggu tanpa harus melibatkan diri dalam kegiatan khusus keagamaan.
    #Sadisman
    1&2. Betul
    3. QS al-Kafiruun jelas melarang ummat untuk terlibat dalam perkara agama lain.
    4. Salah
    #orido
    Terima kasih atas infonya

  11. dee says:

    Bagi gue, ngucapin natal nggak sama dengan mengakui Jesus sebagai jurus selamat. Apalagi natal sendiri (di Oz) udah dianggap lebih sebagai cultural event, bukan religious event. Cuma 10% orang kristen yang ke gereja pas natalan.

    Oh, ya. Natalan tahun ini gue ngebantuin menghias pohon natal en ngasih kado natal (gue sih nganggepnya acara tukar kado aja…)ke temen-temen gue. Gue nggak ngerasa hal ini melabrak akidah gue or something like that. Call me shallow or whatever you like, tapi saat gue melakukan itu, gue merasa bisa menunjukkan kepada mereka kalau orang Islam itu bukan sosok yang tertutup, kaku, tapi toleran. ^_^

    Lagian, mo gimana lagi aja kalau semua orang ngomong merry chrismas ke loe…. masa’ diam kaya’ entung.

  12. danang says:

    #dee
    Salah satu ujian Allah atas keimanan seorang muslim adalah dihadapkannya ia pada situasi yang membuatnya merasa seperti “melawan arus”. Ia dihadapkan pada situasi dimana lingkungannya memiliki keyakinan yang berbeda dengannya. Keimanan sekaligus kecerdasannya diuji, bagaimana dia harus menyikapi kondisi tersebut tanpa harus menodai keyakinannya (catat: keyakinan yang benar, yang diperoleh dari proses ilmu dan amal).
    Sebagai muslim kita sepakat bahwa manusia yang sepatutnya kita jadikan teladan adalah Nabi Muhammad saw. Cobalah pelajari sejarah hidup beliau. Beliau sangat toleran dengan ummat lain dalam masalah duniawi. Beliau amat cakap menempatkan diri dalam kondisi minoritas. Bukankah pemberi gelar ‘Al-Amin’ (yang terpercaya) itu adalah masyarakat yang waktu itu masih kafir? Lalu apakah pernah beliau ‘bertoleransi’ dalam masalah agama?
    Ummat Nasrani telah ada sebelum diutusnya beliau (entah apakah dulu ada Natalan atau tidak), terlebih Yahudi, namun tidak sekalipun pernah tercatat oleh sejarah bahwa beliau mengucapkan selamat atas hari raya mereka. Begitu pula dengan Nabi-Nabi yang lain pada jaman yang berbeda namun dengan misi yang sama: yaitu menyampaikan seruan “Laa ilaaha illa Allah” (tidak ada yang patut disembah selain Allah).
    Masalah kekhawatiran akan dianggap tertutup dan kaku, saya yakin, kalau kita dalam pergaulan sehari-hari dapat menunjukkan sikap yang ramah dan tulus kepada mereka, mereka pun akan mengerti juga (kecuali memang mereka bernafsu untuk memaksa kita ikuti tradisinya). Bahkan mereka akan menghormati kita sebagai muslim yang punya prinsip. Setidaknya inilah yang saya alami dengan tetangga2x saya yang non-muslim.
    Marilah kita pelajari agama kita dengan hati dan pikiran yang jernih. Semoga Allah berikan petunjuk-Nya kepada kita.

  13. {tulalit!} says:

    wah jadi rumit gini ya. kalo gue sederhana aja, orang lain ngerayain apa aja asal nggak ngerugiin ligkungan ya dikasih selamat aja. mau imlek kek, mau natal kek, mau waisya kek, mau lebaran, sama aja.

    trus kalo orang bukan muslim ikut halal bilhalal di rt/rw ama kantor gimana dong? gak boleh juga. aduh seyem deh. tatut…..

  14. danang says:

    #tulalit
    Mereka mengikuti halal bihalal atau acara lain yg sifatnya umum itu tidak masalah bagi kita sbg muslim, tentu saja ini dikembalikan kpd keyakinan mereka atas agamanya. Bahkan acara tsb mungkin dapat dimanfaatkan untuk syi’ar kpd mereka. Catatan: sepaham saya, halal bihalal itu bukanlah suatu ibadah ritual dalam Islam.

    Ohya rekan2x, saya baru dapat link menarik ttg masalah ini, silahkan ke: http://www.eramuslim.com/usm/fqk/458b3745.htm

  15. danang says:

    #watchers
    Kaum jahiliyah dulu pun meyakini keberadaan Allah, tapi mereka tidak mau diatur oleh aturan Allah (baca: agama). Mereka jalankan aturan agama yang cocok menurut mereka dan meninggalkan yang tidak cocok menurut mereka. Mereka membuat2x sendiri cara ibadah kepada Allah dengan mengabaikan petunjuk dari para Nabi dan Rasul mereka. Mereka melakukan upaya penghinaan, boikot, pengusiran bahkan pembunuhan kepada para Nabi dan utusan Allah.
    Benar, tidak ada agama yang benar… kecuali Islam. Agama lain boleh jadi merupakan hasil evolusi pikiran dan budaya manusia, namun tidak demikian dengan Islam. Kitab sucinya terpelihara sejak diturunkan hingga kini. Islam tidak kaku namun tegas dalam menyikapi perkembangan jaman. Ada hal-hal tertentu yang dapat berubah sesuai perkembangan jaman, namun ada hal-hal prinsip yang akan terus berlaku kapan pun. Contoh:
    – Cara dan mode berpakaian dapat berubah seiring berjalannya waktu, namun tidak demikian dengan batasan aurat.
    – Model masakan boleh berubah, namun daging babi selamanya haram.

    Meskipun demikian, Islam tetap menghormati keberadaan agama lain. Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam [al-Baqoroh:256], namun jika sudah Islam maka seseorang harus tunduk pada aturan Islam.
    Saya sepakat bahwa kita mesti berakhlak baik (jujur, sabar, kasih sayang, dll) dalam hubungan horizontal sesama manusia, namun sebagai muslim tentu ada juga hubungan vertikal dengan Allah yang harus dibina. Tidak ada pertentangan antara keduanya, Allah Maha Sempurna dalam penciptaan dan pemeliharaan-Nya.

  16. Fadli says:

    What a wonderful explanation

  17. Ada yang bilang :”umat muslim yg berkali2 mengucapkan syahadat saja gak ngerti apa yg diucapkan, apalagi sekadar ucapan ’selamat hari natal’”
    ————————————————————————–
    Makna Syahadat yang benar…
    Makna Syahadat :
    Ashadu Al Laa Ilaha IllAllaah..
    (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan/sesembahan) yang hak disembah kecuali hanya Allah.
    kenapa kok maknanya bukan… “tiada tuhan selain Allah saja”?
    jawabannnya adalah: Dalam ilmu nahwu kalimat Laa Ilaha IllAllaah adalah Laa Nafiya Lijinsi, apa itu : yaitu huruf Laam yang berfungsi untuk menafikkan semua jenis yang ada. Laa nafiya Lijinsi itu hanya masuk pada jumlah ismiyah (Mubtada’ dan khobar) setelah dimasuki laa nafiya lijinsi maka mubtada’ dalam hal ini kata ilaha menjadi isimnya, lalu mana khobarnya? khobarnya adalah “Al-Haqaun” kenapa “Al-Haqqun”? bukan “maujuddun”? karena lafal Jalalah Allaah setelah Illa itu adalah badal dari khobar laa yang dimahdub wujuban (wajib dihiliangkan), yaitu Al-Haq, karena banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan Allah sebagai Al-Haq, maka makna Laa ilaha illAllaah adalah Tiada tuhan yang hak disembah kecuali Allah, di sini ada nafi (yaitu menafikkan semua sesembahan yang batil) dan isbat (menentapkan) Allah sebagai tuhan.
    Makna sahadat adalah :
    “Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq disembah kecuali Allah dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.
    Orang yang membaca syahadat dengan makna yang benar tadi disebut Muslim, semoga uraian saya ini membantu sebagian yang belum faham tentang hal ini.
    Wallahu “Alam!

  18. Kunjungi Situs Saya ya?
    http://www.rumahsalafy.blogspot.com
    Dapatkan MP3 Kajian, Software – software islami untuk komputer (menyusul) dan Handphone, juga e-Book tentang keislaman serta yang akan datang juga ada website offline Islam.Silahkan Kunjungi http://www.rumahsalafy.blogspot.com

  19. danang says:

    #Fadli
    Alhamdulillah..

    #Rif’an Muazin
    terima kasih atas masukannya. barokallahu fiika

  20. Siti says:

    Hari raya kemarin tampak hambar, kenapa banyak orang kristen tahu bahwa mengucap kan selamat idul fitri itu haram makanya saya dkk tidak mengirim sms selamat Idul Fitri. Ini kenyataan yg memprihatinkan, karena ada dalil haram dan halal yang tidak menyangkut makanan dan minuman saja. Semoga MUI diampuni dosanya (menyebabkan perpecahan). Amin

  21. Siti says:

    Yang penting adalah menjalankan ibadah masing-masing tanpa menghakimi agama/orang lain yang beda keyakinan. Toleransi/teposeliro itu adalah petuah orang tua tanpa melihat status sosial atau agama yang mengatur sendi kehidupan bernegara bangsa Indonesia supaya menjadi beradab bukan biadab.

  22. Probo says:

    Ada yang bilang :”umat muslim yg berkali2 mengucapkan syahadat saja gak ngerti apa yg diucapkan, apalagi sekadar ucapan ’selamat hari natal’”
    ——————————————————————
    Saya setuju atas pernyataan tersebut, ini fakta bahwa umat muslim itu ngerti artinya secara fisik saja dan ingin menonjolkan diri dengan menghakimi agama lain kafir dan harus dimusnahkan. Mereka tidak sadar bahwa manusia semua ciptaan Tuhan dan mempunyai hak yang sama untuk hidup, menjalankan agama dll, terus mereka mencari alasan untuk menghentikan perkembangan agama lain yang kelihatan berkembang pesat. Mereka tidak mengerti sejarah agama Islam sendiri perkembangan di Ind penuh dengan kekerasan contoh : kerajaaan Brawijaya anaknya membunuh bapaknya sendiri itu fakta tak terbantahkan bahkan ditutup-tutupi.
    sekian untuk direnungkan

  23. Cahyono says:

    Perayaan Natal udah mulai mari kita mengucapkan selamat merayakan Natal jadi tidak ada konotasi mengucapkan Selamat Natal mengakui Tuhan Yesus. Jadi marilah kita menjalin hub timbal balik yang tidak saling merugikan. Biar nggak salah presepsi lagi dan tidak ada yang haram lagi gitu ganti.

  24. Burhan Batubara says:

    Terimakasih.

  25. Sayuti says:

    Biar Tahun Baru ini membuka lembaran baru, tidak ada pertentangan antar agama. Mari kita bersatu membangun negeri ini biar lepas dari Krismon dan terbebas dari segala bencana yang merupakan karma dari perbuatan kita semua. Mari satukan hati kita berdoa memohon ampunan-Nya dan meminta Ridho agar bangsa Indonesia lepas dari musibah yang multi dimensi ini.

  26. Komeng says:

    Umat muslim jangan lah memandang agama Kristen selama ini sebagai pesaing, karena kalau mempunyai anggapan itu maka timbul iri, dengki dan punya sikap memfitnah.

  27. danang says:

    Wahh.. lama tidak ditengok, ternyata sdh banyak lagi komentar yg masuk. Namun maaf terpaksa sy hrs menghapus komentar-komentar yg sy anggap tidak layak tampil.

    “If only, rekan-rekan non-muslim tahu konsekuensi perayaan natal bersama bagi muslim, Anda sekalian tak akan pernah memaki MUI dan juga tak akan pernah berharap ada ucapan selamat natal dari muslim…” (baca lagi deh tulisan di atas)

  28. nomen_nescio says:

    sorry… di jepang dan di china… natal juga dirayain… tapi mereka tetep ga mau ngaku sebagai org Kristen…
    Liat lagi di Amerika… orang atheis pun ngerayain natal…
    Bedanya… mereka gak ke gereja… mereka cuma ngambil hura-huranya aja…
    Kenapa umat Muslim gak mau gitu… ambil aja hura-huranya…

  29. danang says:

    sama saja.. apapun bentuk aktifitasnya, selama ada embel2x ritual agama lain

  30. Ferdi says:

    Tulisan dan perdebatan yang aneh dan dangkal yang tidak seharusnya ditampilkan untuk umum yang bisa merusak kerukunan umat antar umat beragama. Masing masing agama di dunia punya keyakinan sendiri terhadap apa yang mereka percayai sebagai Tuhan ataupun juru selamatnya. Saya kira yang kita pahami tentang fatwa, tafsir dan lain sebagainya atas sebuah ajaran agama ataupun kitab suci hanya merupakan perkiraan yang tidak sama bagi semua orang walaupun dalam satu kepercayaan yang sama. Sepantasnyalah kalau kita saling menghargai atas pengertian yang dimiliki oleh sesama kita tanpa beranggapan bahwa apa yang kita tahu maupun apa yang kita mengerti adalah suatu kebenaran yang absolut. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang sesungguhnya dan hanya Dialah yang berhak menghakimi manusia. Terlalu sombong kalau kita menganggap apa yang kita pelajari dan kita yakini adalalah yang paling benar sehingga orang lain harus berpendapat yang sama. Tuhan bukanlah manusia sehingga bisa dipelajari, Dia adalah yang maha tinggi yang mengatur alam semesta. Hubungan manusia dengan Tuhannya adalah hubungan yang sangat pribadi bagi kita masing masing sesama umatNya.

  31. awal rusmin says:

    “Barang siapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongannya”.orang kurang ilmu berkata ini dan itu.belajarlah agama dgn benar mudah-mudahan dpt hidayah.buat mas Danang,sabar.

  32. awal rusmin says:

    mengucapkan selamat kpd hari raya mereka sama saja megucapkan atas sujudnya mereka kepada salib.Bacalah QS.Al-Baqarah:79 ; Ali’Imran:64,78,85 ; Al-Maidah:13,48-49 ; Al-A’raf:157 ; At-Taubah:29 ; Saba’:28.belajarlah dan ikutilah perkataan ulama ahlussunnah,karena ulam adalah pewaris para Nabi.Bicara berdasarkan ilmu bukan Otak.mari belajar supaya kita paham dengan agama islam.mumpung nafas belum sampai ditenggorokan.

  33. danang says:

    #Ferdi
    Justru saya kutip tulisan ini agar kita paham batasan toleransi dalam agama. Terlepas dari adanya perbedaan penafsiran para tokoh agama, saya harap kita bisa cerdas dalam menyikapinya dengan mengembalikan referensi utama agama kepada asalnya, yaitu kitab suci, Rasul utusan Tuhan dan catatan sejarah kehidupannya..
    Tidak malah menyembunyikan atau menutupi kebenaran dan fakta dalam masalah ini di balik jargon toleransi.

    #awal rusmin
    jazakallahu khairan katsira

Comments are closed.

%d bloggers like this: