MALAPRAKTIK, MALAPETAKA BERSTANDAR GANDA


Kasus dugaan malapraktik belakangan kian merebak. Apa, sih, sebetulnya yang disebut malapraktik?

Seandainya manusia mampu menolak nasib, tentu PS Hassan akan melakukannya demi istri tercinta, Agian Isna Nauli. Nasib wanita 33 tahun itu memang malang nian. Wajahnya yang cantik, kini jauh dari binar-binar kehidupan. Sosoknya yang dulu ceria, kini terkapar tanpa daya di tempat tidur. Garis nasib berubah tatkala Agian usai menjalani operasi Caesar, 20 Juli 2004. Tekanan darah yang tak stabil akhirnya membawanya koma akibat stroke hingga sekarang. Keluarga menuduh telah terjadi malapraktik, sementara pihak RS tegas-tegas menampik tudingan itu.

KLIK - Detail Sebetulnya, apa, sih, yang disebut malapraktik? Dari segi medis, masih sangat sulit menentukan batasan malapraktik, karena tidak adanya standar profesi dan standar kesehatan yang baku. Dari alasan tersebut, dr. Marius Widjajarta, SE, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), cenderung mengartikan malapraktik sebagai perbuatan tidak profesional dari tenaga kesehatan profesional.

Selain perlunya standar profesi kedokteran dan kesehatan yang jelas, pasien juga dituntut untuk semakin menyadari hak dan kewajibannya sebagai pasien. “Karena tenaga kesehatan dan rumah sakit termasuk dalam pelaku usaha, maka pasien bisa digolongkan sebagai konsumen,” lanjut Marius.

Seperti halnya konsumen, pasien adalah pemakai akhir produk, yang bisa berupa barang maupun jasa. Contoh berbentuk barang adalah obat-obatan, suplemen makanan, dan alat-alat kesehatan. Sedangkan jasa, misalnya jasa pelayanan kesehatan yang diberikan dokter, rumah sakit, atau jasa asuransi.

Posisi ini diperkuat dengan masuknya unsur kesehatan sebagai salah satu sektor yang akan diberlakukan dalam perdagangan bebas dalam World Trade Organization tahun (WTO) 2005. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyikapi pemberlakuan WTO ini dengan meminta terjaminnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat. “Masyarakat juga harus terlindungi dari pelayanan kesehatan yang teruji, serta mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau,” urai Marius.

TAK PANDANG BULU
Sebagai konsumen, pasien memang masih kerap tidak memperoleh haknya. Marius yang sudah 22 tahun berkecimpung di dunia penyadaran konsumen ini menggambarkan sosok pelayanan kesehatan sebagai pelayanan yang memiliki ciri khusus, yakni memanfaatkan ketidaktahuan pasien, serta pasien tidak memiliki daya tawar dan daya pilih.

Selain itu, menurutnya, ciri pelayanan kesehatan lain adalah membatasi diri terhadap kompetisi serta tidak memberikan kepastian terhadap si sakit. “Padahal, sehat termasuk hak asasi setiap orang, bukan?” lanjut Marius.

Sementara menurut Direktur LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus, S.H malapraktik tidak sebatas tindakan medik di atas meja operasi. “Tindakan administrasi pun sudah dikategorikan bagian dari tindakan medik, karena tak ada orang yang sekonyong-konyong masuk rumah sakit langsung diperiksa. Semua harus melalui administrasi,” urainya. Setelah dilakukan administrasi, pasien akan langsung didiagnosis. “Jadi, diagnosislah yang menentukan tindakan medik apa yang akan dilakukan,” lanjut pendiri LBH Kesehatan ini.

Setelah dilakukan tindakan medik, ada unsur lain yakni pemulihan yang namanya rehabilitasi. “Jadi, enggak mungkin hari ini operasi Caesar, besoknya langsung ada akibatnya. Bisa saja malapraktik terjadi dalam kurun waktu seminggu, sebulan atau setahun. Untuk disebut malapraktik harus ditinjau mulai dari pra, saat, dan pasca-tindakan operasi,” terang Sitorus.

SALING MENGUNTUNGKAN
Korban malapraktik tidak mengenal jenis kelamin, ras, agama, maupun status sosial. “Saya sendiri yang jelas-jelas seorang dokter yang masih aktif, mengalami, kok,” ungkap Marius yang istrinya, seorang dokter gigi, harus menanggung derita akibat ditangani secara tidak prosedural oleh dokter di Ciloto, Bogor (Jabar).

Marius melihat, hubungan dokter dengan pasien seharusnya adalah hubungan saling menguntungkan. Komunikasi dua arah sangat penting. Namun, karena belum ada standar profesi yang jelas, maka hubungan ini kerap kali tidak seimbang. “Yang ada baru standar profesi milik masing-masing organisasi profesi. Kalau tidak salah, sudah lima perhimpunan dokter yang membuat standar profesi,” ungkapnya.

Padahal, Marius menegaskan, standar profesi yang berlaku secara menyeluruh amat diperlukan untuk dijadikan rambu-rambu. Marius mengidentikkan dokter dengan pengemudi mobil. “Untuk bisa mengemudi di jalanan, seorang pengemudi, selain membutuhkan Surat Izin Mengemudi (SIM), juga perlu rambu lalu lintas. Karena peraturannya jelas, maka yang melanggar bisa dikenai hukuman.”

Dengan rambu yang jelas ini, maka ‘aturan mainnya’ pun akan makin mudah dan jelas. “Dengan rambu yang jelas ini, dokter tidak akan mudah terkena tuduhan malapraktik. Sebaliknya, pasien pun bisa menuntut untuk mendapatkan pelayanan yang sesuai standar,” katanya.

Tidak adanya standar profesi itulah, yang membuat masyarakat belum bisa secara pasti menentukan, mana tindakan yang jelas-jelas malapraktif, mana yang kelalaian, kecelakaan, atau kegagalan. “Akhirnya, yang dijadikan ‘keranjang sampah’ adalah kecelakaan. Begitu mudah dokter berkelit bahwa kejadian itu sebuah kecelakaan.”

http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=6463

2 thoughts on “MALAPRAKTIK, MALAPETAKA BERSTANDAR GANDA

  1. masmoki says:

    Ass, wr, wb,
    Pertama, saya ucapkan terimakasih menjadikan blog saya sebagai tautan, … dan membuat saya malu karena masih sangat minim informasi.
    Kedua, rasanya kita punya tujuan yang sama yakni berbagi informasi.
    Ketiga, saya harus akui di internal kami masih seperti yang tertulis di posting ini. Seorang dokter sudah disumpah untuk mendahulukan pelayanan, bukan membayangkan “duit” duluan. Yang terjadi memang mengecewakan kita. Lebih dari itu seorang pasien “bukanlah” obyek, mereka harusnya mendapatkan layanan optimal, informasi terbuka, support dan do’a untuk kesembuhannya. Menurut saya, hal itu tidak sulit. Demikian pula saudara kita yang miskin, mestinya mendapatkan layanan yang sama.
    Btw, saya senang dunia kedokteran makin sering dibicarakan dan kritik perbaikan mudah-mudahan didengar oleh para sejawat dokter.
    Bila berkenan silahkan juga kunjungi puskesmas palaran, tempat saya bertugas dahulu, mengembangkan perawatan.
    Salam kenal, semoga sukses
    Wass,
    cakmoki🙂

  2. danang says:

    Terima kasih kembali🙂

Comments are closed.

%d bloggers like this: