Tarbiyyah Sambil Berdakwah

APAKAH GENERASI PARA SHAHABAT MELAKUKAN TARBIYYAH & TASHFIYYAH DULU
SAMPAI MENCAPAI DERAJAT ULAMA, BARU KEMUDIAN BERDAKWAH & BERJIHAD, ATAU
MEREKA MELAKUKAN TARBIYYAH & TASHFIYYAH SAMBIL LANGSUNG BERDAKWAH DAN
BERJIHAD?
Oleh Ust Nabiel Al-Musawa

Ikhwah wa akhawat fiLLAAH rahimakumuLLAAH,

Salah satu klaim yg disampaikan oleh sebagian orang yg terlalu bersemangat dan
selalu ‘asbed’ (asal beda) dg kelompok2 dakwah yg lain, adalah bhw generasi
Salaf itu melakukan tarbiyyah & tashfiyyah dulu, barulah setelah mereka berilmu
maka barulah mereka boleh berjihad atau melakukan amal2 politik, jadi -menurut
mereka- kelompok yg sekarang sibuk tarbiyyah sambil berpolitik itu dicap sebagai
mukhalifus-sunnah (berbeda dg sunnah)..

Jika seandainya mereka menganggap pendapat ini sebagai min baabil ijtihaad
(termasuk dlm hal2 yg sifatnya ijtihadiyyah) serta mereka mau menghormati
pendapat lain yg berbeda karena hal tsb merupakan ijtihad pula maka mereka telah
benar & sesuai dg sunnah dan hal tsb tidaklah mengapa (laa ba’sa bihi)..

Namun amat disayangkan bhw pemahaman tsb diikuti dg vonis mereka kepada kelompok
yg berbeda pendapat dg mereka dg label sindiran halus seperti : ‘karena tidak
mengerti sunnah’ atau ‘tidak tegar di atas sunnah’ sampai vonis yg kasar seperti
: ‘juhala’ atau ‘khawarij’ atau ‘terkurung dlm quyud hizbiyyah’ dll..

Saya melihat bhw sebagian vonis mereka tsb (seperti vonis : Takfiri, Khariji,
Hizbiyy, dsb) malah telah menimpa pd diri mereka sendiri -waliLLAAHil hamdu wal
minah-, benarlah sabda RasuluLLAAH -Semoga Shalawat serta Salam senantiasa
tercurah pd diri beliau- : “Tidak boleh seorang melempar tuduhan pd orang lain
dg tuduhan Fasiq, atau dg tuduhan Kufur, karena tuduhan tsb akan kembali pd
dirinya jk yg dituduhnya tdk demikian[1].”

Dalam redaksi yg lainnya disebutkan : “Jika seseorang berkata pd saudaranya
(sesama muslim) : Hai kafir! Maka hal itu sama dengan membunuhnya, demikian pula
melaknat seorang mukmin juga sama dg membunuhnya[2]!” Dlm atsar yg diriwayatkan
oleh Ali -semoga ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi beliau- bhw :
“Kalian bertanya kepadaku ttg orang2 yg suka mencaci dg kata2 : Hai Kafir! Hai
Fasiq! Hai Himar (Keledai)! Yg demikian ini tidak dihukum hadd tetapi dihukum
(ta’zir) oleh penguasa agar tdk mengulangi kata2 tsb[3]!”

Demikianlah hukuman bagi mereka yg suka mencaci & menghina kelompok lain itu,
bahkan mereka memberikan gelar (laqab) yg buruk pd AL-IKHWAN AL-MUSLIMIN
(Persaudaraan Muslimin) menjadi AL-IKHWAN AL-MUFLISIN (Persaudaraan Org2 Yg
Bangkrut), sekali lagi Maha Adillah ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi,
sehingga kata2 itupun akhirnya berbalik pd diri mereka sendiri, sebagaimana dlm
hadits berikut ini sabda Nabi -Semoga Shalawat & Salam senantiasa tercurah pd
beliau- : “Tahukah kalian siapa AL-MUFLIS (org yg bangkrut) itu? … dst, sampai
dg sabda beliau : Sesungguhnya AL-MUFLIS dari ummatku adalah orang2 yg datang di
Hari Kiamat dg membawa PAHALA shalat, puasa dan zakat, tetapi ia juga pernah
MENCACI si fulan, MENUDUH si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si
fulan, memukul si fulan, maka diberikanlah pahalanya pd si fulan & si fulan,
sehingga apabila telah habis pahalanya sebelum habis dosanya maka diambillah
dosa orang2 lain tsb & dipikulkan pd dirinya lalu dilemparkan ia ke neraka[4].”
Segala puji bagi ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi, nampak jelaslah siapa yg
sebenarnya yg termasuk kelompok yg AL-MUFLISIN tersebut..

Lalu sekarang marilah kita lihat bersama, apakah benar bhw para sahabat -semoga
ALLAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi mereka semua- itu mempelajari
Al-Qur’an & As-Sunnah itu seluruhnya dulu baru bergerak (berharokah) ataukah
mereka sambil mempelajari kandungan Al-Qur’an & As-Sunnah (tarbiyyah &
tashfiyyah) itu sambil sekaligus berharokah & berjihad menegakkannya? Biarkanlah
mereka para sahabat yg mulia tsb yg menuturkannya sendiri, sebagaimana dlm
hadits2 shahih berikut ini :

HUJJAH PERTAMA : PARA SHAHABAT TIDAK PERNAH MENAMBAH ILMUNYA LEBIH DARI 10 AYAT
SEBELUM LANGSUNG MENGAMALKANNYA

1. Telah menceritakan pd kami Muhammad bin Ali bin Hasan bin Syaqiq
Al-Marwazi berkata : Saya mendengar ayahku berkata : Telah menceritakan pd kami
Al-Husein bin Waqid berkata : Telah menceritakan pd kami Al-A’masy dari Syaqiq
dari Ibnu Mas’ud -semoga ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi beliau-
berkata : “Adalah seorang dari kami jika telah mempelajari 10 ayat maka ia tidak
menambahnya sampai ia mengetahui maknanya & mengamalkannya[5].” Jadi walaupun
mereka bisa mempelajari ilmu lebih banyak & lebih luas lagi tapi mereka tidak
melakukannya, mereka tidak mau menambah ilmu tsb kecuali setelah dapat
mengamalkannya, sehingga sambil belajar juga mengaplikasikannya.

2. Telah menceritakan pd kami Ibnu Humaid berkata : Telah menceritakan pd
kami Jarir dari ‘Atha’ dari Abi AbdiRRAHMAN berkata : Telah menceritakan pd kami
orang2 yg membacakan pd kami berkata : Bhw mereka yg menerima bacaan dari Nabi
-Semoga Shalawat serta Salam senantiasa tercurah pd diri beliau- (menceritakan)
adalah mereka apabila mempelajari 10 ayat tidak pernah meninggalkannya (tdk
menambahnya) sebelum mengaplikasikan apa yg dikandungnya, maka kami mempelajari
ilmu Al-Qur’an dan amalnya sekaligus[6].

HUJJAH KEDUA : PERINTAH MENYAMPAIKAN ILMU WALAUPUN BARU MENGUASAI 1 AYAT

1. Hadits Nabi -Semoga Shalawat serta Salam senantiasa tercurah pd diri
beliau- dari AbduLLAH : “Sampaikanlah oleh kalian dari aku walaupun 1 ayat dan
ceritakanlah dari bani Isra’il dan itu tidak mengapa dan barangsiapa berdusta
atas namaku dg sengaja maka sediakanlah tempat duduknya di neraka[7].” Dan
hadits ini selain memerintahkan kita agar tidak ragu berdakwah walau modal
ilmunya baru sedikit, juga menjelaskan bhw yg wajib mempelajari ilmu syari’ah
secara mendalam itu tidak diwajibkan atas seluruh muslimin, melainkan cukup
sebagian saja yg memang ber-kafa’ah untuk hal tsb.

2. Berkata Abu Hatim -semoga ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi
beliau- saat mengkomentari hadits tsb : “Hadits tsb khithabnya adalah pd para
shahabat dan termasuk didlmnya mereka yg semisalnya sampai Hari Kiamat untuk
sebagian dari mereka agar menyampaikan dari Nabi -Semoga Shalawat serta Salam
senantiasa tercurah pd diri beliau- & hukumnya adalah fardhu-kifayah, jk
sebagian ummat sudah melakukannya maka lepas kewajiban tsb bagi yg lainnya[8].”

HUJJAH KETIGA : BERBAGAI PERISTIWA PENTING DLM AHKAMU-SYAR’IYYAH DITURUNKAN
TIDAK LEBIH DARI 10 AYAT SAJA

1. Salah satu riwayat ttg Sabab Nuzul QS Al-Ankabut[9], ketika turun
perintah berhijrah maka kaum muslimin menulis surat pd para kerabatnya di Mekkah
bhw tdk akan diterima keislaman kalian sampai kalian berhijrah, maka merekapun
keluar menuju Madinah maka mereka dikejar oleh kaum musyrikin lalu dikembalikan
ke Mekkah, maka ALLAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi menurunkan awal surah ini
sampai 10 ayat, maka kaum muslimin menyurati lagi kerabatnya ttg ayat yg turun
ttg mereka ini, maka berkatalah mereka : Jk demikian maka kami akan keluar
(hijrah), jk mereka mengejar kami maka akan kami melawan! Maka merekapun keluar
& dikejar oleh kaum musyrikin dan terjadi perlawanan, sehingga sebagian mereka
syahid terbunuh & sebagian lainnya berhasil lari ke Madinah, lalu ALLAH Yg Maha
Mulia lagi Maha Tinggi menurunkan lagi ayat : TSUMMA INNA RABBAKA LILLADZIINA
HAAJARUU MIN BA’DI MAA FUTINUU[10]..[11]”

2. Berkata Imam Ibnul Jauzy : “Telah ijma’ para mufassirin bhw ayat :
INNALLADZIINA JAA’UU BIL IFKI[12].. sampai 10 ayat turun berkenaan dg peristiwa
‘Haditsul-Ifki’ (berita bohong) terhadap Ummul Mu’minin Aisyah -semoga ALLAAH Yg
Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi beliau-. Dan hadits2nya selengkapnya telah
aku bahas panjang lebar dlm kitabku : Al-Hadaa’iq & Al-Mughnii fii Tafsiir, maka
aku tidak akan membahasnya panjang lebar lagi disini[13].”

3. Pemutusan hubungan dan pernyataan perang dengan kaum musyrikin Makkah
dilakukan dengan 10 ayat dari awal surah At-Taubah (Bara’ah), yg disampaikan
Nabi -Semoga Shalawat serta Salam senantiasa tercurah pd diri beliau- kepada
Abubakar -semoga ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi beliau- dan
dibacakan oleh Ali -semoga ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi
beliau-[14].

HUJJAH KEEMPAT : BAHKAN TAURAT, INJIL DAN ZABUR-PUN PERINTAH AWALNYA JUGA HANYA
10 AYAT SAJA

1. Dari Ka’ab al-Akhbar -semoga ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi
meridhoi beliau- : “Yg pertama kali diturunkan dari Taurat adalah 10 ayat, dan
itu adalah 10 ayat yg ada di akhir surah Al-An’am, yaitu : QUL TA’AALAW ATLU MAA
HARRAMA RABBUKUM.. sampai akhir ayat[15].”

2. Dari ‘UbaiduLLAAH bin AbdiLLAAH bin ‘Adiyy bin Al-Khiyar berkata : Ka’ab
-semoga ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi beliau- mendengar
seseorang membaca ayat : QUL TA’AALAW ATLU MAA HARRAMA RABBUKUM.. Maka
berkatalah Ka’ab -semoga ALLAAH Yg Maha Mulia lagi Maha Tinggi meridhoi beliau-
: Demi jiwa Ka’ab yg berada di tangan-NYA! Itu adalah awal ayat dlm Taurat![16]”

3. Berkata Imam Asy-Syaukani[17] : “Hukum ini juga telah dituliskan oleh
para Ahluz-Zabur dlm akhir kitab Zabur mereka & Ahlul-Injiil dlm awal kitab
Injiil mereka.”

HUJJAH KELIMA : HIKMAH AL-QUR’AN DITURUNKAN TIDAK SEKALIGUS MELAINKAN SEDIKIT
DEMI SEDIKIT YAITU AGAR KAUM BERIMAN MEMPELAJARI ILMU SEKALIGUS LANGSUNG
MENERAPKANNYA

Berkata Imam Adz-Dzahabi[18] : “Demikianlah para sahabat membutuhkan waktu yg
amat lama untuk menghafal 1 surah (karena sekaligus ingin melaksanakannya),
sehingga telah meriwayatkan Imam Malik dlm Al-Muwaththa’ bhw Ibnu Umar
membutuhkan waktu 6 tahun untuk menghafal surah Al-Baqarah, karena ALLAH Ta’alaa
telah berfirman : KITAABUN ANZALNAAHU ILAYKA MUBAARAKUN LIYADDABBARUU..”

Demikianlah ikhwah wa akhawat fiLLAAH rahimakumuLLAAH, sebagian kecil dari
dalil2 syar’iyyah yg telah saya paparkan di atas semoga dapat membuka mata kita,
menjauhkan kita dari sikap ta’ashub-hizbiyyah yg dilarang oleh syariat, serta
memberikan thuma’ninah dlm hati kita bhw ijtihaad yg telah kita jalani ini
didasarkan atas dalil2 shahih & jauh dari taqliid-amaa’ (taqlid-buta),
waliLLAAHil hamdu wal minah, tamaam bi idzniLLAAHi Ta’aalaa..

——————————————————————————–

[1] Lih. Al-Albani dlm Ash-Shahiihah (VI/390, hadits no. 2891), berkata Albani :
Hadits ini di-takhrij oleh Bukhari dlm shahih-nya (no. 6045), Abu Awwanah
(I/23), Ahmad (V/181), Al-Bazzar (IV/431).

[2] Al-Albani men-shahih-kannya dlm Shahiih Jami’ Shaghiir (II/212 hadits no.
710, 712).

[3] Al-Albani meng-hasan-kannya dlm Al-Irwa’ (VIII/54)

[4] Al-Albani men-shahih-kannya dlm Ash-Shahiihah (II/527, hadits no. 847).

[5] Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dlm tahqiq-nya
atas tafsir At-Thabari (I/80).

[6] Berkata Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (lih. Tafsir At-Thabari, I/80) : Hadits
ini shahih-muttashil.

[7] HR Bukhari, XI/277 no.3461; Tirmidzi IX/277; Ahmad no. 6198, 6594 & 6711;
AbduRRAZZAQ, VI/109; Thabrani (dlm Al-Kabiir, XX/141 & Ash-Shaghiir, II/34);
Ad-Darimi, II/95.

[8] Shahih Ibnu Hibban, XXVI/50, no. 6362

[9] Zaadul Masiir, Imam Ibnul Jauzy, V/66

[10] QS An-Nahl, XVI/110

[11] Ini adalah pendapat Asy-Sya’biy dan Al-Hasan (Zaadul Masiir, V/66)

[12] QS An-Nuur, XXIV/11

[13] Zaadul Masiir, IV/435

[14] HR Ahmad (Al-Musnad, III/283), Ibnu Ahmad (Zawaa’id Al-Musnad, I/151),
Tirmidzi (As-Sunan, no.3090)

[15] HR Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Dhurays & Ibnul Mundzir (Fathul Qadiir, Imam
Asy-Syaukani, II/500)

[16] HR Abu Syaikh (Fathul Qadiir, II/500)

[17] Fathul Qadiir, II/500

[18] At-Tafsiir wal Mufassiruun, II/7

%d bloggers like this: