Rumah Ramah Belajar

Banyak orangtua sibuk mempersiapkan bahan belajar untuk mendampingi anak belajar di rumah tetapi melupakan kondisi fisik rumah yang nyaman dan cocok untuk menunjang kegiatan belajar di rumah.

Ada tiga kebutuhan yang perlu dipenuhi dalam pelaksanaan homescholling, yaitu kebutuhan psikis, akal dan fisik anak. Termasuk dalam kebutuhan psikis anak antara lain adalah kebutuhan rasa aman, penghargaan, dan percaya diri. Kebutuhan psikis orangtua juga harus terpenuhi, terutama dalam hal kedisiplinan, konsistensi dan kekompakan dengan pasangan.

Kebutuhan akal anak terkait dengan cara belajar dan materi belajar. Sementara kebutuhan fisik adalah kebutuhan yang dibutuhkan fisik anak untuk proses belajar yang optimal, termasuk makan dan minuman yang bergizi serta sarana penunjang belajar yang ergonomis, cocok untuk ukuran dan bentuk tubuh anak sehingga membuatnya nyaman belajar.

Sarana penunjang belajar
Emmy Soekresno, SPd, Konsultan Taman Bermain Jerapah Kecil, mengatakan bahwa anak-anak membutuhkan furniture khusus yang mendukung pembelajaran yang optimal. Meja yang baik bagi anak-anak adalah yang berbentuk lingkaran atau berbentuk U. Bentuk meja seperti ini, selain aman buat anak-anak karena tidak ada sisi-sisi tajamnya, juga menambah kehangatan suasana. Menurut Emmy, meja belajar berbentuk persegi panjang yang menghadap satu arah sangat tidak efektif karena mengurangi kehangatan anak dan orangtua.

Dengan meja bulat, orangtua dapat duduk bersebelahan dengan anak-anak. Perhatian tetap dapat terbagi dengan baik, meski jumlah anak lebih dari satu. Dengan suasana yang hangat, kemesraan akan lebih terjalin, belajar akan terasa menyenangkan.

Duduk lesehan juga dapat dipakai sebagai alternatif. Namun, tetap disarankan menggunakan bantal dan meja kecil yang ukurannya sesuai dengan usia anak dengan sisi-sisi yang tumpul. Bila anak belajar tanpa meja, dikhawatirkan akan mempengaruhi bentuk tulang punggung anak kelak akibat posisi yang membungkuk. Anak juga harus selalu diingatkan untuk belajar dengan posisi yang baik, tidak duduk bersender, terlalu maju, atau terlalu bongkok. Biasakanlah untuk duduk tegak, namun tidak tegang.

Suhu ruangan dan pencahayaan pun penting dalam menunjang suasana belajar yang menyenangkan. Suhu yang baik adalah yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Sementara, lampu yang baik adalah yang berwarna putih yang datang dari sisi kanan atau kirinya, sehingga pada saat belajar tidak terhalang oleh bayangannya sendiri.

Mainan juga harus disediakan sesuai dengan tahap usia perkembangan anak. Tahap bayi (0-2 tahun), anak-anak awal (2-9 tahun), remaja awal (9 – 12 tahun). Pada tahap bayi, target pembelajarannya itu adalah motorik halus dan kasar. Mainan yang tepat untuk bayi harus memenuhi persyaratan aman bagi bayi, yaitu ukurannya tidak lebih kecil dari 4 cm, pewarnaannya tidak mengandung racun, dan tidak memiliki sisi tajam yang membahayakan. “Karena memerlukan desain khusus dan bahan yang lebih berkualitas, biasanya harga mainan bayi yang memenuhi syarat relatif lebih mahal,” tutur wanita lulusan IKIP Jakarta ini.

Sediakan fasilitas ‘ramah anak’
Seorang ahli pendidikan, Maria Montessori, menekankan pentingnya perkembangan anak pada usia enam tahun pertama, sekaligus menekankan tentang pentingnya mempersiapkan rumah yang ‘ramah anak’. Menurutnya, orang dewasa sering lupa bagaimana sulitnya anak beradaptasi dengan benda-benda rumah yang tidak sesuai dengan ukuran anak.

Montessori menganjurkan agar proses belajar lancar dan anak mampu membantu dirinya sendiri, maka orangtua perlu ‘mengisi’ ruangan rumah, minimal yang terkait dengan anak menjadi sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk memenuhi kebutuhan ini, bukan berarti semua perlengkapan rumah perlu diganti. Namun, bisa disiasati dengan menambah peralatan batu. Misalnya, untuk menggantung pakaian di lemari orangtua perlu menambahkan tangga undakan kayu di depan lemari agar anak mudah menjangkau gantungan baju.

Prinsip Montessori adalah ‘Satu tempat untuk semua dan semuanya berada di tempatnya masing-masing’. Dengan prinsip itu, orangtua perlu menyediakan tempat untuk peralatan anak dan mensosialisasikannya pada anak. Dengan begitu, sehabis bermain dan belajar anak mudah mengembalikan mainannya dan peralatannya ke tempat yang sudah disediakan. Misalnya, ada rak khusus untuk meletakkan balok kayu, rak buku, atau rak alat tulis. Tuliskan nama tempat masing-masing di depan rak tersebut, misalnya “BALOK KAYU”, “BUKU” dan seterusnya. Tulisan itu juga akan membantu anak belajar membaca.

Sembilan cerdas
Media pembelajaran yang perlu disediakan orangtua sebaiknya dibagi berdasarkan tema, misalnya tema transportasi, tumbuhan, pantai, dan sebagainya. Gambar-gambar yang terkait dengan tema dapat ditempel di beberapa tempat dalam rumah selama 3-4 minggu. Dengan cara itu, menurut Emmy, maka orangtua berupaya agar bukan hanya mulut yang berbicara, namun semua dinding, tembok, buku juga berbicara tentang tema terkait.

Selanjutnya, tema tersebut dibagi dalam 9 cerdas, yaitu angka, kata, gambar, tubuh/kinestetis, musik, sosial, diri, alam, dan moral. Emmy menyontohkan, bila orangtua akan mengajarkan tema transportasi di cerdas angka, maka targetnya adalah berhubungan dengan logika. Pertanyaan yang dapat diajukan misalnya, “Pesawat itu terbang atau menggelinding ya?”
Untuk cerdas kata, orangtua dapat menjelaskan perbedaan istilah yang terkait dengan kendaraan. Misalnya mobil mogok berarti mesinnya berhenti karena rusak, tapi mobil berhenti berarti mobil itu tidak jalan karena dihentikan pengendaranya.

Cerdas gambar atau visual, adalah sebuah kecerdasan dimana anak itu bisa mewujudkan apa yang dia pikirkan dengan bentuk gambar, bentuk balok, dan lain-lain. Ajaklah anak menggambar, atau membuat bentuk tentang alat transportasi.

Cerdas kinestetik adalah bagaimana orangtua dapat membimbing anak agar mudah untuk menggerakkan tubuhnya untuk keperluan-keperluan tertentu. Untuk mengejar hal ini orangtua perlu melatih fisik anak, misalnya “Yuk, kita bergerak seperti helikopter.” Atau, kita ajak anak untuk membuat lagu tentang helikopter, sambil bernyanyi tangan ikut bergerak. Ajak pula anak untuk ‘Tepuk mobil’. Dengan begitu, orangtua sekaligus mengajarkan cerdas fisik dan cerdas musik/nada. Cerdas musik adalah kemampuan anak untuk menangkap nada, sehingga suaranya engga tidak fals dan mampu membuat lagu sendiri.

Cerdas sosial adalah kemampuan seseorang untuk merasakan perasaan orang lain. Untuk itu, orangtua juga perlu membawa anak bersosialisasi ke luar rumah untuk mengasah kecerdasan sosialnya. Bila anak di rumah saja anak kurang mahir bersosialisai.

Cerdas diri adalah kemampuan anak untuk berefleksi diri. Cerdas diri itu kegiatan kuncinya adalah mengungkapkan ‘bisa’ pada setiap kegiatan. Misalnya, bila anak mengatakan “Biar aku aja Ma yang merobek.” Maka, orangtua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk merobek kertas. Langkah ini adalah langkah awal dari penanaman kemandirian.

Cerdas alam/natural adalah mengajarkan anak mengenali alam dengan baik. Misalnya, alat transportasi menghasilkan asap yang berbahaya bagi manusia. Asap itu dapat dibuang oleh tanaman hijau. Jadi, tanaman hijau itu perlu dijaga dan dirawat dengan baik.

Terakhir adalah cerdas spiritual, yaitu landasan dari seluruh kecerdasan. Karena anak yang soleh (cerdas spiritual), maka dia pasti cerdas. Sementara anak yang cerdas belum tentu soleh. Dalam hal kesolehan ini yang perlu dilakukan orangtua adalah bagaimana agar anak memiliki akhlakul karimah seperti Rasulullah saw, yang memiliki sifat siddiq, amanah, dan fatonah.

Konsentrasi terbatas dan jadwal teratur
Setiap manusia memiliki keterbatasan waktu berkonsentrasi. Cara mengukurnya mudah, yaitu 1 menit kalikan usianya. Untuk anak usia 2 tahun, maka batas waktu konsentrasinya adalah 2 menit. Orangtua bisa mengatakan dalam waktu dua menit, “ Ini buah tomat dek, warnanya merah, jumlahnya ada tiga buah,…” Tak lama setelah mendengar hal itu, mungkin anak akan kembali berlari atau mengalihkan perhatiannya pada hal yang lain. Jangan khawatir, bukan berarti anak tidak menangkap apa yang dikatakan orangtuanya. Setelah dua menit, cobalah menyanyi dulu, kemudian arahkan lagi konsentrasi anak dengan mengalihkannya pada media belajar yang sudah Anda siapkan. Anak berusia 10 tahun, rentang konsentrasinya adalah 10 menit. Namun, dengan media yang menarik, rentang konsentrasi anak dapat bertambah.

Anak juga membutuhkan keteraturan, termasuk dalam hal jadwal hariannya. Dalam menerapkan homescholling, orangtua perlu membantu anak untuk mampu mengerti jadwal hariannya, kapan saat nya tidur, bermain, dan belajar. Kadang-kadang ibu perlu tegas menegur anak untuk berhenti bermain saat tiba waktunya untuk istirahat.

Dalam hal pengaturan jadwal ini orangtua perlu melihat kebiasaan Rasulullah saw. Ternyata, apa yang dianjurkan Rasulullah saw berhubungan dengan optimalnya fungsi otak, yang terkait dengan waktu terbaik untuk belajar. Berdasarkan penelitian fungsi otak, ternyata waktu menjelang zuhur, sekitar jam 11-12, otak mengalami penurunan fungsi. Pada saat menjelang zuhur, biasanya Rasulullah saw, beristirahat sebentar. Sehingga, jangan mengajak anak untuk belajar pada waktu itu. Tapi, ajaklah untuk tidur.

Otak berfungsi secara baik pada jam 7 sampai jam 10 pagi, puncaknya pada jam 9-10. Jadi, waktu belajar harusnya ditetapkan pada rentang waktu itu. Jangan biarkan anak-anak bangun di atas jam 9. Namun, biasakan anak bangun tidur di waktu subuh untuk membangun kebiasaan baik. Seperti yang Rasulullah saw lakukan, yaitu tidur setelah Isya dan bangun sebelum subuh.

Sore hari menjelang ashar, kerja listrik otak juga sedang bagus. Sehingga waktu antara ashar dan maghrib dapat dimanfaatkan untuk belajar. Sebaliknya, jangan biarkan anak tidur pada masa itu. Rasulullah saw pun melarang umatnya untuk melakukan hal itu.

Bila perlu, buatlah media yang ditempel di kamar tidur anak. Cari gambar yang sesuai yang digambarkan jam di atasnya. Misalnya, gambar kamar mandi di atasnya tergambar jam 6; gambar makanan di atasnya jam 7 jam 12 dan jam 5 sore; gambar tempat tidur di atasnya tergambar jam 11.30 dan jam 20; gambar buku di atasnya jam 9 dan jam 16. Pada awalnya, orangtua perlu berulang-ulang mengingatkan anak perihal jadwal tersebut. Namun, lama kelamaan anak akan terbiasa dengan jadwalnya.

Terakhir, Emmy berpesan bahwa meskipun menerapkan homescholling, proses belajar bukan berarti hanya berlaku di rumah. “DisSeluruh tempat di alam ini anak-anak juga bisa belajar lho, …”
(Sarah Handayani / Bahan : Rosita)

[http://guteartikel.blogsome.com/]

One thought on “Rumah Ramah Belajar

  1. nez says:

    aduh….suhu yg optimal buat blajarnya brp???????????????????
    pusing ah

Comments are closed.

%d bloggers like this: