Anak Sportif Tidak Takut Dikritik

Ada yang mengibaratkan kehidupan ini sama dengan arena olahraga. Di dalamnya sarat dengan kompetisi teratur dan ketat, serta aturan main yang jelas. Ada yang menang, ada yang kalah. Untuk itu, diperlukan sikap sportif dan kemampuan berkompetisi secara fair. Sikap ini rasanya perlu pula ditanamkan pada anak sejak dini sebagai bekal dalam kompetisi hidup di masa depan.

Seorang anak berusia delapan tahun, sebut saja Badu, menangis terisak-isak di sebuah mal di Jakarta. Ia baru saja mendengar pengumuman hasil lomba lukis yang diikutinya. Badu dinyatakan sebagai juara ketiga. Padahal, dalam lomba sejenis selama dua tahun terakhir, gelar juara pertama tidak pernah lepas dari tangannya. Badu terlihat kecewa. Ia merasa, secara teknis tidak berbuat kesalahan dalam lomba itu. Kualitas lukisannya juga sama bagusnya dengan lukisannya pada lomba-lomba sebelumnya. Tapi mengapa juri memilih dua saingan bebuyutannya – yang selalu dikalahkannya – menjadi pemenang kali ini? Ia cuma mendapat sebuah piala dan hadiah uang yang lebih kecil dari kedua pemenang lainnya. Merasa anaknya dicurangi, ibunda Badu bermaksud mengajukan protes kepada juri. Untunglah sebelum protes itu meluncur, ayah Badu mencegahnya. “Jangan, Bu. Keputusan sudah dikeluarkan dan tidak bisa diganggu gugat. Kita nanti malah malu,” kata ayah Badu sambil menarik lengan istrinya. “Tapi juri sudah berbuat kesalahan!” balas ibu Badu sengit. “Belum tentu, Bu. Siapa tahu kemampuan lawan Badu sudah meningkat pesat dan anak kita yang kurang berlatih keras,” kata ayah Badu mengingatkan. Untunglah ibunda Badu mampu meredam emosi. Keduanya akhirnya malah berdiskusi dan sepakat memberi pengertian tentang perlunya bersikap sportif kepada putranya.

Tidak lebih hebat

Badu adalah satu contoh kenyataan dalam hidup, ketika seseorang pasti akan menghadapi persaingan dengan orang lain di tengah masyarakat. Berapa pun usia anak saat memulainya, ia akan mulai menghadapinya di lingkungan terdekat seperti di sekitar rumah atau sekolah. Di sana banyak hal baru yang belum pernah didapati sebelumnya. Bahkan mungkin tidak disukainya.

Untuk mempersiapkan anak menghadapi lingkungan sosialnya, Dr. Seto Mulyadi, psikolog yang bergelut di pendidikan anak, memandang perlu merancang kecerdasan sosial anak sedini mungkin. Kecerdasan sosial akan menjadi bekal buat anak. Satu hal yang harus diprioritaskan adalah, jangan membeda-bedakan diri sendiri dengan orang lain. “Kita tidak lebih hebat dari teman kita hanya karena kita kaya, kulit kita lebih bersih, dan sebagainya. Ini yang harus ditanamkan sebelum mereka melangkah ke masyarakat,” jelas Seto. Berawal dari semangat kesejajaran itu, terciptalah aturan-aturan yang berlaku di masyarakat dan disepakati semua orang. Anak harus diperkenalkan dan dilatih mengikutinya. Misalnya saat seseorang diberi sesuatu, maka harus ada ucapan terima kasih. Jika berbuat kesalahan, wajib meminta maaf, dan sebagainya. Di dalamnya termasuk juga budaya antre, siapa yang terlebih dahulu datang maka dia bisa berdiri di depan.

Apa yang dipaparkan Seto kedengarannya sepele. Tapi akan sulit dilakukan jika tidak dimulai dari dalam keluarga. Untuk itu, iklimnya harus mendukung. Seluruh anggota keluarga harus men-cerminkan kesejajaran itu dan harus saling menghormati. Misalnya, dari orangtua tidak ada kata-kata otoriter seperti, “Pokoknya, kalau kata Ibu harus makan, ya harus makan. Titik!” Atau, “Ayah maunya begini!” Jika ada perkataan-perkataan semacam itu, anak akan belajar bahwa kekuasaan adalah segalanya.

Anak-anak – seperti umumnya manusia – juga sering melakukan kesalahan. Namun saat ini terjadi, orangtua dapat menanamkan pendidikan tentang tanggung jawab. Jika misalnya suatu hari si Upik mengompol, maka ia harus dilibatkan untuk membersihkannya. Ketika itu secara perlahan orangtua dapat memberi pengertian mengapa anak diharapkan menghentikan kebiasaannya mengompol. Anak akan berlajar bahwa jika berbuat seperti itu, ia juga harus menanggung risikonya.

Saat memasuki lingkungan sekolah, anak akan berinteraksi dengan lebih banyak orang dan sekaligus memasuki pendidikan sosial tahap kedua. Di dalamnya akan lebih banyak persaingan, baik dari pelajaran maupun kegiatan-kegiatan semacam lomba. Selain minat dan bakat mereka akan terasah, mengikuti kegiatan-kegiatan kompetisi semacam ini juga dapat mengajarkan kepada anak tentang arti kemenangan.

“Dengan mengikuti perlombaan, kita dapat menanamkan bahwa dalam setiap kompetisi selalu ada yang menang, ada yang tidak. Jika anak tampil sebagai pemenang, dia tidak boleh sombong. Jika dia kalah, tidak boleh berkecil hati dan harus berusaha untuk mengejar ketertinggalannya. Siapa yang ingin menang, dia harus bekerja keras,” jelas pengajar di Universitas Tarumanegara, Jakarta ini.

Mengikutsertakan anak dalam aneka pertandingan atau perlombaan juga merupakan sarana yang baik untuk menanamkan sportivitas. Kepada anak perlu ditanamkan bahwa kompetisi adalah hal yang wajar. Namun, kemenangan bukanlah segala-galanya. Setiap anak harus bertanding secara sehat. Tidak dibenarkan saling menjegal, berbuat curang, atau mencemooh pihak yang kalah.

Pada pertandingan dengan peraturan yang jelas, anak akan belajar bahwa dalam kehidupan juga ada aturan-aturan yang harus ditaati. Misalnya, saat bertanding sepakbola atau bulu tangkis, anak akan memahami fungsi peraturan itu untuk mengatur hubungan dirinya dengan orang lain. Di situlah anak akan belajar mengakui keberadaan lawannya karena aturannya jelas.

Genting berwarna lain

Beraneka kondisi negatif yang belakangan terjadi di negeri kita, menurut Seto, menjadi satu bukti tidak dipersiapkannya kecerdasan sosial sejak dini. Adanya peledakan bom, teror, atau perseteruan antarelite politisi, menjadi bukti ketidaksiapan kita menerima demokrasi. Selain itu ada sebagian orang lagi yang ingin cepat mencapai tujuan tanpa menghargai prosesnya, sehingga akhirnya terjadi jual-beli gelar untuk mencapai jabatan tertentu dan semacamnya.

Penyebab segala ketidakberesan itu antara lain terletak pada sistem pendidikan nasional di negeri ini yang tidak menghargai proses. Masih banyak terjadi, satu-satunya jawaban yang benar hanyalah berasal dari guru. Misalnya, ada pertanyaan, “Apa warna genting rumah?” Jika murid menjawab cokelat, akan dibenarkan. Tapi bila jawabannya biru atau hijau, bisa disalahkan karena tidak sesuai jawaban guru. “Padahal, mungkin murid itu pernah melihat genting berwarna lain di perumahan tertentu,” kata pencipta tokoh Si Komo ini. Sistem pendidikan seperti itu membuat anak tidak mencintai proses belajar dan hanya mengejar nilai semata. Hasil akhir menjadi tujuan utama. Kelak, ketika anak tumbuh dewasa, bukan tidak mungkin dia akan mementingkan diri sendiri (atau kelompoknya) saja untuk menang.

Seto menyoroti Kurikulum Berbasis Kompetensi yang disodorkan Departemen Pendidikan Nasional saat ini. Menurut dia, kata “kompetensi” belum ditangkap secara jernih, yaitu kemampuan yang berbeda pada setiap anak. Merujuk kepada teori multiple intellegences (kecerdasan majemuk) yang dikemukakan Howard Gardner (1983), pendidikan untuk anak seharusnya kaya akan pilihan. Psikolog dari Universitas Harvard ini mengemukakan, sedikitnya ada tujuh tipe kecerdasan dari seorang anak. Kecerdasan musik, kinestetik-tubuh, logika-matematika, bahasa, spasial, interpersonal, dan intrapersonal. Semua itu bisa dikembangkan! Ironisnya, meski potensinya berbeda-beda, setiap anak harus tetap melahap pelajaran yang mungkin tidak berguna bagi dirinya kelak. Seorang anak yang berbakat musik dan ingin menjadi musisi tidak perlu mempelajari matematika atau fisika secara mendalam. Begitu pula sebaliknya.

Seto mengibaratkan pendidikan dengan meniru kurikulum di hutan di mana ada anak kucing hutan, anak bebek, dan anak burung. “Kalau bebek ya belajar berenang. Kalau kucing hutan me-manjat, dan burung belajar terbang,” tandasnya. Di rumah, anak harus bisa berekspresi sebebas-bebasnya. Biarkan anak bebas bergerak. Konsekuensinya, rumah harus bebas dari benda pecah-belah. Biarkan ia bebas bermain dan bergerak. Hak anak untuk tumbuh optimal jangan dirampas.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini pun prihatin melihat kondisi saat ini, anak harus menempuh kurikulum pendidikan yang berat. Membawa tas penuh buku dan di rumah masih mengerjakan banyak PR. Apalagi jika ditambah orangtua yang otoriter. Hasilnya, anak akan menjadi stres, agresif, dan cepat marah. Anak-anak yang diperlakukan seperti itu akhirnya akan berlaku agresif pula terhadap teman-temannya di sekolah. Mereka akhirnya akan diberi cap “anak nakal”. “Sementara anak-anak itu sendiri tidak mengerti. Mereka sudah masuk ke dalam sistem itu dan menjadi ’robot-robot’. Mereka jadinya hanya tahu bahwa untuk memenangkan persaingan harus dengan kekuasaan, kekerasan, dan kekuatan,” papar pendidik kelahiran Klaten 28 Agustus 1951 ini.

Sidang MPR

Cara penyampaian pendidikan kepada anak itu seperti melatih memakai bahasa ibu. Di belahan dunia mana pun, bahasa ibu adalah yang pertama kali dikuasai anak. Caranya yaitu mendidik dengan perlahan, berulang, serta efektif. Tidak ada lain, orang yang paling tepat melakukannya adalah orangtua atau siapa pun yang efektif berada di rumah. Pendidikan sejati memang dilakukan sepenuhnya di rumah, sekolah hanyalah pelengkap. Di rumah, penanaman nilai-nilai moral, agama, dan budi pekerti menjadi lebih efektif. “Caranya pun harus efektif dan bukan efisien,” jelas Seto. Penyampaiannya penuh dengan kasih sayang dan bukan kekerasan.

Penyampaian semacam itu dapat berhasil bila dilakukan dengan komunikasi yang baik. Orangtua harus mampu membangun komunikasi dengan cara selalu melakukan dialog dengan anak-anak. Caranya, bisa dengan selalu mengajak anak-anak berdiskusi mengenai segala hal. Untuk membiasakannya, sedari kecil bisa dilakukan dengan mendongeng. Seto menyarankan, kalau perlu diadakan Sidang “MPR” (majelis permusyawaratan rumah), sekali dalam beberapa waktu. Di sana dibicarakan secara terbuka tentang persoalan seluruh keluarga. Seluruh anggota keluarga – termasuk orangtua – harus bersedia dikritik jika memang berbuat salah. “Jika anak melihat orangtuanya bisa dikritik, dia akan belajar sportif. Sportif itu ’kan (artinya) setiap orang ’sejajar’, bisa hebat bisa juga keliru. Kelak si anak akan menjadi orang yang juga biasa menerima kritik,” kata Seto. (Intisari)

[http://www.kompas.com/kesehatan/news/0502/22/133758.htm]

%d bloggers like this: