Untaian Pelajaran dari Pernikahan

Kisah & HikmahOleh: Azimah Rahayu
AlDakwah.org–Beberapa bulan ini saya mempanitiai tiga pernikahan sahabat saya sekaligus. Yang pertama segala sesuatunya baik-baik saja. Pernikahan di betawi, dengan seluruh anggota keluarga cukup terbina saja. Cukup mudah berkompromi dengan keluarga untuk mengadakan walimah dengan menjalankan sunnah islami.

Pertama, budaya betawi tak banyak mengandung kesyirikan. Adabnya pun aslinya cukup islami. Tinggal beberapa hal yang disesuaikan, tapi bisa dikompromikan. Ditambah lagi, kondisi keluarga yang memang religius dan paham agama. Maka jalan tol pun terbentang.Pernikahan kedua di pelosok kota Jogyakarta, yang masih kental budaya Jawa. Tarik ulur terjadi antara calon pengantin dengan keluarga besar. Begitulah adat
yang berlaku di sana. Pernikahan adalah urusan keluarga besar, bukan hanya orang tua. Masyarakat, tetangga maksudnya, juga berperan besar. Hingga
negosiasi merupakan proses yang cukup berat. Apalagi jika masyarakat dan keluarga masih abangan. Tak pernah kenal sebelumnya dengan adat yang menurut pemahaman kita Islami pun kita kurang berusaha untuk mengenalkan. Persetujuan dan pengertian dari orang tua saja belumlah cukup. Ungkapan, "Yang penting ortu setuju!" tak berlaku. Tak bisa menganggap remeh masyarakat dan keluarga besar. Maka kompromi -mau tak mau- lebih banyak dilakukan. Ngotot, merasa benar sendiri dan keras kepala lebih banyak buruknya daripada baiknya.

Pernikahan ketiga di tengah kota Semarang. Adat jawa sudah mulai hilang. Tapi adat perkotaan mulai mewarnai. Tak masalah bagi keluarga kalau pengantin tidak
menginginkan sesaji dan semua hal yang berbau syirik. Simbol-simbol boleh dihapus, urutan upacara adat boleh dilewati, karena keluarga dan para tamu juga sudah tak banyak yang percaya akan kesakralan simbol, sesaji dan upacara-upacara. Tapi kebiasaan umum masyarakat jangan ditinggalkan. Jaga gengsi. Jangan membuat malu keluarga.

Masak pengantin tidak berdandan dan tidak mengenakan baju pengantin? Masa pengantin tidak bersanding dan tidak menemui tamu? Mengapa juga tamu harus dipisah sedang sehari-hari mereka bersama, pun banyak tamu yang pasangan suami istri? Begitu pertanyaan yang lebih banyak beredar. Kembali, negosiasi alot pun dilangsungkan.

Semua itu membuat saya merenung.

Sesungguhnya proses seputar pernikahan bagaikan cermin. Cermin dari perilaku bermasyarakat kita selama ini. Cermin dari cara bermuamalah kita dengan keluarga dan masyarakat.

Apakah sebelumnya kita sudah pernah mensosialisasikan pandangan kita tentang walimah islami pada keluarga? Ataukah kita hanya memahaminya untuk diri kita saja dan lupa bahwa acara walimah tidak kita selenggarakan sendiri tapi pasti bersama orang tua? Kalau belum pernah, maka layakkah kita meminta mereka memahami cara pandang kita dan berkeras menggunakan cara yang kita pahami dan yakini lebih baik tapi tanpa mau berempati terhadap cara pandang mereka dan pemahaman yang mereka miliki selama ini?

Apakah sebelumnya kita telah mempelajari budaya masyarakat kita, yang tentu saja bisa sangat berbeda dengan budaya masyarakat di wilayah lain, dan kemudian
memilah dan memilih mana yang masih bisa dikompromikan dan mana yang tidak? Kalua belum pernah, mengapa kita berkeras hati dan tak mau kompromi?

Apakah kita memahami aturan kerangka walimah yang islami dalam hakekatnya, dan juga kedudukannya diantara adab dan syariat islam secara keseluruhan
atau kita hanya memahami bahwa walimah islami itu secara fisik yang seperti itu dan kudu?

Sesungguhnya disinilah kemampuan kita bernegosiasi diuji. Sekaligus dakwah yang pernah kita lakukan sebelumnya dinilai. Bahwa kita tidak bisa memandang
permasalahan dari sisi kita sendiri. Bahkan ketika kita mengira kita memandang dari sisi islam (padahal belum tentu) dan merasa benar (sendiri). Banyak sisi
pandang orang lain yang harus kita pahami karena bisa jadi niat mereka baik, hanya saja sikap yang diambil dilandasi keyakinan yang tidak benar. Juga ketika kita
ingin meluruskan pemahaman yang salah. Dengan siapa kita bicara, dan bagaimana kita menyampaikannya. Menikah, ternyata mempunyai dimensi dakwah yang sangat luas.

Keberhasilan 'lobi' dan acara walimahnya akan menjadi parameter sejauhmana dakwah (sosialisasi nilai2 islam) telah kita lakukan di keluarga dan masyarakat kita.
Juga setinggi apa keistiqomahan kita, sekaligus seluwes apa kita mampu mengejawantahkannya.

Sementara kedepan berhasil atau tidaknya ia akan menjadi sebuah modal bagi langkah dakwah berikutnya. Apalah artinya kita bisa 'memaksakan' keislamian dalam walimah yang hanya sekali, namun menjadi penghalang dakwah keluarga dan masyarakat pada periode rentang usia hidup kita selanjutnya.

Tentu saja, akan lebih utama jika semuanya berjalan lancar. Namun hal itu dapat dikatakan mustahil jika sebelumnya kita tak pernah melakukan apa-apa, kecuali
hanya menancapkan dalam benak kita pemahaman tentang walimah islami yang kita terima, tanpa berusaha mensosialisasikan kepada orang-orang di sekeliling
kita.

Dan saya pun bertanya-tanya; kira-kira bagaimana tanggapan keluarga besar dan masyarakat di sekeliling saya nanti, jika tiba masa saya? (@az, 1999 ditulis)

3 thoughts on “Untaian Pelajaran dari Pernikahan

  1. reza says:

    thanks yau….

  2. Bagus sekali postingan’y..
    Salam kenal yah??

  3. danang says:

    trims.. salam kenal

Comments are closed.

%d bloggers like this: