Jangan Melangkah Setengah Hati

” Bersungguh-sungguhlah karena itu akan lebih layak untuk dikabulkan”
(HR. Muslim & Abu Dawud)

Namanya Abu Qais. Seorang kepala suku di kampung Madinah.
Saat itu ia tak kunjung menerima islam.Bukan karena ia tak mengerti
karena ia tidak saja seorang kepala suku yang pintar namun juga penyair yang ulungdan tokoh yang disegani. Ia juga menolak menjadi yahudi dan nasrani.
Baginya menjadi orang yang “hanifiyyun” (orang yang baik) saja sudah cukup.

Sudah begitu, dedengkot kaum munafik, Abdullah bin Ubay terus saja mempengaruhinya
untuk tidak menerima islam.
Hari-hari terus berlalu. Bahkan ketika kota Mekkah ditaklukkan Rasulullah,
Abu Qais masih setengah hati untuk mau menerima islam. Sampai akhirnya, ia berjanji
akan masuk islam tahun depan. Tetapi apa lacur? Satu bulan kemudian, ia meninggal,
menemui ajal yang tak pernah ia sangka kapan datangnya.

Ini kisah tentang keputusan setengah hati yang membawa bencana. Bagaimana tidak ?
Adakah bencana yang lebih bencana dari mati tidak sebagai muslim? Dari menolak
cahaya islam yang sudah di pelupuk mata?.
Hidup adalah pilihan.
Pilihan yang harus kita putuskan.

Selalu ada implikasi dari setiap keputusan kita. Implikasi bahagia atau sengsara,
pahit atau manis, bahkan surga atau neraka.
Waktu berjalan begitu cepat. Kehidupan tidak memberi ruang yang istimewa bagi
segala keputusan yang setengah hati.
Setiap kita punya titian hidup yang berbeda. Tetapi segalanya bertumpu pada satu hal;
keputusan yang sepenuh hati untuk bertindak, dengan keyakinan yang benar,
waktu yang tepat dan perhitungan yang cermat.

Pertolongan Allah akan datang ketika hati ini sudah bulat dengan usaha dan perjuangan.
Maju mundur menyebabkan kita mudur dan tidak pernah maju.

Ini memang tidak mudah. Tetapi untuk kepentingan apapun-terlebih untuk meniti jalan
hidup keislaman- tidak ada waktu dan tempat untuk sebuah keputusan yang setengah hati.
Kita harus mencoba. Karena tak ada pilihan lagi selain itu.
” Ya Allah aku memohon agar Engkau pilihkan dengan ilmuMu..”

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah pada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya”
(QS. Ali Imran : 159)

taken from ; Tarbawi ed.62

%d bloggers like this: