Weblog Danang

kliping artikel online & catatan kecilku

Jenis Buah Menurut Usia

leave a comment »

 

BUAH UNTUK SI 4 BULAN

Buah yang Disarankan:
Air jeruk sangat baik diberikan karena banyak mengandung vitamin C yang berfungsi memperbaiki lapisan-lapisan dalam pembuluh darah, termasuk lapisan mulut. Juga untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan tubuh, penyembuhan luka, pertumbuhan tulang dan gigi bayi.
Pisang, sangat baik karena banyak mengandung kalori untuk pertumbuhan, vitamin C, kalium, kalsium. Pisang memiliki kadar tepung tinggi, dibanding buah semangka yang lebih banyak air dibanding tepungnya. Pisang juga mengandung mineral yang tinggi.
Sari buah tomat dan pepaya. Saat memberikan sari buah tomat pada bayi, kulit ari dan biji tomat harus dipisahkan terlebih dahulu karena keduanya tidak dapat dicerna oleh pencernaan bayi. Tomat dan pepaya sangat baik untuk bayi karena mengandung banyak vitamin A. Vitamin ini berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh, juga untuk kesehatan matanya.

Buah yang Harus Dihindari:
* Yang banyak mengandung serat, seperti sirsak. Sirsak dan buah lain yang seratnya panjang-panjang susah dicerna oleh bayi.
* Buah yang rasanya terlalu asam, karena dapat menyebabkan bayi sakit perut
* Buah-buahan yang mengandung alkohol, seperti durian dan nangka cempedak.

BUAH UNTUK SI 6-7 BULAN
* Umumnya bayi telah mulai tumbuh gigi, jadi ia sudah bisa diberi buah yang banyak mengandung serat, seperti mangga atau semangka.
* Penyajian buah untuk usia ini pun dapat lebih kental dari sebelumnya, dengan cara dijus, dikerok, atau dilumatkan
* Bayi juga sudah boleh diberi buah yang dipotong kecil-kecil untuk melatih gigi-giginya. Karena umumnya di usia ini bayi mulai belajar mengunyah.
* Buah yang sebaiknya dihindari di usia 6-7 bulan, sama dengan untuk byi umur 4 bulan.


BUAH UNTUK SI 8-12 BULAN
* Menginjak usia 8 bulan, biasanya gigi-gigiya sudah semakin kuat, sehingga sudah memungkinkan untuk diberikan buah yang dipotong-potong, seperti semangka, mangga, pisang, pepaya yang dipotong kecil-kecil
* Pada usia 11-12 bulan, karena biasanya gigi-giginya sudah kuat dan lengkap, dianjurkan memberi buah yang dapat dimakan utuh, seperti pisang.

FREKUENSI PEMBERIAN BUAH
* Frekuensi pemberian buah sebaiknya disesuaikan dengan pemberian ASI dan makanannya.
* Mula-mula diberikan sekali dalam sehari terlebih dahulu. Misalnya, ibu ingin menggantikan waktu pemberian ASI yang biasanya diberikan pada jam 10 pagi dengan buah. Nah, buatkan jus pepaya atau perasan air jeruk.
* Setelah itu, lihat reaksinya. Kalau anak masih lapar, boleh saja ditambahkan ASI.

TAK DISARANKAN BUAH KALENGAN
Buah dalam kaleng, tak dianjurkan. Sedapat mungkin beri makanan/buah yang segar dan alami. Buah-buahan dalam kaleng biasanya telah diawetkan dan umumnya ditambahi beberapa zat tertentu. Walaupun disebutkan zat itu memenuhi persyaratan, tetapi kalau bisa mendapatkan makanan yang segar, lebih baik kita berikan buah segar. Harganya pun lebih murah dibanding buah kaleng.

@Sumber: tabloid Nakita

http://resep-balita.blogspot.com/2005/01/jenis-buah-menurut-usia.html

Written by danang

13 November 2009 at 10:32

Posted in Catatan

Sikap Jama’ah Ikhwan Terhadap Kekerasan

leave a comment »

Jama’ah Ikhwanul Muslimin terus mendapatkan fitnah, dan selalu dikaitkan dengan berbagai aksi kekerasan yang terjadi diberbagai negara. Berbagai tokoh dan golongan tidak jarang mengeluarkan tuduhan dan fitnah,yang mengkaitkan Jama’ah yang didirikan oleh Hasan al-Banna ini dilekatkan dengan kekerasan.

Jama’ah Ikhwanul Muslimin terus mendapatkan fitnah, dan selalu dikaitkan dengan berbagai aksi kekerasan yang terjadi di berbagai negara. Berbagai tokoh dan golongan tidak jarang mengeluarkan tuduhan dan fitnah, yang mengkaitkan Jamaah yang didirikan oleh Hasan al-Banna ini dilekatkan dengan berbagai aksi kekerasan, seperti terorisme, pemboman, peledakan, dan pemberontakan.

Maka, Jamaah Ikhwan mengeluarkan pandangan dan sikap resminya berkaitan munculnya tuduhan, fitnah, serta adanya konspirasi yang sengaja menyudutkan Jamaah Ikhwan, yang berdiri sejak tahun 1928 ini, kearah posisi yang negative. Dalam pandangannya yang resmi Jamaah Ikhwan, yang tertuang di dalam dokumen yang dikeluarkannya, dan menjadi sikap dasar dari Jamaah Ikhwan itu, secara eksplisit tertera didalam buku, “Kharithah Masyru’ ur-Ru’yah asy-Syamilah lil Jama’ah Al-Ikhwan al-Muslimun 1426 H’, antara lain :

Pertama, yang menjadi karakter Jamaah al-Ikhwan al-Muslimun adalah mengajak kepada sikap moderat (wasathiyah) dan proporsional (i’tidal), membangun methode dialog dengan bijak dan nasihat yang baik dalam da’wahnya kepada Allah Azza Wa Jalla. Jama’ah melihat harakah-harakah Islam lainnya dan para aktivis Islam dengan pandangan hormat, menghargai, saling menasihati dalam masalah agama, berdebat dengan cara yang terbaik, dan bekerjasama untuk berbuat kebajikan dan takwa.

Sebagaimana pernyataan Hasan al-Banna dalam kaidah pokoknya, “Kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati dan saling toleran dalam hal yang kita perselisihkan”. Jika Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun berbeda dengan mereka dalam satu aspek atau pesepsi, maka ia sejalan dengan banyak aspek dan persepsi. Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun selalu bekerjsama dengan kelompok lainnya.

Kedua, kaitannya dengan aqidah dan syari’ah, dalam interaksinya, Jamaah al-Ikhwan al-Muslimun membedakan antara aqidah, ibadah dan dan syari’ah. Karena aqidah dan ibadah diaplikasikan sekaligus. Sedangkan, syariah prinsip penyampaiannya kepada manusia dan aplikasinya kepada realitas kehidupan itu bertahap. Sebagaimana tali Islam itu bisa terurai ikatan demi ikatan – maksudnya bertahap, maka begitu juga upaya kembali kepadanya juga harus bertahap.

Mengajak manusia untuk bergabung lagi di bawah panji Islam, yang mengatur semua aspek kehidupan manusia, itu menuntut langkah bertahap dalam penerapannya. Tidak dikatakan bahwa prinsip bertahap itu berhenti setelah terhentinya wahyu dan disempurnakannya agama. Karena yang menjadi masalah bukan pentahapan dalam penetapan hukum syari’ah, melainkan dalam penerapannya. Tanpa pentahapan, berbagai maslahat tidak dapat diwujudkan, terjadi kesulitan, dan semua manusia akan berpaling dari syari’ah.

Ketiga, masalah kekerasan dan terror, Jamaah al-Ikhwan al-Muslimun, mengecam dan menentang kekerasan, serta menolak setiap bentuk kekerasan apapun sumber dan pemicunya. Sikap ini didasarkan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Islam, prinsip-prinsipnya dan ajaran-ajarannya. Al-Ikhwan mengesampingkan kekerasan dalam setiap gerakannya, kecuali saat menghadapi musuh penjajah, di mana jihad menjadi kewajiban syar’i dan negara.

Adapun dibidang dakwah atau politik, al-Ikhwan al-Muslimun berpegang pada prinsip mengajak dengan hikmah dan nasihat yang baik, demi mengikuti firmanh Allah Ta’ala,“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan batahlah mereka dengan cara yang baik”. (An-Nahl : 125). Jamaah juga berpegang pada cara dialog yang tenang sebagai upaya untuk mengajak dengan pemikirannya dan langkah politik.

Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun menolak secara mutlak pemberontakan bersenjata terhdap masyarakat dan negara. Jama’ah Ikhwan menyerukan untuk menghindari kekerasan dalams segala bentuknya, meyakini bahwa upaya menghilangkan kemungkaran dan memperbaiki masyarakat itu harus dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan meyakini bahwa dialog merupakan jalan untuk mengokohkan stabilitas nasional dalam kehidupan bersama.

Kita menyerukan sikap, ucapan, dan orientasi yang moderat. “Dan demikian pula Kami telahmenjadikan kamu (umat Islam),umat ang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia”. (al-Baqarah :143). Jama’ah Ikhwan juga menyerukan penolakan terhadap berbagai bentuk radikalisme.

Selain itu, menyerukan hendaknya ada difinisi yang jelas tentang terorisme agar ia tidak menjadi sarana untuk memerangi kaum tertindas yang menuntut hak-haknya yang syah. Al-Ikhwan memandang jihad melawan penjajah sebagai hak legal yang diakui Islam, sebagaimana ia diakui oleh hukum-hukum agama samawi lainnya dan piagam internasional. Berbagai bangsa di dunia telah melakukann ya untuk mendapat hak kemerdekaan negerinya dari penjajahan.

Keempat, terorisme merupakan istilah baru yang menimbulkan perselisihan besar dalam mendifiniskannya di setiap negara di dunia, Tetapi, difinisi yang disepakati adalah melakukan serangan terhadap orang-orang yang tidak berdosa dengan cara penculikan, terror, gangguan, atau dengan membunuh mereka untuk merealisasikan tujuan-tujuan politik yang tidak ada kaitan dengan mereka.

Sesuai dengan difinisi ini, Jama’ah Ikhwan menolak terorisme dan tidak menerima tindakan menyakiti individu, bangsa, dan bahkan binatang. “Dan, perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas”. (al-Baqarah : 190).

Dem ikianlah, beberapa masalah pokok, yang belakangan ini menjadi isu penting, yang selalu dikaitkan dengan Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun, dan sikap pandangan yang dikemukan ini, kiranya dapat menjadi sangat jelas, bagaimana sesungguhnya pandangan dan sikap Jama’ah al-Ikhwan. (m)

http://eramuslim.com/berita/laporan-khusus/sikap-jama-ah-ikhwan-terhadap-kekerasan.htm

Written by danang

15 October 2009 at 16:35

Posted in Catatan

Siapa Salafi?

with one comment

Siapa Salafi?
Katagori : Untold Story / the X files
Oleh : Redaksi 09 Jul 2007 – 11:20 pm
Kolom bertitel “Salafi Mesti Berani” tulisan Ja’far Umar Thalib (JUT), yang dimuat majalah Gatra edisi 20 Juni lalu, menarik dicermati. Jika logika JUT ini dilanjutkan, maka yang tergolong teroris daftarnya akan cukup panjang dan mengejutkan. Hal ini sudah dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Dalam pandangan Luqman, yang tergolong teroris adalah mereka yang dikenal umat Islam pada umumnya sebagai mujahid, seperti Syekh Ahmad Yasin, Rantisi, Hassan al-Banna, Sayyid Qutb, Khattab, Abdullah Azzam, Zarqawi, serta para syuhada lainnya. Apakah Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, Omar Abdurrahman, Al-Muhajeer, Kholid Misy’al adalah teroris? Apa pula argumen yang dibangun dalam memvonis mereka sebagai teroris? Karena itu, apa yang ditulis JUT di Gatra dengan titel “Salafi Mesti Berani” itu betul. Jangan cuma berani bicara di majelisnya sendiri. Dialog terbuka untuk mengkaji definisi, metode, dan amaliah salafi perlu digelar.
Kolom bertitel “Salafi Mesti Berani” tulisan Ja’far Umar Thalib (JUT), yang dimuat majalah Gatra edisi 20 Juni lalu, menarik dicermati. Poinnya, JUT merasa jengah ketika laskar Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melabrak tempat pengajian kelompok salafi di Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pengajian yang mestinya membawa kesejukan itu berubah mencaci maki MMI dan mengkhawarijkan amirnya, Ustad Abu Bakar Ba’asyir.
Kelompok salafi di Grogol itu memprotes berita yang dimuat majalah Risalah Mujahidin (RM) edisi 7 (April 2007) halaman 42, berjudul “Mengenal Agen Mossad dalam Gerakan Islam”. Berita itu dianggap melecehkan kelompok salafi. Itulah klaim Ayip Syaifuddin, pengajar Pesantren Daarus Salafi dan Abu Karimah Asykary yang bertindak sebagai penceramah acara “Membongkar Kedustaan Risalah Mujahidin”.
Sebenarnya ada dua hal yang secara substansi perlu mendapat tanggapan. Pertama, dalam memahami makna salafi. Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Wajib atasmu mengikuti sunahku dan sunah khulafaur-rasyidin al-mahdiyin….” Imam Muslim dan Bukhari juga meriwayatkan hadis yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, “Sebaik-baiknya zaman bagi kalian adalah zamanku ini, kemudian selanjutnya zaman yang mengikuti mereka, kemudian selanjutnya lagi zaman yang mengikuti mereka.” Salafiyah terkait dengan kualitas ahl salaf atau salafush-shalih (generasi terdahulu yang salih) melekat dengan kehidupan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in.
Jadi, salafush-shalih adalah para sahabat RA dan siapa saja yang mengikuti cara dan jalan mereka di antara para tabi’in yang mengikuti mereka pada tiga abad masa Islam yang pertama, yang telah disaksikan kebaikan mereka. Namun tidak ada satu pun nash yang membolehkan kita memutlakkan diri sendiri sebagai yang paling salafi, karena sifat-sifat kita belum teruji. Misalnya dengan membuat Yayasan Ihya as-Sunnah, Ihya at-Turats, Ihya as-Salafi, dan Daarus-Salafi belum tentu salafi. Adalah Abdullah bin Mas’ud pernah berujar, “Jamaah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, walau engkau seorang diri.”
Kedua, definisi khawarij. Dalam sejarahnya, kaum khawarij adalah mereka yang tidak terima dengan keputusan Khalifah Ali RA berdamai (tahkim) dengan Muawiyah. Kemudian khawarij membunuh Ali RA. Sekarang istilah khawarij itu oleh JUT ditujukan kepada siapa pun yang dianggap tidak loyal kepada pemerintah yang sah. Dalam konteks Indonesia, siapa pun yang tidak patuh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) masuk dalam kategori khawarij. Alasannya, karena SBY-JK adalah ulil amri, pemerintah Islam. Walau tidak menerapkan hukum Islam, mereka masih salat, maka harus ditaati.
Lalu, bagaimana dengan ulah JUT sendiri yang pada tahun 2000 meminta izin pada Presiden Abdurrahman Wahid untuk berjihad ke Ambon dan tidak diperbolehkan, tetapi JUT dan Laskar Jihad-nya nekat berangkat ke Ambon? Bukankah itu tindakan khawarij?
Kalau mengikuti logika tersebut, maka Ibnu Taimiyah adalah khawarij. Ini karena Ibnu Taimiyah menentang pemerintah penjajah Holako yang berhasil menguasai Irak pada masa khilafah Abbasiyah. Holako itu muslim, bahkan memberi kebebasan pada rakyat Irak untuk bersyariat Islam, tetapi justru diperangi oleh Imam Ibnu Taimiyah, sehingga beliau dipenjara di Damaskus sampai menjemput syahidnya.
Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang membangkang (bughat) dari kekhilafahan Turki Utsmani, lalu mendirikan Kerajaan Arab Saudi sekarang, bersama keluarga Ibnu Saud. Mengapa JUT dan kelompok salafinya tidak berani mengkhawarijkan kedua imam salafush-shalih tersebut? JUT hanya berani menempatkan Ustad Abu Bakar Ba’asyir sebagai khawarij, bahkan menyebutnya sebagai teroris bersama para tersangka teroris yang ditangkap Densus 88.
Jika logika JUT ini dilanjutkan, maka yang tergolong teroris daftarnya akan cukup panjang dan mengejutkan. Hal ini sudah dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Dalam pandangan Luqman, yang tergolong teroris adalah mereka yang dikenal umat Islam pada umumnya sebagai mujahid, seperti Syekh Ahmad Yasin, Rantisi, Hassan al-Banna, Sayyid Qutb, Khattab, Abdullah Azzam, Zarqawi, serta para syuhada lainnya.
Pertanyaan berikutnya, apakah Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, Omar Abdurrahman, Al-Muhajeer, Kholid Misy’al adalah teroris? Apa pula argumen yang dibangun dalam memvonis mereka sebagai teroris?
Karena itu, apa yang ditulis JUT di Gatra dengan titel “Salafi Mesti Berani” itu betul. Jangan cuma berani bicara di majelisnya sendiri. Dialog terbuka untuk mengkaji definisi, metode, dan amaliah salafi perlu digelar. Mengklaim sebagai salafi, sementara metode dakwahnya jauh dari kesejukan, hanya akan membuat umat menjadi bingung.
Dengan adanya dialog itu, selain mengurangi fitnah antarkomunitas, umat akan mendapatkan pencerahan. Siapa salafi yang sebenarnya, umatlah yang akan menilainya.
Fauzan Al-Anshari
Mantan Pemred Risalah Mujahidin
[Kolom, Gatra Nomor 34 Beredar Kamis, 5 Juli 2007]

Malam kemarin saya melihat dialog tentang Terorisme di TV dengan narasumber Ust Ja’far Umar Thalib. Saya agak terkejut dengan pernyataannya yang dengan amat meyakinkan memvonis ideologi para teroris yang melakukan pengeboman di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, berakar dari pemahaman Sayyid Qutb.

Benarkah demikian?

Berikut ini artikel Ust Fauzan yang saya kutip dari Swaramuslim kiranya dapat memberikan pencerahan.

Oleh : Redaksi 09 Jul 2007 – 11:20 pm

Kolom bertitel “Salafi Mesti Berani” tulisan Ja’far Umar Thalib (JUT), yang dimuat majalah Gatra edisi 20 Juni lalu, menarik dicermati. Jika logika JUT ini dilanjutkan, maka yang tergolong teroris daftarnya akan cukup panjang dan mengejutkan. Hal ini sudah dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Dalam pandangan Luqman, yang tergolong teroris adalah mereka yang dikenal umat Islam pada umumnya sebagai mujahid, seperti Syekh Ahmad Yasin, Rantisi, Hassan al-Banna, Sayyid Qutb, Khattab, Abdullah Azzam, Zarqawi, serta para syuhada lainnya. Apakah Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, Omar Abdurrahman, Al-Muhajeer, Kholid Misy’al adalah teroris? Apa pula argumen yang dibangun dalam memvonis mereka sebagai teroris? Karena itu, apa yang ditulis JUT di Gatra dengan titel “Salafi Mesti Berani” itu betul. Jangan cuma berani bicara di majelisnya sendiri. Dialog terbuka untuk mengkaji definisi, metode, dan amaliah salafi perlu digelar.

Kolom bertitel “Salafi Mesti Berani” tulisan Ja’far Umar Thalib (JUT), yang dimuat majalah Gatra edisi 20 Juni lalu, menarik dicermati. Poinnya, JUT merasa jengah ketika laskar Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melabrak tempat pengajian kelompok salafi di Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pengajian yang mestinya membawa kesejukan itu berubah mencaci maki MMI dan mengkhawarijkan amirnya, Ustad Abu Bakar Ba’asyir.

Kelompok salafi di Grogol itu memprotes berita yang dimuat majalah Risalah Mujahidin (RM) edisi 7 (April 2007) halaman 42, berjudul “Mengenal Agen Mossad dalam Gerakan Islam”. Berita itu dianggap melecehkan kelompok salafi. Itulah klaim Ayip Syaifuddin, pengajar Pesantren Daarus Salafi dan Abu Karimah Asykary yang bertindak sebagai penceramah acara “Membongkar Kedustaan Risalah Mujahidin”.

Sebenarnya ada dua hal yang secara substansi perlu mendapat tanggapan. Pertama, dalam memahami makna salafi. Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Wajib atasmu mengikuti sunahku dan sunah khulafaur-rasyidin al-mahdiyin….” Imam Muslim dan Bukhari juga meriwayatkan hadis yang bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, “Sebaik-baiknya zaman bagi kalian adalah zamanku ini, kemudian selanjutnya zaman yang mengikuti mereka, kemudian selanjutnya lagi zaman yang mengikuti mereka.” Salafiyah terkait dengan kualitas ahl salaf atau salafush-shalih (generasi terdahulu yang salih) melekat dengan kehidupan para sahabat, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in.

Jadi, salafush-shalih adalah para sahabat RA dan siapa saja yang mengikuti cara dan jalan mereka di antara para tabi’in yang mengikuti mereka pada tiga abad masa Islam yang pertama, yang telah disaksikan kebaikan mereka. Namun tidak ada satu pun nash yang membolehkan kita memutlakkan diri sendiri sebagai yang paling salafi, karena sifat-sifat kita belum teruji. Misalnya dengan membuat Yayasan Ihya as-Sunnah, Ihya at-Turats, Ihya as-Salafi, dan Daarus-Salafi belum tentu salafi. Adalah Abdullah bin Mas’ud pernah berujar, “Jamaah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, walau engkau seorang diri.”

Kedua, definisi khawarij. Dalam sejarahnya, kaum khawarij adalah mereka yang tidak terima dengan keputusan Khalifah Ali RA berdamai (tahkim) dengan Muawiyah. Kemudian khawarij membunuh Ali RA. Sekarang istilah khawarij itu oleh JUT ditujukan kepada siapa pun yang dianggap tidak loyal kepada pemerintah yang sah. Dalam konteks Indonesia, siapa pun yang tidak patuh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) masuk dalam kategori khawarij. Alasannya, karena SBY-JK adalah ulil amri, pemerintah Islam. Walau tidak menerapkan hukum Islam, mereka masih salat, maka harus ditaati.

Lalu, bagaimana dengan ulah JUT sendiri yang pada tahun 2000 meminta izin pada Presiden Abdurrahman Wahid untuk berjihad ke Ambon dan tidak diperbolehkan, tetapi JUT dan Laskar Jihad-nya nekat berangkat ke Ambon? Bukankah itu tindakan khawarij?

Kalau mengikuti logika tersebut, maka Ibnu Taimiyah adalah khawarij. Ini karena Ibnu Taimiyah menentang pemerintah penjajah Holako yang berhasil menguasai Irak pada masa khilafah Abbasiyah. Holako itu muslim, bahkan memberi kebebasan pada rakyat Irak untuk bersyariat Islam, tetapi justru diperangi oleh Imam Ibnu Taimiyah, sehingga beliau dipenjara di Damaskus sampai menjemput syahidnya.

Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang membangkang (bughat) dari kekhilafahan Turki Utsmani, lalu mendirikan Kerajaan Arab Saudi sekarang, bersama keluarga Ibnu Saud. Mengapa JUT dan kelompok salafinya tidak berani mengkhawarijkan kedua imam salafush-shalih tersebut? JUT hanya berani menempatkan Ustad Abu Bakar Ba’asyir sebagai khawarij, bahkan menyebutnya sebagai teroris bersama para tersangka teroris yang ditangkap Densus 88.

Jika logika JUT ini dilanjutkan, maka yang tergolong teroris daftarnya akan cukup panjang dan mengejutkan. Hal ini sudah dilakukan oleh Luqman Ba’abduh, mantan Wakil Panglima Laskar Jihad. Dalam pandangan Luqman, yang tergolong teroris adalah mereka yang dikenal umat Islam pada umumnya sebagai mujahid, seperti Syekh Ahmad Yasin, Rantisi, Hassan al-Banna, Sayyid Qutb, Khattab, Abdullah Azzam, Zarqawi, serta para syuhada lainnya.

Pertanyaan berikutnya, apakah Osama bin Laden, Ayman Zawahiri, Omar Abdurrahman, Al-Muhajeer, Kholid Misy’al adalah teroris? Apa pula argumen yang dibangun dalam memvonis mereka sebagai teroris?

Karena itu, apa yang ditulis JUT di Gatra dengan titel “Salafi Mesti Berani” itu betul. Jangan cuma berani bicara di majelisnya sendiri. Dialog terbuka untuk mengkaji definisi, metode, dan amaliah salafi perlu digelar. Mengklaim sebagai salafi, sementara metode dakwahnya jauh dari kesejukan, hanya akan membuat umat menjadi bingung.

Dengan adanya dialog itu, selain mengurangi fitnah antarkomunitas, umat akan mendapatkan pencerahan. Siapa salafi yang sebenarnya, umatlah yang akan menilainya.

Fauzan Al-Anshari

Mantan Pemred Risalah Mujahidin

[Kolom, Gatra Nomor 34 Beredar Kamis, 5 Juli 2007]

Written by danang

15 October 2009 at 16:14

Posted in Catatan

Tagged with

Jurnalisme Teror II: Agar Aktivis menjadi Hedonis

with 2 comments

Sebuah tayangan televisi pada 14 Februari lalu membuat saya tercengang. Komedian yang sedang terbaring sakit, Pepeng–pembawa acara Kuis JariJari— diberi hadiah Valentine oleh pembawa acara Espresso di ANTV. Keterkejutan saya karena hadiah tersebut adalah Al Qur’an.

Ini merupakan bentuk “kecanggihan” orang/kelompok/organisasi yang berusaha menghancurkan Islam secara halus. Betapa tidak, Al Qur’an, sebuah Kitab Suci yang berisikan wahyu Allah, “dinistakan” dengan cara dijadikan sebagai hadiah pada acara Valentine yang bermuasal dari agama paganisme. Hak dan batil dicampuradukkan. Cara itu menggiring opini pemirsa yang mayoritas umat Islam, bahwa Valentine itu kompatibel dengan Islam. Toh, Al Qur;’an dijadikan sebagai gift. Luar biasa halusnya.

Cara halus mereka–yang tentu saja telah dilakukkan lebih dari seratus tahun– telah berhasil. Contoh kecil tapi menyedihkan: Di hari yang sama, vokalis band terkemuka (antara Radja dan Pasha Ungu) yang istrinya melahirkan tepat pada Hari Valentine, menamakan anaknya: Muhammad Valentino. “Muhammad itu nama Nabi, dan Valentino sebagai bentuk untuk mengingat hari kasih sayang,” kata mereka.

Kisah enam bulan lalu itu saya angkat kembali untuk mengingatkan, betapa media–cetak apalagi elektronik– memiliki kekuatan dahsyat untuk membentuk opini, mengubah mind-set, dan membentuk budaya. Ingat kata futurolog Alvin Toffler. “Abad 21 adalah era informasi. Siapa yang menguasai informasi, maka akan menguasai dunia.”

Satu bulan terakhir ini—setelah Marriot dan Ritz Carlton meledak—sesungguhnya kita tengah digiring oleh hampir seluruh media untuk sependapat bahwa: teroris itu Islam; teroris itu berjanggut, bercadar dan dari pesantren; teroris itu ahli bekam dan herbal; teroris itu aktifis masjid; teroris itu orang yang pernah ke Poso, Ambon dan Afghanistan. Tak percaya?

Lihat saja bagaimana para jurnalis itu beraksi. Koran Tempo kerap kali menampilkan foto para tersangka teroris dengan wajah khas para aktivis Islam: berjanggut, bersorban dan lainnya. Pernah, dalam headlinenya—salah satu koran yang juga bersemangat menentang UU Pornoaksi– itu menulis pemikat beritanya dengan sangat tendensius dan stigmatif. “Ia ahli bekam dan pengobatan herbal,” tulisnya menunjuk pada sosok Syaifudin Zuhri, ustadz yang menurut mereka merupakan teroris.

Setali tiga uang dengan media elektronik. Mereka– TV One, Metro TV, SCTV, ANTV, RCTI—tak bosan-bosannya menampilkan wawancara dengan para keluarga yang diduga teroris. Perhatikan apa yang terlihat dalam gambar! Para anggota keluarga itu, memakai simbol-simbol kekaffahan seorang muslim saat diwawancarai: berjilbab, bersarung, bercadar dan berbaju gamis. Visual itu seolah ingin mengatakan: Ini loh, orang-orang yang berjilbab itu sesungguhnya sumber lahirnya teroris.

Konspirasi

Anda pernah menyaksikan film “Conspiracy Theory”, yang dibintangi Mel Gibson dan Julia Roberts. Film yang dirilis tahun 1997 itu menceritakan tentang seorang maniak teori konspirasi bernama Jerry Fletcher (Mel Gibson) yang bekerja sebagai sopir taksi.

Pria tampan berpenampilan cuek tapi terlihat cerdas tersebut memiliki kekasih bernama Alice Sutton (Julia Roberts) yang bekerja untuk pemerintah. Jerry yang sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah memiliki teori yang disebutnya Conspiracy Theory atas dugaan pembantaian yang dilakukan oleh beberapa tokoh politikus. Ternyata, tanpa diduga salah satu teori Jerry menjadi kenyataan.

Jerry pun diburu oleh sekelompok orang asing atas suruhan politikus yang terlibat dalam teori konspirasi tersebut. Bahkan Jerry harus dibunuh sebelum teori itu menjadi pusat perhatian masyarakat. Satu-satunya orang yang dapat dipercaya oleh Jerry adalah Alice, wanita yang dicintainya. Namun sayangnya Alice tidak tahu apa yang harus diperbuat karena semua mengandung misteri.

Konspirasi-konspirasi seperti yang digambarkan di dalam film Conspiracy Theory itu memang ada. Di dalam dunia usaha global, perusahaan besar membeli produk-produk setiap harinya, adalah bagian dari konspirasi untuk memperbaiki harga di pasar dan mengurangi kompetisi. Begitu pula dalam ranah politik, sosial dan lainnya.

Bagi orang yang tidak percaya selalu menganggap semua hanya olok-olok, mengada-ada, menyia-nyiakan waktu, kurang kerjaan, dan sebagainya. Orang-orang JIL, misalnya, menyebut para penganut teori ini sebagai “kemalasan berpikir”.

Namun, bagi saya, percaya pada konspirasi merupakan “kejernihan berpikir”. Tak sulit untuk menyimpulkan sebuah peristiwa adalah konspirasi atau tidak. Cukup menelaah pra kejadian, saat kejadian dan setelah kejadian. Biasanya, jika kita mau sedikit cermat, ada saja ditemukan kejanggalan-kejanggalan dan benang merah.

Mari kita bedah peristiwa pemboman Marriot dan Ritz Carlton. Sebelum bom meledak, travel warning diberikan pemerintah Australia kepada warganya agar tak mengunjungi Indonesia. Kemudian, polisi menemukan bom di Cilacap. Sebelum itu, polisi juga menangkap teroris di Palembang. Pola ini selalu sama dengan pemboman yang sudah-sudah: Bom Bali I, II, dan Kedubes Australia (2004). Sebelum peledakan terjadi, didahului travel warning, penemuan bom dan lainnya.

Lalu, hari H peledakan, terdapat banyak kejanggalan. Bagaimana mungkin JW Marriot dan Ritz Carlton bisa disusupi, padahal pengamanan di sana, sejak dibom pada 2003, sangat ketat. Saya pernah masuk ke Marriot pada Juni 2007. Pengamanannya berlapis, tak sembarang orang bisa masuk.

Kalaupun dugaan saya di atas masih lemah, mari kita lihat apa yang terjadi setelah bom meledak—yang menurut saya mengindikasikan dengan kuat adanya konspirasi. Pasca peledakan, semua media gencar memberitakan kasus ini, hingga sekarang. Liputan langsung dibuat. Tak cukup dengan itu, juga diundang para nara sumber yang memiliki pandangan sama, salah satunya mantan Kepala BIN. Dua kali ia diwawancarai TV One, dan satu kali oleh Metro TV. Statementnya selalu sama: “Teroris itu akan selalu bermunculan jika akar penyebabnya tak dihabiskan, yakni wahabisme dan ikhwanul muslimin,” kata dia.

Pernyataan ini menjadi menarik. Pertama, beberapa bulan sebelum peledakan, muncul buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan orang-orang liberal. Isinya idem ditto dengan ocehan mantan Kepala BIN itu. Buku yang diedit Abdurrahman Wahid itu—lucu juga kok bisa Gus Dur yang penglihatannya tak sempurna bisa mengedit—menyatakan bahwa di Tanah Air ada ideologi transnasional yang harus diwaspadai: wahabisme, ikhwanul muslimin. Disebutkanlah nama-nama organisasi pengusung ideologi tersebut: MMI, DDII, HTI, PKS, dan FPI.

Kedua, seolah ingin menindaklanjuti pernyataan mantan Kepala BIN itu, pihak kepolisian mulai membabi buta memberantas teroris. Di Purbalingga, anggota Jamaah Tabligh ditangkap karena dicurigai teroris saat mereka khuruj di masjid. Dan yang paling memprihatinkan, kepolisian akan mengawasi ceramah agama di masjid dan mushola, termasuk di bulan Ramadhan. Neo Orde Baru telah datang.

Pasca peledakan, sudah teramat jelas, pihak yang paling dirugikan oleh kepolisian dan pemberitaan media adalah umat Islam. “Kolaborasi” ini tentu saja akan memudahkan mereka untuk melakukan “teror” kepada umat Islam. Dan media pun akan kian mudah menciptakan opini bahwa teroris itu adalah Islam berjanggut, berjilbab dan aktivis masjid. Dengan cara ini mereka berharap: para remaja, pemuda dan umat Islam pada umumnya, akan takut datang ke masjid, mengikuti pengajian, dan menjadi Islam yang kaffah. Dari pada ditangkap, lebih baik menjadi kaum hedonis: yang asyik masyuk berdugem ria, menonton film porno, menyaksikan sinetron. Juga lebih baik menjadi kaum liberalis dan sekularis: yang mempromosikan Islam yang bebas tak bertanggungjawab.

Dan jangan kaget, bila suatu saat nanti, Al Qur’an akan menjadi hadiah wajib saat Hari Valentine. Naudzubillahminzalik. Masihkah kita mengaggap ini bukan rekayasa? Wallahua’lam.

Erwyn Kurniawan, S.Ip, Editor di Maghfirah Pustaka

http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/erwyn-kurniawan-s-ip-editor-di-maghfirah-pustaka-jurnalisme-teror-ii-agar-aktivis-menjadi-hedonis.htm

Written by danang

3 September 2009 at 14:58

Posted in Catatan

Tagged with

Antara Orangtua dan Tontonan Anak

leave a comment »

Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh.

Elly Risman, Konselor Yayasan Kita dan Buah Hati

Orangtua zaman sekarang bingung menghadapi tontonan TV dan perkembangan IT yang dampaknya menghawatirkan anak kita

Ya. Anak-anak bisa seperti itu karena pendidikan agamanya lemah. Komunikasi dengan orangtua sangat buruk. Misalnya anak tanya tentang kondom tidak boleh, bertanya tentang perkosaan dan sodomi dimarahi. Padahal itu semua mereka lihat di TV. Orangtua tak siap jadi orangtua. Tak tahu tahapan perkembangan anak. Mereka masih memegang pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu, tidak layak dibicarakan. Kalaupun ingin berbicara tak tahu bagaimana memulainya, sampai kapan dan sejauh mana.

Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh. Orangtua sering tidak memuliakan anaknya. Kalau mereka bertanya malah dibentak. Padahal setiap anak punya hak untuk mengetahui sesuatu yang dia lihat. Mereka butuh informasi yang benar dan lurus, termasuk masalah seks.

Pernahkah orangtua bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita penuhi hak anak-anak? Sudahkah kita mendengar perasaan mereka? Sudah cukupkah kita memberi bekal kepercayaan diri yang benar pada mereka? Bukankah bekal kepercayaan diri mereka sudah banyak kita curi dengan cara pendidikan yang salah?

Orangtua masih bersikap double bounce (plin-plan) pada anak. Suatu saat dibolehkan, tapi pada saat lain dilarang. Dampaknya anak merasa tidak mampu, tidak berharga, sehingga gampang dipengaruhi. Pendidikan agamanya mestinya dari orangtua sendiri. Dari sini saya berfikir, berat benar pekerjaan orangtua sekarang ini.

Apakah keadaannya memang sudah segawat itu?

Iya. Sekarang ini kepala si anak seperti dipanah dari segala penjuru; dari atas, bawah, kiri, kanan dan belakang. Mereka dituntut macam-macam. Prestasilah, ranking, dan macam-macam. Padahal Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi kita menuntut berlebihan, seperti harus mendapatkan ranking. Itu artinya semua mata pelajaran harus bagus. Padahal tidak semua mata pelajaran harus bagus. Ada yang kuat matematikanya, bahasanya, atau seninya. Dalam teori multiple intelligents, cerdas itu macam-macam. Ada cerdas angka, cerdas ruang, dan cerdas gerak. Kita harus tahu itu.

Orangtua harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya. Jika menuntut berlebihan maka membuat anak tak terpenuhi haknya. Itu baru satu panah, dari orangtua. Lalu sekolah, guru-gurunya, lingkungannya, dan semuanya “memanah” dia. Lalu ada tawaran baru dalam bentuk pornografi. Banyak beredar komik porno, VCD porno, internet porno, narkoba, ajakan berantem.

Ada orangtua yang merasa tak tega bila anaknya tak mengikuti perkembangan kemudian anaknya dibelikan HP berkamera. Apa akibatnya? Anak-anak itu kemudian bukan hanya mengirim SMS porno, tapi juga MMS (foto) porno.

Pengaruh itu tampaknya tak terbendung, begitu?

Saya berani bilang, anak kita menjadi sasaran industri seks internasional. Silakan buka situs international media watch di Amerika. Di situ ada tulisan tentang The Drug of the New Millennium. Di situ saya memperoleh informasi bahwa memang di sana memproduksi film, VCD, dan komik porno. Film-film itu dibuat sangat murah dengan bintang film yang tidak terkenal. Kemudian dilempar ke sini. Itu bisa mencuci anak kita empat hal.

Satu, dasar-dasar kepercayaan, bahwa seks itu fun, “Kamu butuh, jangan sok alim.” Lalu, harga diri. “Kalau sudah terima uang sekian boleh pegang, lebih banyak lagi bisa cium, lebih banyak lagi boleh hubungan badan.” Itu terjadi karena harga diri tidak ada. Kenapa? Karena di rumah waktu belajar pasang tali sepatu dibentak. “Lama amat, sini Mama bantuin!” Anak tidak pernah punya kepercayaan pada kemampuannya. Dari situ asalnya, jadi ketika sudah gede dia tak pernah merasa dirinya berharga. Ketiga, sikap yang negatif dibuat jadi positif. “Bukan pacaran kalau kamu tidak ada sentuhan fisik”. Emosinya dibuat jadi kacau.

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8957:antara-orangtua-dan-tontonan-anak&catid=115:elly-risman&Itemid=82

Written by danang

24 August 2009 at 16:40

Posted in Catatan

Tagged with