Weblog Danang

catatan kecilku

Peringatan Badan POM tentang wadah makanan dari plastik

leave a comment »

Berikut ada peringatan dari Badan POM tentang penggunaan plastik sebagai wadah makanan, semoga bermanfaat.

  1. Kantong Plastik “Kresek”
  2. Plastik PVC

Written by danang

15 July 2009 at 17:13

Posted in Catatan

Tagged with

Pemerintah China Larang Muslim Uighur untuk Sholat di Masjid

leave a comment »


Kekejaman dan diskriminasi yang dilakukan oleh rejim pemerintahan China terus berlanjut, setelah beberapa waktu kemarin banyak warga Muslim etnis Uighur yang tewas akibat bentrokan dengan etnis Han, pemerintah juga melakukan pelarangan bagi warga etnis Muslim Uighur untuk sholat di dalam masjid sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

“Masyarakat datang ke masjid untuk sholat namun semuanya harus kembali pulang dan melakukan sholat dirumah saja. Terima kasih atas kerja samanya,” kata seorang penjaga yang menjaga di depan pintu masjid Qinghai di distrik Tianshan.

Umat Islam berkumpul untuk sholat di masjid namun harus kecewa, bahkan marah, jika mereka tidak diijinkan untuk melakukannya di dalam masjid.

“Kami masih tidak tahu apakah besok kami masih dapat masuk ke masjid untuk sholat,” kata Bai Ping seorang etnis Han yang telah masuk Islam.

Pelarangan itu datang setelah pemerintah polisi China menahan 1434 etnis muslim Uighur dua hari setelah terbunuhnya 156 demonstran dan melukai lebih dari 1000 orang sejak etnis Muslim Uighur memulai demonstrasi di pusat kota Urumqi.

Serangan terhadap pekerja etnis Uighur di sebuah asrama dari pabrik mainan di China selatan provinsi Guandong oleh etnis Han, menewaskan dua orang dan melukai 118 orang sehingga menimbulkan aksi massa.

Belum ada kejelasan apakah masjid juga akan ditutup pada hari Jumat ini di Urumqi, sewaktu akan pelaksanaan sholat Jumat.

Hukuman Mati

Pada hari Kamis kemarin, ribuan pasukan pemerintah China melakukan penjagaan di jalan-jalan yang ada di kota Urumqi, ibu kota dari Turkistan Timur.

Helikopter terbang berkeliling beberapa meter dari atas atas-atap rumah penduduk sambil menyebarkan liflet propaganda, mendesak supaya kedua etnis yang berseteru untuk bersatu. Sementara itu pasukan keamanan dengan bersenjata lengkap dan tameng juga ikut berjaga di dalam truk-truk tentara.

Pemerintah rejim komunis China mengganti nama wilayah tersebut menjadi ‘Xinjiang’ pada tahun 1955, dan secara resmi menyebut wilayat itu dengan nama ‘wilayah otonomi Uighur Xinjiang’.

Presiden China Hu Jintao, yang sedang mengikuti acara pertemuan G8 di Italia, mengatakan bahwa menjaga stabilitas sosial keamanan di daerah yang kaya-energi tersebut adalah “tugas paling mendesak,” seperti dilaporkan stasiun televisi negara pada Kamis kemarin.

Li Zhi pimpinan dari partai Komunis China di Urumqi mengatakan bahwa dia akan menghukum mati bagai para perusuh yang melakukan pembunuhan di kota yang terbagi menjadi dua, etnis Uighur dan Han.”(fq/wb)

http://eramuslim.com/berita/dunia/pemerintah-china-larang-muslim-uighur-untuk-sholat-di-masjid.htm

Written by danang

13 July 2009 at 15:13

Posted in Catatan

Waspadai ‘Hidden Agenda’ Facebook!

leave a comment »

Mengapa lebih suka facebook ketimbang blog? Mengapa lebih “ikhlas” habiskan waktu di depan laman facebook ketimbang blog? FB lebih mengasyikan dari blog? FB ‘gak perlu mikir dalem, ‘gak perlu pinter, beda ama blog yang kudu mikir?

Warga dunia yang berakses internet kini terjangkit wabah “virus” Facebook. Situs “pencari teman” made by Mark Zuckerberg itu pun kini tengah naik daun dan nangkring di jajaran papan atas, bahkan posisi teratas, dalam daftar situs terpopuler di dunia. Data yang dirilis oleh Comscore menyebutkan, situs “jejaring sosial” (social networking) ini menarik sekitar 115 juta pengunjung per bulan. Bahkan, pada November 2008 FB berhasil menyedot 200 juta pengunjung unik dari seluruh dunia.

Hingga Maret 2009 saja, sebagaimana dilansir New York Times, FB resmi memiliki 200 juta anggota. Jumlah itu tentu akan terus bertambah. “Dua ratus juta dari enam miliar orang di dunia itu kecil,” kata pendiri FB, Mark Zuckerberg. Lebih dari 70 persen pengguna berasal dari luar Amerika Serikat. New York Times menyebut Indonesia, Republik Ceko, dan Italia sebagai contoh.

Situs pemeringkat web, Alexa, menempatkan Facebook di posisi teratas (paling sering diakses) oleh pengguna internet di Indonesia. Menurut Alexa, Indonesia merupakan sumber pengunjung terbesar ke-5 bagi FB setelah AS, Inggris, Prancis, dan Italia.

FB hadir di jagat maya sejak diluncurkannya pada 4 Februari 2004. Perkembangannya dari tahun ke tahun luar biasa dan kian kian populer tatkala Barack Obama memanfaatkan jejaring sosial ini untuk kampanyenya sejak 2007. Hingga Juli 2007 saja, pengguna FB mencapai 34 juta. Hingga akhir tahun 2007, para penggunanya sudah mencapai 60 juta org.

Situs ComScore Inc. memosisikan FB sebagai salah satu situs terpopuler di dunia sepanjang 2007. Tahun lalu, masih menurut ComScore, FB (jumlah pengunjung 200 juta) dikalahkan Blogger (222 juta), namun masih unggul dibandingkan MySpace di peringkat 3 (126), dan WordPress (114).

Menurut ensiklopedia virtual, Wikipedia, pada 2008 FB merupakan situs nomor satu di dunia. Demikian pula untuk foto, situs ini sudah mengungguli situs lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.

Situs Quantcast.com menempatkan FB di peringkat kelima situs terpopuler di Amerika –setelah Google (140M+ U.S. monthly people), MSN (122M+), Live, dan Yahoo (119M+). Namun, FB mengalahkan popularitas Wikipedia (6/72M+) dan Youtube (7/71M+). Jauh di bawahnya ada situs “induk” para blogger, Blogspot (13/49M+) dan WordPress ( 21/29+).

Di Indonesia, FB adalah situs juara. Tahun lalu, situs pemeringkat web, Alexa menempatkan FB di peringkat 11. Namun, kini Alexa menempatkan FB pada urutan pertama dalam daftar situs paling banyak dikunjungi. FB mengalahkan popularitas Google.co.id (peringat 2), Yahoo.com (3), Google.com (4), Blogger (5), Friendster (6), Youtube (7), dan WordPress (8). Data terbaru bisa Anda cek sendiri di Alexa.com.

Diperkirakan, FB kini melibas popularitas milis yang dulu populer dan tengah pelan-pelan “membunuh” blog. Diperkirakan pula, kini banyak blogger berguguran karena terjangkit virus FB. Para blogger mulai jarang menulis di blognya, tapi lebih asyik sekadar update status di FB. Nulis di FB memang tidak mesti “seserius” di Blog. Anda sakit perut saja, tinggal tulis di wall: Aduh cakit perutzzz…., maka berdatanganlah komentar dari kawan Anda: “Duh kacian…!” dan sebagainya.

Jagad blog tampaknya harus siap-siap gulung tikar (?). FB kini tampaknya menjadi pilihan utama, baik sekadar untuk “bernarsis ria”, “caper” (cari perhatian), say hello, mengabari kawan-kawan, hingga berdiskusi dan berpromosi. Popularitas FB utamanya karena aplikasi atau fasilitas yang ditawarkannya. Di FB bisa meng-upload foto dan catatan dari kamera telepon langsung; mengurutkan daftar kontak ke dalam grup, seperti classmates, schoolfriends, teman-teman kerja, kawan lama, de el el.

FB memang benar-benar dahsyat. Dibandingkan blog, FB lebih praktis, tidak perlu menulis panjang yang juga berarti tidak perlu mikir serius. Tampaknya, kehadiran FB bukan sekadar pelan-pelan membunuh blog, tapi juga membunuh kreativitas blogger!

Sebelum terjangkit virus FB, blogger harus berpikir keras, menemukan ide tulisan (posting), lalu mencari data dan informasi guna pengembangan ide, menganalisis, mengintrepretasi, lalu menuangkan dalam sebuah tulisan. Kini, di FB, ide “seremeh” apa pun bisa langsung di-upload dan dikomentari pula oleh kawan-kawannya!

Jadi, FB memang lebih asyik bagi umat manusia yang “malas” atau bahkan “tidak mampu” berpikir. Namun, FB juga asyik bagi “manusia serius” dengan intelektualitas tinggi sekalipun! Di FB Anda bisa menyapa sekaligus “mengintip” aktivitas kawan-kawan hanya dalam satu halaman.

Sebagai “guru menulis”, saya gembira dengan kehadiran blog yang dapat menciptakan budaya menulis. Ketika virus FB mewabah, saya pun sedih karena FB telah mematikan budaya menulis! Mahasiswa lebih suka buka FB ketimbang blognya atau membuka situs informasi. Narsisme, tebar pesona, bahkan “syirik kecil” (riya’pun membudaya.

Saya sendiri pengguna FB dengan dua tujuan. Pertama, sekadar menemukan dan menyapa kawan-kawan lama masa kuliah (silaturahim). Kedua, sarana promosi blog. Ternyata, kawan-kawan saya lebih suka kasih komentar di FB ketimbang di posting blog.

Jadi, FB baik sebagai ajang silaturahim. Namun, waspadai “hidden agenda” FB yang bisa mematikan kreativitas berpikir, kreativitas menulis, dan membudayakan “lagha” (kesia-siaan), “lahwun”, dan “la’ibun” (main-main). Salah satu kebaikan seorang Muslim, kata Nabi Saw, yaitu tidak melakukan pekerjaan yang ‘gak penting alias ‘gak ada manfaatnya. Begitu ‘kan, Ustadz?

Bahkan, simak “temuan” kawan-kawan kita di eramuslim: “Facebook Mulai Tunjukkan Watak Aslinya” –anti dengan hal-hal yang berhubungan dengan Jihad dan Islam. FB menghapus beberapa account yang selalu gencar menyuarakan Islam dan jihad, salah satunya grup Cyber Jihad Community yang dibuat oleh Muhammad Jibriel Abdul Rahman (nick name Prince of Jihad) yang juga pimpinan Ar-Rahmah Media. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

http://warnaislam.com/blog/jurnalistik/2009/7/2/39060/Waspadai_Hidden_Agenda_Facebook.htm

Written by danang

6 July 2009 at 16:36

Posted in Catatan

Tagged with

Pekerja TI: Jabatan Keren, Gaji Pas-pasan

leave a comment »

Penulis: Dimitri Mahayana – detikinet

Kolom Telematika – “Iya nih gaji IT Indo ironis, jauh banget dibanding gaji IT luar, gw aja ditertawain dengan gaji indo ma orang luar, ironis deh, (NH).”

“Operator warnet aja cuma digaji Rp 300 ribu, sudah kerja 10 tahun tapi perusahaan tidak care (Aroep Manhattan).”

Demikian bunyi beberapa dari banyak komentar pembaca detikINET atas berita yang ditulis 8 Mei lalu, berjudul: “SDM IT Lari ke luar negeri, Pemerintah Diminta Waspada”.

http://www.detikinet.com/read/2009/05/25/100603/1136503/328/pekerja-ti-jabatan-keren-gaji-pas-pasan
Keluh kesah di atas, rasanya, bukan sekali-dua kali terdengar. Sudah sejak lama, praktisi teknologi informasi (TI) di Indonesia memang diperlakukan minim, sangat timpang dengan apa yang diterima teknisi serupa negara tetangga.

Hasil survei kami tahun lalu menunjukkan, gaji seorang system developement di Indonesia mencapai US$4.808 per tahun alias sekitar Rp52 juta atau Rp4,4 juta per bulan. Padahal, tugas mengembangkan sistem TI, tentu rumit bukan main.

Bandingkan untuk posisi serupa di India US$11.805, Malaysia (US$17.651), Filipina (US$10.545), Thailand (US$17.545), India (US$11.805), Singapura (US$35.245), Hongkong (US$46.769), dan Australia (US71.484).

Untuk posisi project management pekerja TI, remunerasi yang diperoleh di Indonesia US$8.580. Angka ini separuh dari jabatan yang sama di India, 1/6 di Singapura, dan 1/10 di Australia (Daftar lengkap, lihat tabel di bawah).

Akan tetapi, bagaimanapun, berkeluh kesah saja tidak cukup. Demi progresivitas dan visi perbaikan yang kontinyu, alangkah baiknya jika apreasiasi kurang ini justru dijadikan momentum intropeksi.

Kita awali soal mengkaji diri ini dengan melihat hasil survei Sharing Vision kepada 24 responden dan 14 perusahaan pada April lalu menunjukkan, 43% sumber daya TI yang ada dinilai kurang kompoten.

Selain tidak kompeten, 14% responden juga mengaku memiliki sumber daya TI yang tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi. Karenanya, 14% dari mereka merasakan tingkat turnover pekerja TI yang tinggi di perusahaan.

32% responden mengaku pula sulitnya mencari tenaga ahli TI anak bangsa di tanah air–hal yang kemudian memicu banyaknya konsultan bermata biru di tanah air yang bayarannya berkali-kali lipat tadi.

Secara teknis-administratif, pekerja TI di Indonesia yang telah memiliki sertifikasi baru mencapai 28,60% sementara sisanya belum memiliki karena masih ada anggapan tidak pentingnya sertifikasi semacam CCNA, MCP, PMP, dan lainnya.

Padahal, mengacu survei HR Certification Institute 2008, pekerja TI yang sudah tersertifikasi tadi, terbukti memberi dampak positif pada finansial perusahaan dan otomatis membuat mereka lebih dipercaya perusahaan.

Dengan demikian, mengacu hasil-hasil riset tadi, remunerasi yang minim ini, ternyata banyak disebabkan pula oleh belum tingginya tingkat kompetensi yang dimiliki. Kemampuan yang ada belumlah optimal.

Remunerasi rendah, sedikit-banyak, disumbangkan oleh belum tajamnya kompetensi yang dimiliki yang membuat ketergantungan sumber daya eksternal masih ada, misalnya. Akibatnya, daya tawar pekerja TI belum begitu tinggi.

Kalau mau jujur, belum optimalnya kemampuan ini sendiri mayoritas ‘disumbangkan’ perusahaan tempat mereka bernaung. Betapa tidak. Alokasi anggaran training perusahaan mayoritas hanya di angka kurang dari 3% dari bea divisi TI.

Perusahaan masih tampak ogah mengeluarkan biaya besar dalam meningkatkan kemampuan pekerja TI. Alih-alih meningkatkan kemampuan, mereka lebih berharap karyawan mau belajar otodidak yang serba gratis.

Maka, daripada terus berkubang dalam komplain remunerasi, sudah seharusnya pekerja TI (sekaligus perusahaannya) tak berhenti memperbaiki kompetensi miliknya, sehingga ke depan tak ada lagi kisah satir pekerja TI: Jabatan keren, gaji pas-pasan!

Dimitri Mahayana adalah dosen ITB dan Chief of SHARING VISION. Penulis bisa dihubungi melalui email redaksi@detikinet.com.

Written by danang

25 May 2009 at 10:24

Posted in Catatan

Komunikasi Politik PKS

leave a comment »

Sapto Waluyo
(Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform)

Sejumlah partai telah melakukan rapat pimpinan tingkat nasional pekan lalu untuk menyongsong pemilihan presiden. Satu di antaranya mendapat sorotan luas, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menggelar musyawarah Majelis Syura untuk menentukan arah koalisi. PKS menjadi perhatian karena berhasil menempati ranking keempat dalam percaturan nasional dengan perolehan suara 8,2 persen, menurut tabulasi sementara KPU. Tak pelak, PKS menjadi partai berideologi Islam terbesar di Tanah Air dan berpeluang tinggi mendampingi Partai Demokrat dalam pemerintahan mendatang, di samping partai berbasis massa Islam lain: PAN dan PKB.

Yang unik dari PKS adalah hasil pembahasan 96 anggota Majelis Syura yang hadir tentang calon wakil presiden, dimasukkan dalam amplop tertutup dan akan disampaikan secara langsung kepada calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketua Majelis Syura, KH Hilmi Aminuddin, menyatakan cara itu ditempuh untuk menjaga ‘kesantunan dalam berpolitik’ dan demi menghindari kegaduhan politik yang sudah melanda sejumlah partai besar. Sebenarnya, selain membahas alternatif kepemimpinan nasional, PKS juga melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pemilu dan mempersiapkan kontrak politik menyangkut masalah kedaerahan, politik domestik, internasional, manajemen koalisi, danpower sharing. Perlu dicatat, penyusunan draf kontrak tidak menandakan PKS bersikap pragmatis karena pada Pemilu 2004, PKS juga melakukan kontrak dengan SBY. Bisa dikatakan, PKS memelopori suatu tradisi penting dalam kancah politik nasional. Sayang sekali, inisiatif genuin itu tak dicerna publik luas karena tenggelam oleh manuver dan pernyataan elite PKS yang memancing kontroversi. Masyarakat jadi menangkap kesan keliru dari penampilan partai yang lahir di era reformasi itu. Misalnya, berkaitan dengan rencana koalisi pascapemilu legislatif, saat PKS melakukan pendekatan dengan PD, ternyata petinggi Partai Golkar punya maksud sama. Tiba-tiba tokoh PKS, Anis Matta, mengancam akan meninggalkan koalisi, karena duet SBY-JK dinilai telah gagal menjalankan pemerintahan selama lima tahun ini. JK dipandang sebagai matahari kedua dalam pemerintahan dan Golkar yang bergabung paling akhir dalam Kabinet Indonesia Bersatu justru lebih dominan mengarahkan kebijakan pemerintah. Sering sekali PKS diabaikan dalam penentuan kebijakan yang krusial, seperti kenaikan harga BBM dan impor beras.

Pernyataan Anis serta-merta disanggah Tifatul Sembiring yang menyebut, hal itu hanya pandangan pribadi karena format koalisi masih diperbincangkan dengan semua mitra lain. Sanggahan yang terlambat karena citra publik telah terbentuk bahwa PKS berperilaku bak debt collector yang main ancam demi mencapai kepentingan politiknya. Padahal, sebelum pemilu, justru PKS yang mengundang JK berdiskusi di markas besarnya dan mendukung penuh keberanian JK untuk mencapreskan diri. Bila tokoh PKS tidak menyadari efek masif yang terjadi melalui media massa dan jaringan internet, hal itu sungguh naif. Setiap pernyataan dan manuver elite PKS ternyata tak diukur manfaat dan mudharatnya terlebih dulu.

Sehingga, tatkala Golkar (lebih tepatnya: JK) memutuskan hubungan sepihak dengan PD (lebih pas: SBY), lalu fungsionaris PD mengungkapkan keterkejutannya maka segenap telunjuk menuding PKS sebagai biang keladi dari kekisruhan tingkat tinggi itu. Padahal, yang terjadi bisa saja karena chemistry SBY-JK telah kehilangan daya rekatnya dan gejala keretakan tak bisa ditutupi lagi. Sama sekali tak ada hubungannya dengan PKS bila elitenya tidak bertingkah di luar kontrol.

Belum pupus isu penolakan PKS terhadap Golkar dari ingatan publik, muncul lagi pernyataan Mahfud Sidik yang menegaskan PKS tidak akan mengajukan kadernya sebagai cawapres pendamping SBY. Karena itu, PKS mengusulkan figur nonpartai. Ini seperti merendahkan posisi PKS sendiri, betapa manuver berkoalisi tanpa daya tawar yang memadai, sementara partai lain dengan posisi politik lebih rendah berani mengajukan proposal lebih tinggi. Lagi-lagi celoteh Mahfud itu dibantah oleh kader PKS di berbagai daerah yang menyatakan dukungan terbuka kepada kader terbaik PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW), agar bersiap diri mendampingi SBY sebagai cawapres. Dukungan publik lebih luas datang dari 200 ulama Madura, aktivis LSM di Medan, dan sejumlah tokoh nasional yang tidak meragukan kredibilitas HNW. Bahkan, exit poll yang dilakukan LP3ES pada 9 April 2009 menyimpulkan pasangan SBY-HNW didukung 20,8 persen responden, mengungguli SBY-JK yang meraih 16,3 persen dan SBY-Akbar Tandjung yang hanya memperoleh 5,4 persen dukungan.

Masih belum puas, ada lagi pernyataan Fahri Hamzah yang membuat kening berkerut. Setelah Golkar memutuskan hubungan dengan PD dan JK diberi mandat sebagai capres, Fahri justru mengutarakan PKS akan membuka komunikasi dengan semua partai. Fahri meyakinkan bahwa ketua Majelis Syura PKS dalam waktu dekat akan bertemu dengan JK. Kali ini bantahan datang langsung dari ketua Majelis Syura sendiri yang menyatakan rencana pertemuan memang pernah diutarakan sejak lama, tapi tak ada kecocokan waktu. Dan, saat ini sudah sibuk semua sehingga tak mungkin dijadwalkan ulang. Kejadian ini untuk yang kesekian kalinya membingungkan publik, termasuk kader dan konstituen PKS yang memiliki akses komunikasi terbatas.

Ketiga contoh itu mencerminkan betapa buruknya komunikasi politik sebagian elite PKS. Bila mereka orang biasa mungkin dampaknya tidak akan terasa, tak ada satu pun media yang akan mengutipnya. Tapi, seorang sekretaris jenderal (Anis) yang berbeda pandangan dengan presiden partai (Tifatul), ketua Fraksi di DPR (Mahfud) yang mengabaikan aspirasi kader dan pengurus di sejumlah daerah, serta public reasoning yang menghendaki regenerasi kepemimpinan nasional, termasuk humas Fraksi (Fahri) yang mem-fetakompli ketua Majelis Syura, ini sudah di luar batas kewajaran.
Evaluasi total dan otokritik tuntas perlu dilakukan, bila PKS tetap ingin menjaga jati dirinya sebagai ‘Partai Dakwah’. Inti dakwah adalah nasihat: untuk menegakkan perintah Allah dan rasul-Nya, mengingatkan para pemimpin dan membimbing masyarakat awam. Jika semua pernyataan dan manuver itu dibiarkan berlalu begitu saja tanpa corrective action, yang memadai dan kemampuan untuk belajar dari kesalahan sekecil apa pun, kapasitas PKS sebagai learning organization mulai diragukan. Suatu hari akan ada pernyataan dan manuver elite yang lebih kontroversial, lalu dampak buruknya tidak bisa dikendalikan lagi.

Sesungguhnya, PKS telah ‘dihukum’ publik dan pemilih yang kritis dengan ‘kekalahan’ di Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, dan kota-kota besar lain. Pertambahan suara PKS berasal dari pelosok desa di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan wilayah luar Jawa (terutama Sumatra dan Sulawesi). Para pemilih pedesaan itu tak terkena efek negatif dari ‘jurus dewa mabuk’ sebagian elite PKS dan iklan yang warna-warni.

Akibatnya, target nasional 20 persen suara masih terlalu jauh dari jangkauan karena kesalahan strategi. Bahkan, prediksi yang realistik 12-15 persen suara pun tak tercapai. Terlalu besar ongkos yang dikeluarkan untuk manuver tak terkendali, dengan risiko tak terpikirkan sebelumnya.

Karena itu, sikap Majelis Syura untuk mengembalikan kesantunan berpolitik PKS patut didukung. PKS kini menjadi salah satu aset nasional yang amat bernilai. Dari sinilah akan diuji: Apakah cita-cita reformasi 11 tahun lalu masih mungkin diwujudkan? Dan, bisakah konsolidasi demokrasi demi pencapaian kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat dimulai setelah tiga kali pemilu? Hanya elite politik yang matang bisa menjawab tantangan ini.

http://www.republika.co.id/koran/24/47641/Komunikasi_Politik_PKS

Written by danang

6 May 2009 at 16:02

Posted in Catatan

Tagged with